Sabtu, 30 Maret 2013

Diklat Prajabatan Golongan 2 Angkatan 35 Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2012


Mahasiswa Modal Dengkul (PGSD UNDERCOVER 4)

Dunia mahasiswa memang dunia yang mengasyikan. Selama 4tahun menjadi mahasiswa, sudah banyak sekali suka duka yang saya rasakan. Dari mulai pusing gara-gara banyak tugas sampai pusing gara-gara krisis financial. Itu dukanya, kalau sukanya mungkin jadi bisa punya banyak teman.

Sewaktu masih kuliah saya mempunyai banyak sekali teman dengan berbagai karakteristik. Ada yang jenius, ada yang pemalas, ada yang pemalu, ada yang gokil, ada yang dandananya selalu trendi, ada yang nyleneh, dan ada pula loh yang cuma modal dengkul.

Mahasiswa modal dengkul banyak saya jumpai di kampus tempat saya menimba ilmu dulu. Mahasiswa seperti ini sebenernya serba pas-pasaan. Otak pas-pasan, tampang pas-pasan, bahkan dompetpun juga pas-pasan.

Namun anehnya mahasiswa jenis ini prestasi akademiknya tergolong bagus dan memuaskan. Yah kalau untuk IPK tidak kurang dari 2,75. Awalnya saya sempat kaget kenapa bisa seperti itu. Dan ternyata setelah saya amati, semua itu tak lepas dari kehebatan berstrategi.

Mahasiswa modal dengkul punya strategi yang cukup jitu untuk meraih prestasi yang memuaskan. Strateginya sebenernya sangat sederhana, namun terbukti ampuh. Mereka cukup mendekati salah satu cewe rajin yang ada di kampus, terus menjadikan mereka pacar. Setelah itu baru dech mulai cuap-cuap.

Kebanyakan mahasiswa cewe memang rajin-rajin banget. Mereka rajin mengerjakan tugas dari dosen. Inilah yang selalu dimanfaatkan oleh mahasiswa modal dengkul. Mahasiswa modal dengkul tidak pernah mengerjakan tugasnya sendiri. Mereka selalu minta tolong pacarnya untuk mengerjakan. Jadi seberat apapun tugas dari dosen pasti akan selesai tepat waktu.

Dan bukan cuma minta tolong mengerjakan tugas dari dosen. Mahasiswa modal dengkul biasanya juga minta tolong pacarnya untuk mengerjakan soal pas ujian. Yah minim-minimnya pacarnya dijadikan sumber contekanlah.

Jadi setelah mengetahui ini semua saya sudah tidak kaget lagi kenapa prestasi mahasiswa modal dengkul cukup bagus dan memuaskan. Cukup menggelikan memang, tapi itulah mahasiswa. Punya style dan gayanya sendiri-sendiri.

Dosen Cabul (PGSD UNDERCOVER 3)

Ini adalah seri ke-3 dari tulisan saya yang berjudul “PGSD UNDERCOVER”. Pada kesempatan kali ini saya akan membahas salah satu karakter dosen yang ada di PGSD FKIP UNS KAMPUS VI KEBUMEN.

Ada salah satu karakter dosen yang cukup unik di kampus tempat saya menimba ilmu dulu. Walaupun karakternya cenderung negatif. Karakter yang saya maksud adalah karakter “Dosen Cabul”. Saya tidak akan menyebutkan siapa nama dosen tersebut, karena saya menghormati yang namanya kode etik. Dan saya menulis tulisan ini juga bukan bermaksud untuk membeberkan aib seseorang. Di sini saya cuma pingin menyampaikan fakta seputar PGSD yang mungkin tidak diketahui oleh dunia luar.

PGSD FKIP UNS KAMPUS VI KEBUMEN yang terkenal sebagai pabrik pencetak calon guru ternyata mempunyai dosen gebleg. Dosen yang mempunyai otak cabul. Dosen tersebut adalah seorang laki-laki yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Tapi aneh, walaupun sudah berkeluarga dan mempunyai anak beliau ini masih saja hobi mendekati mahasiswi-mahasiswi yang cantik-cantik.

Suatu saat saya pernah menjumpai beliau sedang duduk berhimpitan dengan seorang mahasiswi di lobi kampus. Dan pernah juga saya melihat beliau berjalan dengan seorang mahasiswi sambil merangkulnya.

Saya tidak begitu kaget dengan pemandangan tersebut. Karena itu terjadi bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Perlakuan dosen tersebut sangat spesial kepada para mahasiswi, terutama kepada mahasiswi yang cantik-cantik dan berpenampilan menarik.

Dulu waktu saya masih kuliah di situ, saya mempunyai seorang teman mahasiswi yang boleh dibilang cantik dan berpenampilan cukup menarik. Dia mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan sang dosen. Kalau menurut saya sebenernya dia sih tidak begitu pintar. Tapi dia nilainya selalu bagus untuk mata kuliah yang diajarkan oleh sang dosen cabul.

Otaknya yang sangat cabul ternyata membuat pola pikir dosen tersebut tidak objektif. Siapa saja yang cantik-cantik dan dekat dengan dosen tersebut pasti akan mendapatkan nilai yang bagus. Walaupun sebenernya mahasiswa tersebut tidak begitu pintar. Nilai A adalah suatu bayaran bagi mahasiswa cantik dan berpenampilan menarik yang mau dekat dengan sang dosen cabul.

Selain hobi mendekati mahasiswi yang cantik-cantik, ternyata sang dosen juga mempunyai hobi lain yang cukup unik. Beliau hobi sekali mengumpulkan “File Fakir Miskin” dari para mahasiswanya.

“File Fakir Miskin” adalah istilah yang dia ciptakan sendiri. File fakir miskin artinya adalah file yang isinya orang-orang yang sangat miskin atau orang-orang yang tidak mempunyai baju dan busana. Pasti para pembaca sudah tau apa yang saya maksud.

Ada seorang kakak kelas yang pernah bercerita kepada saya. Katanya kalau dia ketemu dengan sang dosen pasti selalu dimintai file fakir miskinnya. Pernah saya melihat dia pulang dari kampus dan saya tanya dia habis ngapain di kampus. Dan dia menjawab “habis setor file fakir miskin kepada pak dosen”. Jadi bisa dipastikan sang dosen cabul menyimpan banyak sekali file fakir miskin di laptopnya.

Tak Tahan Kritik (PGSD UNDERCOVER 2)

Saya adalah alumni D2 dan S1 PGSD FKIP UNS KAMPUS VI KEBUMEN. Saya lulus D2 tahun 2009 dan kemudian langsung melanjutkan atau transfer ke S1 pada tahun itu juga. Dan akhirnya pada bulan Juli tahun 2011 saya dinyatakan lulus S1. Sebagai seorang alumni saya selalu mengamati perkembangan kampus dan juga para mahasiswanya.

Saya cukup kaget melihat kualitas adik-adik kelas yang sekarang. Saya sering mendapat masukan dari teman-teman guru yang sekolahnya dijadikan sebagai tempat praktek mahasiswa PGSD. Kata mereka kualitas mengajar mahasiswa S1 PGSD jaman sekarang tidak lebih baik dari mahasiswa D2 jaman dulu. Dengan sistem perkuliahan yang sekarang, membuat mereka selalu dijejali dengan banyak materi dan teori namun kesempatan untuk melakukan praktek sangat minim. Sehingga kalau mereka disuruh praktek di lapangan, akan kelihatan sangat kacau dan amburadul.

Melihat keaadan yang demikian tentu saya sebagai seorang alumni tidak akan diam saja. Saya pingin adik-adik saya yang sekarang bisa menjadi produk lulusan PGSD yang lebih baik dan berkualitas. Saya mencoba memberikan kritik terhadap mereka melalui sebuah grup yang ada di Facebook. Grup tersebut namanya HIMA PGSD FKIP UNS KAMPUS VI KEBUMEN. Grup tersebut memang awalnya terbuka untuk umum. Siapa saja diberi kesempatan untuk masuk ke grup tersebut.

Dan di grup tersebut semua berhak melakukan apa saja. Termasuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan kegiatan kampus, seperti: promosi jualan pulsa, promosi jualan blangkon, membuat postingan alay, dan sebagainya. Yeach cukup memprihatinkan memang. Tapi yang paling membuat saya bersedih adalah mind set mereka yang tidak open minded terhadap kritik. Terutama mahasiswa-mahasiswa yang punya jabatan di kepengurusan HIMA. Saat saya mencoba memberikan kritikan terbuka dan membangun ternyata mereka menyikapinya dengan serampangan. Mereka malah menganggap saya sedang membuat kekacauan di grup. Dan akhirnya saya pun dikeluarkan dari grup tersebut. Padahal saya memberikan kritikan bukan untuk mengacaukan grup. Tetapi saya pingin memberikan pembelajaran kepada mereka agar mereka bisa merubah sikap dan bisa menjadi lebih baik lagi. Di situ saya bicara fakta dan realita. Orang yang pingin maju dan berkembang harusnya bisa open minded terhadap kritik. Bukanya malah berfikir picik dan serampangan. Apapun kritikan yang diberikan kepada kita, harusnya kita bisa menerimanya dengan hati terbuka. Apa lagi kalau niat dari si pengkritik itu baik dan tulus. Walaupun bentuk kritikanya agak sedikit menusuk hati. Tapi apapun itu bukankah kita tidak boleh menilai segala sesuatu dari artifisialnya saja? Kita harus menilai secara maknawi.

“Guru yang tidak tahan kritik boleh dimasukan ke dalam tong sampah. Tidak ada manusia yang sempurna. Guru bukanlah dewa yang selamanya benar. Dan murid juga bukan kerbau.”
¤Soe Hok Gie¤

PGSD UNDERCOVER






13523156522015987758

Nama saya Rahman Mourinho. Saya adalah seorang Playmaker (Baca Guru). Saya adalah Sarjana Pendidikan Jebolan PGSD FKIP UNS KAMPUS VI KEBUMEN TAHUN 2011. Saya menimba ilmu di kampus tersebut selama 4 tahun. 4 tahun adalah waktu yang cukup lama. Selama berada di sana sudah banyak sekali kisah dan cerita yang saya ukir.

Ada cerita yang menyenangkan, menyedihkan dan juga cerita yang lucu. Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan sedikit fakta tentang PGSD yang mungkin jarang diketahui orang. Ada 2 buah fakta yang ingin saya sampaikan di sini. Yaitu fakta tentang mahasiswa dan fakta tentang dosen PGSD.

Ada fakta menarik tentang mahasiswa PGSD. Copy Paste adalah salah satu kebiasaan yang sering dilakukan oleh mahasiswa PGSD. Selain kebiasaan tersebut juga ada kebiasaan lain yang cukup nyleneh. Yaitu kebiasaan tidur di kelas saat jam kuliah. Ada lagi fakta yang cukup mencengangkan dari mahasiswa PGSD. Banyak sekali mahasiswa PGSD yang hobi mengibuli orang tua sendiri. Yang mereka kibuli adalah masalah uang registrasi atau SPP kuliah. Biaya sebenarnya cuma 2,4jt tapi mereka melaporkanya ke orang tua biasanya sekitar 4jt’an.

Selain mahasiswanya yang unik, PGSD KEBUMEN juga mempunyai dosen-dosen yang unik. Ada bermacam-macam karakter dosen di PGSD. Ada dosen yang kejam, ada dosen yang pemalas, dan ada juga dosen yang cabul.

#Bersambung

Ekspedisi Berandal Malam (Menentukan Arah)

Saat menjelang akhir masa SMA, saya mulai dipusingkan oleh sesuatu. Saya selalu sibuk untuk memikirkan mau ke mana setelah saya lulus SMA? Lalu munculah sebuah jawaban yaitu “Kuliah”. Setelah satu pertanyaan terjawab, muncul lagi pertanyaan berikutnya. Yaitu mau kuliah di mana?

Itu pertanyaan yang tidak mudah bagi saya. Dan saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu sendiri. Akhirnya saya mencoba berdiskusi dengan orang tua untuk memutuskan jawabanya.

Sejak kecil cita-cita saya menjadi guru. Saya memang dibesarkan di keluarga guru. Ayah dan kedua kakak perempuan saya adalah seorang guru. Oleh karena itu saya pingin sekali mengikuti jejak ayah dan kakak-kakak saya.

Setelah berdiskusi dengan orang tua, pertanyaan pun terjawab. Kata orang tua saya ada 2 tempat yang bisa saya pilih. Yang pertama adalah UNY Yogyakarta dan yang kedua adalah UNNES Semarang. Dan saya lebih memilih yang kedua yaitu UNNES Semarang.

Kedua kakak saya adalah jebolan UNY Yogyakarta, oleh karena itu saya pingin mencoba sesuatu yang baru. Tempat kuliah sudah diputuskan dan selanjutnya tinggal memutuskan jurusan apa yang akan saya ambil.

Dari awal sebenarnya lebih condong ke guru SMA. Saya sangat berminat sekali menjadi guru sosiologi atau guru sejarah. Kedua pelajaran tersebut adalah pelajaran yang paling saya sukai sewaktu SMA. Tapi ayah saya menyaran untuk menjadi guru SD saja. Kata ayah saya, guru SD peluang diangkat menjadi PNSnya itu lebih besar. Soalnya jumlah sekolahan SD yang ada di kabupaten Banyumas itu lebih banyak dari pada sekolahan SMA. Sehingga bisa disimpulkan bahwa guru SD itu lebih dibutuhkan dari pada guru SMA.

Kemudian saya pun berfikir, ternyata benar juga apa yang dikatakan oleh ayah saya. Jadi saya putuskan untuk kuliah di UNNES mengambil jurusan PGSD.

Dan di pertengahan semester 2 pendaftaran mahasiswa baru di beberapa Universitas mulai dibuka. Mendaftarnya secara kolektif lewat sekolah. Pendaftaranya pun ada 2 jalur, yaitu jalur PMDK dan jalur ujian atau tes. Lalu saya mencoba mendaftar di UNNES. Kalau di UNNES pendaftaran mahasiswa baru dibuka melalui jalur ujian tulis. Dan khusus jurusan PGSD ada 2 buah tesnya. Yaitu tes tertulis dan tes wawancara. Pada saat mendaftar, saya diharuskan memilih 2 jurusan. Lalu saya pun memilih S1 PGSD pilihan pertama dan S1 Pendidikan Sejarah untuk pilihan yang kedua. Setelah proses pendaftaran selesai, beberapa minggu berikutnya saya mengikuti tes di Semarang.

Satu bulan setelah tes, hasilnya pun diumumkan. Dan saya dinyatan diterima. Tapi bukan untuk jurusan S1 PGSD, melainkan jurusan S1 Pendidikan Sejarah. Saya sedikit kecewa karena gagal masuk S1 PGSD. Dan sayapun memutuskan tidak mengambil S1 Pendidikan Sejarah. Saya akan mencoba mendaftar lagi di UNNES pada kesempatan berikutnya melalui jalur SPMB Nasional.

Ekspedisi Berandal Malam (Falsmania Sejati)

Ini adalah kisah perjalanan hidupku dalam mengejar cita-cita. Dan perjalanan ini dimulai sejak saya duduk di bangku SMA.

Saya adalah alumni SMA Negeri Banyumas tahun 2007. Selama 3 tahun saya menimba ilmu di sekolah tersebut. Salah satu sekolah terbaik yang ada di Kabupaten Banyumas. Masa-masa di SMA adalah masa-masa yang cukup menentukan dalam perjalanan hidup saya.

Sewaktu SMA saya berteman dengan orang-orang hebat. Dan mereka adalah orang-orang yang cukup berpengaruh dalam hidup saya. Sejak SMA saya hobi sekali mendengarkan musik. Hampir setiap hari saya menyetel radio di rumah.

Chanel radio yang dulu sering saya perdengarkan di rumah adalah Yasika FM Purwokerto, Vika FM Purbalingga, SBS FM Purbalingga dan Metro FM Purwokerto. Dan yang paling spesial menurut saya adalah Vika FM Purbalingga.

Setiap hari sabtu malam minggu Vika FM selalu menyiarkan acara yang khusus memutarkan lagu-lagu Iwan Fals. Dan sayapun sering sekali mengirimkan sms untuk request lagu. Iwan Fals adalah musisi favorit saya. Dan lagu milik Iwan Fals yang paling saya sukai adalah “Berandal Malam Di Bangku Terminal”

Lagunya enak didengar, sederhana namun penuh makna.

“Sampai kapan ku akan bertahan, dicaci langit tak sanggup menjerit” itu adalah penggalan lirik yang ada di dalam lagu tersebut. Lagu ini selanjutnya selalu menjadi soundtrack dalam hidup saya.
Saya menyukai Iwan Fals sejak SMA. Kakak laki-laki saya adalah seorang Falsmania Sejati. Di kamarnya banyak sekali poster Iwan Fals. Namun sejak kakak saya memutuskan untuk pergi merantau ke Malaysia, poster-poster yang ada di kamar kakak saya semuanya di bersihkan. Termasuk poster Iwan Fals yang besar-besar.

Pada saat SMA kelas 3 saya masuk ke kamar kakak saya. Lalu saya membuka lemari pakaian milik kakak saya. Dan di sana saya menjumpai sebuah kaset Iwan Fals. Lalu saya ambil kaset tersebut dan saya setel kaset tersebut di tape recorder. Ternyata lagu-lagunya Iwan Fals bagus-bagus. Ada banyak sekali pesan yang disampaikan Iwan Fals melalui lagunya tersebut. Dan tema lagunyapun cukup bervariasi. Dari mulai kritik sosial, pertemanan sampai percintaan.

Sejak saat itulah saya mulai menyukai Iwan Fals. Dan mulai saat itu saya mentasbihkan diri sebagai seorang “Falsmania Sejati”.

Seperti Mimpi

Berjumpa denganmu ketika sore nampak begitu cerah
Kau mengajaku menari di atas taman bunga yang begitu indah
Lalu ketika malam menjelang
Kita sama-sama pulang

Keesokan harinya kita kembali bertemu di tempat yang sama
Senyumu nampak lebih manis dari yang sebelumnya
Dengan lembut kau ucapkan sesuatu
Kau begitu bahagia berada di sampingku

Akupun tertawa bangga mendengar kata-katamu
Aku merasa beruntung menjalani hari-hari indah bersamamu
Ini semua seperti mimpi
Mimpi yang kutulis dalam sebuah puisi

Sosokmu adalah goresan pena hasil imajinasi
Senyumu adalah rangkaian kata isyarat hati
Cerita ini seperti mimpi
Mimpi yang kutulis dalam sebuah puisi

Kang Jenggul (Ngaku Islam Aja Mung Nang KTP Tok)

Sore kie hawane mendung temen yah? Kayane anu garep udan loh. Mangkat ngarit apa ora yah jan?
Tok tok tok tok tok Assalamualaikum

Kang Jenggul: Walaikumsalam. Eh koe Man. Ngeneh mlebu man. Ana apa kie? Tumben sore-sore dolan meng umahku.

Rahman: Iya kie kang enyong genah arep nyamper rika kon mangkat ngarit koh. Tapi hawane kayong ora mitayani banget. Kayong garep udan apa yah kang?

Kang Jenggul: Kayane loh man. Mendung banget pancen kiye.

Rahman: Dadi dewek garep mangkat ngarit apa ora kiye kang?

Kang Jenggul: Tetep mangkat baelah. Ngger ora mangkat ngarit mengko wedusku garep mangan apa? Sega apa? Ya ora pada doyan yah

Rahman: Gaxgaxgaxgax ya ayuh nek garep mangkat kang. Gageyan mbok selak udan

Kang Jenggul: Ya aja langsung. Bar ngasar bae mbok? Yuh pada ngasar ndipit nang langgar.

Rahman: Ya nganah rika bae kanglah. Enyong tah ora. Anu lagi males banget sembayang koh.

Kang Jenggul: Seh seh seh seh. Wong wis dadi kewajibane koh males. Kanan-kanane kepriwe koe koh man? Koe wong islam pa udu sih?

Rahman: Ya islam koh kang.

Kang Jenggul: Lah jerene wong islam kon sembayang koh males. Islam kue ora mung nang KTP tok man. Tapi nang perbuatan juga. Ngakune islam tapi ratau sembayang kue jenengane ya wong munafik man. Sembayang kue tiang agama. Ibadah sing pertama ndipit di hisab nang gusti Allah kue sembayang man. Bar kue nembe ibadah liane. Paham ora kue jal ?

Rahman: Iya mandan paham kang.

Kang Jenggul: Dadi percuma bae man misale ana wong kelakuane maen banget, sregep nulungi wong liya tapi deweke ora tau sembayang. Genah ibadah sing pertama ndipit di deleng nang gusti Allah kue sembayang. Dadi eman-eman banget ngger koe wong islam tapi ratau sembayang man.

Rahman: Iyalah kang enyong siki wis temenan paham.

Kang Jenggul: Nah kaya kue. Ayuh pada sembayang bareng nang langgar. Bar kue gari mangkat nggolet suket.

Sajak Cinta Penggila Bola

Kisah cinta kita laksana arena pertandingan sepak bola

Aku dan kau bersatu di atas strategi cinta penuh makna

Formasi bahagia menentang derita

Menyerang bertahan itu hal yang biasa

Menyerang saat kita berdua berusaha untuk selalu bertemu walau terhalang benteng kokoh bernama jarak dan konflik

Kita tidak berusaha untuk saling mengalahkan, melainkan untuk saling menguatkan

Bertahan adalah saat aku dan kau mencoba sekuat tenaga menahan egosentris demi keutuhan cinta kita berdua

Perpaduan keduanya akan menghasilkan keseimbangan

Tekad kuat untuk selalu bersatu

Dan menahan ego kala keretakan semakin menekan

Mengatur irama permainan itu perlu

Sebab harmoni dan keselarasan nada akan semakin mengindahkan hubungan kita

Ada suatu masa dimana kita harus berfikir pragmatis

Mencoba melupakan proses yang begitu menyakitkan

Demi keindahan hasil akhir yang kita impikan

Gool adalah teriakan kemenangan kala tuhan menyatukan kita di atas podium bertitel pernikahan

Posisi Duduk Menentukan Prestasi Siswa

Mencoba flash back ke masa-masa SMA. Masa-masa sekolah yang penuh warna dan makna. Dulu sewaktu SMA saya mempunyai seorang teman yang cukup rajin sekali. Dia selalu berangkat lebih pagi dari pada siswa yang lainya. Namun yang membuat saya heran adalah walaupun dia berangkatnya paling pagi tetapi dia lebih memilih untuk duduk di bangku paling belakang. Dia sama sekali tidak mau duduk di bangku paling depan.

Karena merasa heran dan penasaran, sayapun mencoba bertanya kepada teman saya tersebut mengenai alasan dia berangkat sekolah paling pagi dan memilih duduk di bangku paling belakang. Dan ternyata jawaban dia sangat simpel. Dia memilih duduk di bangku paling belakang karena posisi duduk itu menentukan prestasi. Orang kalau mau punya prestasi bagus kata dia harus duduk di bangku paling belakang. Bangku paling belakang adalah bangku paling aman dan strategis. Kalau duduk di bangku paling belakang kata teman saya itu jarang sekali mendapatkan pengawasan dari guru. Sehingga kalau sedang ujian bisa nyontek tanpa harus ketahuan.

Dengan begitu maka nilai ujianpun akan bagus dan prestasipun juga mentereng. Terbukti teman saya yang satu ini jarang sekali remidi dan prestasinya cenderung memuaskan.

Hayo buat para guru harus hati-hati yah dengan strategi negatif yang pernah diperagkan oleh teman saya dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA. Mungkin dari sekian banyak siswa kita ada sebagian yang menganut aliran seperti itu. Sehingga guru harus berfikir cerdas kalau tidak mau dibodohi sama siswa.

Belajar pada Sejarah

Jangan belajar padaku nak. Tapi belajarlah pada sejarah. Karena sejarah adalah guru kehidupan. Sedangkan gurumu ini adalah orang yang sudah melupakan sejarah. Gurumu ini lupa, bahwa dulu juga pernah menjadi seorang murid sama seperti kalian.

Maafkan gurumu ini yah nak? Jika selama ini gurumu sudah sering membuat kalian menderita.

Gurumu ini cuma manusia biasa, bukan malaikat. Kalau mau jadi orang hebat belajarlah pada sejarah, pasti kalian semua akan mendapatkan banyak pelajaran berharga. Sejarah sudah membuktikan, bahwa hidup berasal dari mimpi. Jadi kalian kalau mau tetap hidup , harus punya mimpi nak. Orang hidup yang tidak punya mimpi sebenarnya ia telah mati dalam kehidupanya.

Mimpilah setinggi-setingginya nak. Tidak usah takut. Sebab kalaupun terjatuh, kamu masih tetap duduk diantara bintang-bintang.

Bermimpi itu gratis nak. Maka dari itu, mimpilah yang besar. Orang besar selalu terlahir dari seorang pemimpi.

Belajar pada sejarah. Belajar pada kekuatan mimpi.

Sang Peretak Hati

Aku tahu kau selalu menantikan potongan-potongan puisi yang selalu kutempelkan di dinding hati
Tapi perlu kau ingat, aku tak pernah sedetikpun mencoba mengingatmu
Aku dan kau sudah berakhir dalam perasaan
Waktu terus berputar matahari masih tetap bersinar

Sudah saatnya kau melangkah
Meninggalkanku yang masih terkungkung dalam kepahitan
Aku sudah memaafkan masa lalu
Dan juga rangkaian cerita yang kuukir bersamamu

Cerita kita sudah lama usai
Kutinggalkan bersama retakan hati yang tak mungkin utuh lagi
Kuharap kau mengerti
Saat kau baca puisiku ini

Hapus aku dari ingatanmu
Tinggalkan kisahku yang sudah lama layu
Berlarilah tinggalkan aku di sini
Wahai sang peretak hati

Mendewakan PTK Sama Saja Mendewakan Kebohongan

Sampai sekarang saya masih heran. Zaman sudah sedemikian majunya tapi kok masih saja banyak orang dan para guru yang mendewakan PTK atau Penelitian Tindakan Kelas.

Padahal jenis penelitian ini kan sudah ditemukan sejak puluhan tahun yang lalu. PTK atau yang bahasa Inggrisnya adalah Clasroom Action Research ini memang sekarang sedang digandrungi oleh para guru. Karena PTK menjadi syarat mutlak untuk kenaikan pangkat golongan dari IVA ke IVB.

Membicarakan soal PTK, jadi teringat dosen saya dulu ketika masih kuliah. Namanya adalah Dr.H.Y.Padmono, M.Pd. Beliau adalah seorang doctor spesialis ilmu penelitian. Jadi soal penelitian, beliaulah pakarnya. Dan saya punya catatan menarik tentang beliau. Dulu sewaktu masih kuliah, Pak Pad pernah mengharamkan yang namanya PTK kepada para mahasiswanya. Jadi bagi para mahasiswa yang ingin menjadikan beliau sebagai dosen pembimbing skripsi, jangan berani-berani membuat skripsi bergenre PTK. Karena beliau ini memang sangat anti sekali dengan yang namanya PTK. Dimata beliau PTK tak ubahnya seperti sekumpulan sampah.

Kenapa bisa begitu? Alasanya sangat logis. Karena PTK sudah mendidik mahasiswa untuk berbuat bohong. Dan mahasiswa yang notabenya adalah calon guru sangat tak pantas berlaku bohong seperti itu. Kata beliau, seorang peneliti itu boleh salah asal jangan bohong. Seorang peneliti harus mempunyai sikap ilmiah. Jujur adalah satu contoh sikap ilmiah. Dan beliau juga mengungkapkan bahwa peneliti itu berbeda dengan guru. Kalau peneliti boleh salah asal jangan bohong. Tetapi kalu guru tidak boleh salah dan juga tidak boleh bohong. Guru kalau mengajarkan pada murid 4×4=17 itu fatal sekali akibatnya.
Lalu adakah hubungan antara PTK dengan kebohongan? Jelas ada. Para mahasiswa ataupun guru rata-rata beranggapan bahwa yang namanya PTK itu harus berhasil. Padahal faktanya tidak begitu. PTK boleh saja gagal, tetapi para mahasiswa ataupun guru sering merasa malu kalau PTK yang dia lakukan gagal. Sehingga mereka mau tidak mau harus memanipulasi data hasil penelitian supaya PTKnya bisa disebut berhasil. Contohnya: ada seorang guru yang ingin meningkatkan hasil belajar matematika di kelas 6 SD tentang materi bangun ruang menggunakan metode Quantum Teaching.

Tapi setelah diadakan tindakan kelas, ternyata hasil belajar siswa itu tidak naik. Berarti PTKnya gagal. Untuk menutupi kegagalan tersebut agar terlihat berhasil. Sang guru memanipulasi data. Nilai-nilai siswa dinaikan semua sehingga terlihat ada kenaikan dan PTKnyapun bisa disebut berhasil. Disinilah letak kebohongan yang pertama.

Kemudian selain kebohongan yang pertama ternyata masih ada lagi kebohongan yang kedua. Contohnya adalah jika kasus yang sudah saya jelaskan di atas sebelumnya ternyata berhasil. Hasil belajar matematika di kelas 6 materi bangun ruang ternyata meningkat setelah diadakan tindakan kelas. Dan gurupun mengatakan dalam laporan penelitianya bahwa metode Quantum Teaching bisa meningkatkan hasil belajar matematika. Pertanyaan saya adalah apakah benar hasil belajar matematika di kelas 6 meningkat karena siswa diajar menggunakan metode Quantum Teaching?

Jawabanya adalah belum tentu. Karena masih ada variabel lain yang ikut berpengaruh. Variabel lain itu contohnya adalah guru itu sendiri. Jadi hasil belajar matematika di kelas 6 meningkat itu bisa saja karena gurunya yang mengajar berwajah tampan atau cantik. Siswa kalau diajar sama guru yang tampan atau cantik pasti akan semangat sekali belajarnya. Jika semangat belajarnya tinggi otomatis hasil belajarnyapun akan ikut tinggi atau naik. Dan jika guru masih tetap keras kepala tanpa memperhatikan variabel lain, berarti guru sudah melakukan kehobongan. Guru yang nekat mengatakan hasil belajar matematika siswa kelas 6 naik karena metode Quantum Teaching adalah guru pembohong. Hasil belajar matematika meningkat karena gurunya kok dibilang karena metode Quantum Teaching. Disitulah letak kebohongan yang kedua.

Perlu kita semua renungkan bahwa PTK itu tidak harus berhasil. Karena yang diutamakan dalam PTK bukan cuma hasilnya melainkan prosesnya juga. Dan jenis peneletian juga bukan cuma PTK, tetapi masih banyak jenis penelitian yang lain. Semoga saja pemerintah yang diwakili oleh kemendiknas, LPMP, dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten dan instansi-instansi lainya mau segera membuka mata mengenai masalah ini. Jangan membatasi guru hanya untuk belajar PTK. Buatlah aturan baru, misal guru harus membuat penelitian bergenre kuantitatif kalau mau naik pangkat dari IVA ke IVB. Ini semua bertujuan agar para guru tidak lagi mendewakan kebohongan.

13627156641275377226

Ditantang Nikah Sama Asmirandah

Senin malam pukul 19.00, aku diundang oleh keluarganya Gita untuk makan malam di rumahnya. Hari ini papanya ulang tahun. Di rumahnya ada acara kecil-kecilan. Aku tentu tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ini adalah moment yang tepat untuk melakukan pendekatan dengan Om Erwin papanya Gita.

Mesin mobil aku nyalakan, dan akupun langsung meluncur menuju rumahnya Gita. Gita ini adalah pacar gelapku. Aku jadian sama dia baru 3 bulan yang lalu. Dia ceweku yang kedua. Selain Gita aku masih punya cewe satu lagi. Namanya Asmirandah, pacarku yang pertama. Aku menjalankan hubungan cinta segitiga ini secara rapih. Sehingga tidak ada seorangpun yang tahu kalau aku mempunyai dua cewe. Maklum, sebagai pria aku punya segalanya.

Apapun yang cewe butuhkan aku punya. Wajahku tampan, punya pekerjaan tetap, dan aku termasuk keluarga pejabat. Papaku adalah anggota DPR. Sedangkan mamaku adalah seorang kepala rumah sakit swasta di Jakarta. Dengan bermodalkan semuanya ini aku bisa mendapatkan apa saja yang aku suka. Termasuk cewe-cewe cantik.

15 menit setelah pukul 19.00 aku nyampe di rumahnya Gita. Akupun langsung disapa oleh senyum ramah seluruh penghuni rumah.

“Selamat malam om tante”
aku langsung bersalaman dengan mama dan papanya Gita.

“Om selamat ulang tahun yah?”
Kataku sambil memberikan sebuah kado berisikan jam tangan yang berlapiskan berlian.

Acara makan malampun dimulai. Setelah selesai makan, papa dan mamanya Gita langsung pergi menuju kamar. Sedangkan aku duduk berdua bersama Gita di ruang tamu. Kami ngobrol ke sana ke mari soal hubungun cinta kita. Sampai tak terasa jam ditanganku sudah menunjukan pukul 21.00.

Akupun langsung pamit pulang kepada Gita dan keluarganya. Dengan mengendarai mobil fortuner warna silver aku menuju rumah. Tapi di tengah jalan tiba-tiba handphoneku berbunyi. Sepintas kulihat layar HP, ternyata yang menelponku adalah pacarku yang pertama Asmirandah.

Telpon langsung aku angkat.

“Sayang di mana kamu?”
Tanya Asmirandah

“E aku lagi di jalan sayang”

“Jam segini masih di jalan? Emangnya kamu dari mana?”

“Oh ini sayang. Tadi aku ada acara makan malam bersama rekan bisnis.”

“Kamu gak usah bohong !!! Coba kamu jawab jujur, kamu habis dari mana !!!”
Tanya Asmirandah dengan nada membentak.

“Iya aku gak bohong sayang. Aku memang habis ada acara makan malam sama rekan bisnisku.”

“Aku gak percaya !!! Tega kamu yah sayang? Selama ini kamu sudah membongi aku terus. Ternyata di belakangku kamu punya cewe lain !!!”

Akupun langsung tersentak mendengar jawaban dari Asmirandah. Hatiku langsung bertanya-tanya, bagaimana dia bisa tahu kalau aku punya pacar gelap.

“Maksudnya apa sayang? Aq gak ngerti apa yang kamu maksudkan. Tadi aku memang ada acara malam dengan rekan bisnis”
Jawabku pura-pura tidak tahu. Sambil menutupi apa yang sebenarnya terjadi.

“Bohong !!! Kamu kok tega banget sih ngelakui ini semua ke aku. Padahal aku kan sayang banget sama aku.”
Jawab Asmirandah sambil menangis.

“Sayang dengarkan aku dulu. Akan aku jelaskan semuanya.”

“Gak perlu !!! Aku sudah tahu semuanya !!! Sekarang aku cuma butuh bukti. Kalau kamu memang benar-benar cinta sama aku, aku mau besok kita menikah !!! Buktikan kalau kamu memang cinta !!! Nikahi aku besok. Kalau nggak, mending kita putus sekarang juga !!!”

Pengalamanku Digombali Asmirandah

Pengalaman ini kualami pada tanggal 25 Februari 2013. Waktu itu adalah hari minggu. Aku sedang jalan-jalan di Palembang Square. Aku sendirian karena memang pada saat itu statusku sedang jomblo. Dari rumah aku niatnya sih cuma mau cari buku buat bahan mengajar. Dan buku yang kucaripun akhirnya kudapat. Aku lihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Ternyata waktu menunjukan pukul 10.00. Karena merasa masih terlalu pagi untuk pulang, akhirnya akupun memutuskan untuk tetap berada di Palembang Square. Aku naik ke lantai 3. Itung-itung cuci mata. Siapa tahu ada pemandangan bagus di sana. Dan ternyata sangat luar biasa. Benar-benar ajaib. Apa yang aku harapkan ternyata menjadi kenyataan. Di sana ada pemandangan yang sangat bagus sekali. Aku melihat artis cantik favoritku “Asmirandah” sedang syuting di sana. Mungkin dia sedang syuting iklan untuk sebuah produk pakaian. Ini adalah pemandangan langka. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Akupun mencoba mendekati lokasi syuting Asmirandah. Akhirnya aku bisa juga melihat pesinetron cantik ini dari dekat.

Dan lagi-lagi hal luar biasa yang tak pernah kuduga terjadi. Selesai syuting Asmirandah mendekatiku yang sedang berdiri di belakang seorang kameramen. Dan diapun menyapaku duluan.

Asmirandah: Kamu Rahman Hidayat kan?

Aku: Iya betul

Asmirandah: Kamu yang suka nulis artikel di kompasiana itu kan?

Aku: Iya betul mba Andah. Mba kok tahu sih?
(Tanyaku sambil tersenyum bangga)

Dan Asmirandah pun menjawab
Asmirandah: Iya lah aku pasti tahu. Soalnya kamu sudah mempostingkan hatiku

JEDEERRR……….
Berasa seperti disambar petir di tengah gurun pasir. Mimpi apa yah aku semalam? Digombali sama artis cantik sekaliber Asmirandah rasanya gimana gitu.
Akupun mencoba menjawab gombalanya Asmirandah dengan sok polos

Aku: Ah mba Asmirandah ini bisa aja

Asmirandah: Eh Rahman kamu mau gak nemenin aku beli HP. Di sini ada kan tempat jual HP?

Aku: Mau banget mba. Emangnya mba Asmirandah gak punya HP apa?
(tanyaku polos)

Asmirandah: Ya punya sih. Tapi HP aku yang sekarang jelek. Aku pingin beli HP baru yang lebih bagus

Aku: Oh gitu. Kalau boleh tau HP yang sekarang jelek apanya sih mba?

Asmirandah: Ini logo emotionnya yang jelek banget

Aku: Logo emotion yang mana mba andah?

Asmirandah: Logo emotion senyum. Logo emotion senyum di HP aku itu gak ada yang semanis senyum kamu

JEDEERRR LAGI…….
Ini untuk yang kedua kalinya aku digombali sama Asmirandah. Rasanya melayang-layang seperti di luar angkasa. Bener-bener gak nyangka. Artis secantik dia pinter nggombal juga ternyata.
Aku terdiam tersipu malu. Bingung mau jawab apa. Dari tadi digombali terus sama artis cantik.

Asmirandah: Eh Rahman jangan bengong aja dong. Diajak ngobrol kok malah bengong sendiri

Aku: Hehehe maaf mba Andah. Dari tadi mba nggombal terus sih. Aku nya jadi gak bisa ngomong ini

Asmirandah: Ih siapa yang nggombal? Aku serius kali, gak lagi nggombal. Eh Rahman

Aku: Iya mba

Asmirandah: Kalau aku amati penampilan kamu, kayaknya kamu termasuk tipe cowo yang hobi ke diskotik yah?

Aku benar-benar bingung dengan pertanyaanya Asmirandah kali ini. Diskotik dari hongkong apa??? Cowo baik-baik kaya gini gak mungkinlah hobi ke diskotik. Tapi aku tau, ini pasti cuma triknya Asmirandah untuk menggombaliku lagi. Jadi walaupun aku sebenernya gak pernah ke diskotik, akan aku jawab “iya” aja deh

Aku: Iya, koh tau sih mba?

Asmirandah: Tau dong. Soalnya kamu sudah mendugemkan hatiku
GUBRAK…….

Dan akhirnya akupun pingsan. Nyerah deh. 3 kali digombali sama artis cantik sekaliber Asmirandah. Aku benar-benar yakin. Cewe yang satu ini pasti hobi banget deh nonton OVJ sama Raja Gombal. Atau jangan-jangan dia malah muridnya Andre Taulani???

Akhir Pekan Adalah Berkah, Terutama Bagi Mereka yang Tak Mencintai Pekerjaanya

Bagi orang-orang yang tak mencintai pekerjaanya, pasti menganggap akhir pekan adalah sebuah berkah. Jadi hari sabtu dan minggu pasti akan mereka gunakan untuk bersenang-senang, memanjakan diri, refresing, liburan, dan masih banyak lagi kegiatan yang bisa mereka manfaatkan untuk sejenak melupakan pekerjaan dan rutinitas.

Hari sabtu pasti selalu dirindukan oleh orang-orang yang tak mencintai pekerjaanya. Maklum saja, karena mereka semua menganggap pekerjaan seperti sebuah beban berat. Apa lagi harus dilakukan selama 5 hari berturut-turut. Beehh pasti rasanya seperti kerja rodi pada zaman penjajahan VOC yah?

Lain ceritanya dengan orang yang mencintai pekerjaanya. Kalau orang yang mencintai pekerjaanya pasti menganggap semua hari sama saja. Sama istimewanya maksudnya. Bersenang-senang tidak harus di akhir pekan. Di hari apa saja bisa selama dia mencintai pekerjaanya. Lalu apakah salah orang yang tidak mencintai pekerjaanya dan menganggap akhir pekan adalah sebuah berkah? Tidak sepenuhnya salah, tapi hal ini jelas akan menimbulkan suatu dampak. Ketika akhir pekan berakhir dan hari senin datang, mereka akan merasa seperti masuk kembali ke lubang penderitaan. Mereka merasa sudah dinanti-nanti oleh banyak tugas berat dan harus berkutat kembali ke dalam rutinitas yang membosankan. Orang kalau bekerja dengan setengah hati tanpa kesungguhan pasti hasilnya juga akan setengah-setengah.

Pesan saya, cintailah pekerjaanmu apapun itu. Cinta pada pekerjaan adalah salah satu bentuk syukur kita pada tuhan.

Kasihan adalah Wujud Lain dari Kesombongan

Sujiwo Tedjo adalah salah seorang publik figur yang hobi sekali ngetwitt. Dalang gaul ini setiap hari selalu berkicau di situs jejaring sosial berlambang burung biru.

Sayapun sebagai salah satu pengguna twiter sangat menyukai twet-twetnya. Twet-twetnya sangat sederhana namun sarat makna dan mencerdaskan. Salah satu tema yang dibahas semalam adalah mengenai kesombongan.

Penulis buku “Ngawur Karena Benar” ini memang terkenal sebagai orang yang sangat sombong namun selalu berkata apa adanya. Dia pernah berkata dalam twettnya “Kalau sombongmu nanggung, jangan berani-berani ketemu sama aku. Karena kalau kamu ketemu aku pasti kamu akan minder.”

Diapun mengamini bahwa dirinya sendiri adalah pribadi yang sombong. Tapi kata beliau lebih baik jadi orang yang sombong terang-terangan dari pada orang yang sombong tapi selalu menutupi. Orang yang sombong tetapi selalu menutupi kesombonganya itu dosanya 2 kali. Yaitu dosa sombong dan dosa munafik.

Di twitternya (@sujiwotedjo) dia juga berkata, bahwa kasihan adalah wujud lain dari kesombongan. Contohnya adalah ketika si kaya membantu si miskin karena kasihan. Berarti si kaya merasa lebih mampu dan beruntung dari si miskin. Ini adalah bentuk kesombongan. Karena kaya dan miskin keduanya itu sama-sama ujian.

Jadi pesan beliau kalau mau membantu orang jangan pakai “kasihan”.

Memberikan Label Positif Pada Anak

Satu hal yang perlu diingat oleh guru dan para orang tua. Bahwa karakter anak itu bisa terbentuk oleh ucapan guru dan orang tuanya. Oleh karena itu kita sebagai guru dan orang tua harus berhati-hati dalam memberikan label pada anak.

Kalau kita melabeli anak dengan label negatif, maka dia akan mempunyai karakter yang negatif. Dan juga sebaliknya, kalau kita ingin anak kita mempunyai karakter positif maka kita harus memberikan label yang positif pada anak-anak kita.

Guru dan orang tua kadang sering sekali tidak sadar mengenai hal ini. Sehingga mereka lebih sering memberikan label negatif pada anak. Kita sebagai guru dan orang tua seharusnya bisa bertindak secara bijak, dengan cara mengganti label yang negatif itu menjadi positif.

Misalnya label anak “susah dibilangin” harus diganti menjadi “berpendirian teguh” atau “berkemauan keras”. Dan mulai sekarang gunakanlah label “kreatif” untuk anak yang sebelumnya kita labeli sebagai anak yang “nakal”. Mudah-mudahan ini bisa jadi awal dirinya menjadi lebih baik.

Tugas guru adalah mencari sisi positif dari siswanya, walaupun kecil dan sederhana tapi sangatlah bermakna.

Mencoba Bangkit

Mencoba bangkit dari keterpurukan
Menggunakan kaki sendiri kucoba tuk berdiri
Ini tidaklah mudah ketika aku hampir menyerah
Aku tak butuh bantuanmu, bantuanya dan bantuan mereka


Mencoba bangkit di tengah situasi yang semakin sulit
Aku tak pernah peduli pada bau busuk keadaan
Seberat apapun itu, pastilah masih ada celah yang bisa kutemukan
Lihatlah aku sekarang, kakiku sudah mulai kuat menapaki tajamnya batu kehidupan

Mencoba bangkit walaupun dunia tak lagi berpihak
Ini jalan hidupku, tak seharusnya aku bergantung padamu
Duka ini akan segera kuakhiri
Tanpamu aku pasti bisa berlari

Mencoba bangkit dan bersiap tuk terbang tinggi
Awan yang cerah adalah sahabat sejati
Di sini aku mampu berdiri
Menggenggam mimpi menaklukan duka di hati

Guru Yang Tidak Tahan Kritik Boleh Dimasukan ke Dalam Tong Sampah

Salah satu judul film favorit saya adalah “GIE”. Film yang dibintangi oleh Nicolas Saputra ini sudah saya tonton berkali-kali, namun saya tidak pernah merasa bosan. Ada banyak sekali pelajaran berharga yang bisa saya petik dari film tersebut. Salah satunya adalah pentingnya jiwa besar dan sikap terbuka terhadap kritik yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Dalam film GIE diceritakan, sewaktu masih SMA Soe Hok Gie kecil pernah melancarkan protes keras terhadap gurunya di waktu pelajaran sastra. Kurang lebih kalimatnya seperti ini:

Gie: “Pak bukankah ada perbedaan antara penerjemah dengan pengarang?”

Guru: “Dalam hal ini bisa dikatakan penerjemah sama dengan pengarang. Karena pengarang aslinya tidak dikenal di sini. Jadi bisa dikatakan Chairil Anwar adalah pengarang “Pulanglah Dia Si Anak Hilang”

Gie: “Tidak bisa begitu pak. Penerjemah tetaplah berbeda dengan pengarang. Lagi pula pengarang aslinya “Andre Gide” dikenal di sini.”

Guru: “Iya kamu kenal. Tapi yang lain?”

Gie: “Tukang becak juga tidak kenal dengan Chairil Anwar”

So Hok Gie sangat kecewa dengan sikap gurunya yang tidak mau terbuka terhadap kritik dan selalu menganggap jawabanya sendiri yang paling benar. Soe Hok Gie pun berkata dalam hatinya “Guru yang tidak tahan kritik boleh dimasukan ke dalam tong sampah. Guru bukanlah dewa yang selalu benar. Dan murid juga bukan kerbau.”

Soe Hok Gie semakin kecewa karena nilai sastranya yang seharusnya mendapatkan nilai 8 dikurangi 3 oleh gurunya tersebut. Sehingga dia cuma mendapatkan nilai 5.

Dan ternyata apa yang dialami oleh Soe Hok Gie juga pernah saya rasakan ketika masih duduk di bangku SD dulu. Bukan dalam hal pengurangan nilai, melainkan dalam hal beda pendapat dengan guru dan sikap guru yang tidak mau terbuka terhadap kritik siswanya. Saya masih ingat betul detail peristiwa itu dan sepertinya sampai kapanpun tidak akan pernah saya lupakan. Sewaktu kelas 6 SD, saya diajar oleh seorang guru yang bernama Bu Niswiati. Kami biasa memanggilnya Bu Nis. Pada waktu pelajaran IPA, Bu Nis menyuruh seluruh muridnya untuk mengerjakan soal latihan IPA. Hal tersebut dilakukan dalam rangka persiapan Ujian Akhir Semester (kalau dulu namanya masih Ujian Catur Wulan). Di latihan tersebut ada sebuah soal seperti ini:

Alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah……..

a. Stetoskop

b. Elektrokardiograf

c. Termometer

d. Amperemeter

Dan pada sesi koreksi bersama, Bu Nis menegaskan kepada seluruh siswa bahwa alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah stetoskop. Setelah mendengar jawaban dari Bu Nis tersebut, saya langsung melakukan interupsi. Saya berpendapat bahwa alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah elektrokardiograf, bukan stetoskop. Karena stetoskop itu cuma sebuah alat yang digunakan untuk mendengarkan bunyi yang ada di dalam tebuh seperti denyut jantung, pernafasan dan aliran darah. Stetoskop bukan alat ukur karena tidak memiliki satuan ukur. Saya sangat yakin dengan jawaban saya. Dalam pelajar IPA saya merasa lebih pandai dari Bu Nis karena saya rajin membaca dan rajin belajar. Bahkan teman-teman sayapun menjuluki saya sebagai masternya IPA di kelas 6. Terlalu naif dan idealis memang untuk seorang anak kecil seumuran saya pada waktu itu.

Tapi yang paling membuat saya kecewa adalah Bu Nis tetap kekeuh pada pendapatnya sendiri. Beliau merasa pendapatnyalah yang paling benar, dengan dalih beliau sudah pernah menanyakan soal tersebut kepada seorang dokter.

Hingga akhirnya Ujian Akhir Semester pun datang. Dan ternyata soal yang menjadi perdebatan antara saya dengan Bu Nis keluar di ujian semester. Sesuai dengan anjuran dari Bu Nis, maka seluruh siswa menjawab stetoskop. Tetapi saya tetap berpegang teguh pada pendirian. Sanya menjawab elektrokardiograf.

Setelah ujian semester selesai, Bu Nis mengadakan kegiatan koreksi bersama hasil ujian semester IPA. Dan untuk menjawab soal yang menjadi pertentangan, Bu Nis mencoba melihat kunci jawaban yang ada di tanganya. Dan ternyata jawaban yang benar adalah elektrokardiograf. Satu kelas yang menjawab benar cuma saya, yang lainya salah semua karena mengikuti pendapat dari Bu Nis. Bu Nis pun sepertinya merasa malu telah berdebat dengan saya. Tapi anehnya sampai saat itu beliau masih merasa pendapatnya benar. Menurut beliau alat untuk mengukur denyut jantung ya stetoskop. Benar-benar peristiwa yang menggelikan namun berkesan dan sulit dilupakan.

Saya berharap semoga teman-teman guru bisa berkaca dari pengalaman yang sudah Soe Hok Gie dan saya alami. Kita sebagai guru harus bisa bersikap terbuka kepada kritik. Khususnya kritik dari murid-murid kita sendiri. Kita harus berjiwa besar jika ternyata mempunyai murid yang berpengetahuan luas dan bahkan lebih pintar dari gurunya. Ingat kata-kata Soe Hok Gie, guru bukanlah dewa yang selalu benar dan murid juga bukan kerbau.

Air Mata Langit di Bumi Sriwijaya

Langit kali ini meneteskan air matanya di bumi sriwijaya
Bumi para penikmat senja
Apakah kisah rinduku ini sangat mengharukan
Sampai-sampai langitpun tak sanggup menahan derai air matanya

Air mata langit terus menetes
Mengiringi senjaku yang semakin temaram
Tak banyak yang bisa aku lakukan
Selain merenung menikmati aroma tetesan air mata langit

Aku sadar malam akan segera datang
Mencoba menutupi temaram senja yang mengharukan
Tapi aku tak rela jika langit dipaksa tersenyum
Hanya demi keindahan malam yang tegar ditinggalkan bulan

Malam tetaplah malam
Bagiku tetap indah tanpa kehadiran bintang bulan
Dan langit tetaplah langit
Bagiku tetap cerah walaupun air mata bercucuran

Mahkota Rindu Bertuliskan Namamu

Aku belum pernah sekuat ini menahan rindu

Rindu yang sengaja kusimpan untuk seseorang

Namun tak pernah kutahu seseorang tersebut sekarang ada di mana

Mungkin awan telah mengajaknya terbang ke atas sana

Atau jangan-jangan dia telah lenyap terhembus angin siang

Aku mencoba bertanya kabarnya kepada senja yang sedang duduk menemaniku di bawah singgasananya

Hai senja…..

Tahukah engkau di mana dia?

Ia dia, yang namanya selalu ada di dalam ingatanku…..

Ayolah senja jangan diam saja…..

Aku mohon beritahu di mana sekarang dia berada…..

Huuuh……

Senja tetap pada pendirianya

Dia cuma diam, diam dan diam

Terimakasih senja

Jika suatu saat kau bertemu denganya, aku mau menitip sebuah pesan

Katakan padanya, sebuah mahkota rindu bertuliskan namanya masih tersimpan rapih di dalam hatiku

Jika dia ingin mengenakannya, datanglah padaku dan bawa kepingan hatiku

Ketakutanku (Sajak Seorang Penakut Chapter 2)

Aku adalah manusia bukan dewa

Dalam diriku tumbuh subur benih-benih ketakutan yang menyeramkanku

Memberantas mereka tidak segampang membalikan telapak tangan

Aku membutuhkan bantuan nyali dan keberanian

Tapi dimanakah aku bisa bertemu dengan mereka?

Sementara aku bukanlah seorang kesatria

Jiwaku dipenuhi rasa takut atas hal-hal yang belum pernah terjadi

Bahkan tidak pernah benar-benar terjadi

Ketakutan benar-benar membuatku berhenti untuk sementara waktu

Sejenak kusadar, aku tak mungkin berhenti begitu saja di sini
 
Aku harus terus berjalan, berjalan, dan berlari

Aku pasti mampu menaklukanmu ketakutanku

Karena kamu cuma khayalan dan imajinasiku

Sajak Seorang Penakut

Mungkin aku telah berdusta dengan mengatakan bahwa aku adalah seorang kesatria sejati

Walaupun aku hanya menyatakan afirmasi itu kepada diriku sendiri

Sejatinya aku memang cuma seorang penakut

Yang selalu tumbang di setiap medan pertempuran

Mungkin aku selalu terluka, namun aku tidak mati

Sudah saatnya aku membangun sebuah tujuan yang ambisius, bukan sekedar angan-angan

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya

Aku percaya aku bisa

Karena aku lebih dari sekedar yang dapat kulihat

Aku adalah makhluk yang mempunyai jiwa dan semangat

Musuh besarku ada di dalam diriku sendiri

Aku harus memenangkan pertempuran ini

Dan aku harus berpura-pura melakukanya sampai aku benar-benar melakukanya

Tumbang Sebelum Berperang

Terpecah langit ketika aku berteriak

Awan hitam kembali menggumpal di atas telaga biru

Rumput, dedaunan, pohon dan binatang semuanya menertawakanku

Inilah yang dimaksud dengan tumbang sebelum berperang

Mimpiku tak lagi berarti

Karena terbentur tembok kokoh bernama setan

Malaikat tak berani mendekat

Akupun tak mampu melesat

Pedang yang kubawa

Semangat yang menggelora

Dan visi yang luar biasa

Semuanya sia-sia

Satu pergerakan langkah kaki sangat aku butuhkan

Mengingat perjalan masih sangatlah panjang

Mungkin aku akan letih dan tertatih

Tapi tak pantas untuk merintih

Langit masih biru

Matahari masih bersinar

Pertanda harapan yang belum tenggelam

Balada Seorang Guru

Aku tidak pernah memilih hidup di jalan seperti ini

Tapi aku percaya, rencana tuhan pasti lebih indah dari semua yang ada di bumi ini

Aku dilahirkan menjadi seorang pendidik dengan kepribadian yang cukup unik

Jelas ini membuatku bangga dan bersyukur

Tugasku tidaklah mudah

Karena guru tidak boleh salah

Mendidik anak bangsa

Mencetak insan cendekia

Nasib bangsaku ke depan ada di tanganku

Maju atau mundur, ini cuma soal waktu

Setiap guru adalah seniman, ia ahli melihat dan mengetahui di mana bidang yang jadi hasrat muridanya

Setiap murid punya keistimewaan, tugas guru untuk mengenalinya

Aku harus bisa menginspirasi muridku

Bukan cuma menyuruh membaca buku

Membunuh Sepi

Membunuh sepi dalam keheningan jiwa ini

 

Butuh syair dan balada para penghibur hati

 

Aku mewakili jiwa yang tersakiti

 

Tanpa lentera berjalan di lorong gelap malam ini

 

Hari mungkin akan digantikan pagi

 

Sosok bayangan hitam takkan pernah mengingkari

 

Kau yang menguatkan hati

 

Semakin menjauh dari diri ini

 

Langit akan terus menemani

 

Tangisan syahdu sang pencari arti

 

Hidup bukan cuma untuk saat ini

 

Teruslah melangkah menuju matahari pagi

Dulu Sayapun Sering Dihina oleh Para Guru GTT

Sebelumnya saya mau minta maaf, jika ada para pembaca yang merasa risih atau tidak suka dengan judul tulisan saya ini. Tidak ada tendesi apapun, saya cuma sekedar berbagi cerita yang pernah saya alami.

Pengalaman ini saya alami ketika masih duduk di bangku kuliah. Status saya pada waktu itu adalah mahasiswa semester 7. Saya adalah alumni D2 PGSD FKIP UNS Kampus VI Kebumen Angkatan 2009. Setelah lulus D2, saya memutuskan untuk langsung transfer ke S1 di tempat yang sama yaitu di FKIP UNS Kampus VI Kebumen. Saya tidak punya niatan untuk mengabdi menjadi guru GTT (Guru Tidak Tetap). Walaupun sebenarnya saya bisa saja kuliah sambil GTT. Karena perkuliahan di S1 transfer adalah sore hari mulai pukul 14.00 sampai pukul 17.00. Saya mengambil jalan ini karena ingin fokus kuliah dan tidak mau terbebani dengan segala urusan yang ada di SD.

Setelah perkuliahan berjalan saya baru tersadar. Ternyata keputusan saya yang tidak mau menjadi guru GTT justru membuat kuliah semakin sulit. Karena tugas-tugas perkuliahan di S1 khususnya semester 7 itu banyak yang mewajibkan para mahasiswa untuk terjun langsung ke SD. Para dosen sering sekali memberikan tugas tentang makalah dan laporan penelitian di SD. Bagi teman-teman saya yang lain ini bukanlah suatu masalah. Karena mereka rata-rata kuliah sambil GTT. Jadi mereka tidak perlu bingung ketika ada tugas-tugas seperti itu.

Tapi bagi saya ini adalah sebuah kesulitan. Dan hal inilah yang membuat teman-teman kuliah saya yang juga merangkap menjadi guru GTT selalu menghina saya. Mereka menertarwakan saya karena saya tidak punya SD. Mereka menertawakan saya karena saya kebingungan membuat makalah dan mencari SD untuk tempat penelitian. Mereka menghina saya karena saya cuma seorang mahasiswa dan tidak punya pengalaman menjadi guru SD. Sayapun tidak bisa bicara banyak ketika teman-teman saya presentasi di kelas. Saya tidak mengajar. Saya tidak bisa menceritakan pengalaman saya sewaktu mengajar di SD.

“Kamu gak punya SD yah?”

“Kamu bukan guru !!!”

Sampai sekarang kata-kata itu masih membekas di hati saya. Mendengarkan cacian seperti itu saya cuma diam saja. Saya tetap berpositif thinking, mungkin mereka cuma bercanda. Walaupun sebenarnya harga diri saya berontak. Dan saya cuma berkata dalam hati “Suatu saat pasti saya akan menjadi guru dan punya SD”.

Ini juga adalah salah saya sendiri. Setelah saya lulus D2 PGSD pada tahun 2009, sebenarnya ada Seleksi CPNS untuk jalur umum. Saya mengikutinya tapi saya gagal. Sehingga kesempatan emas untuk menjadi guru terbuang sia-sia. Tapi alhamdulilah setahun berikutnya yaitu pada tahun 2010 Seleksi CPNS jalur umum kembali dibuka. Saya yang pada waktu itu masih berstatus sebagai mahasiswa semester 7 program S1 PGSD mengukitnya dengan sangat antusias. Saya mendaftar di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Dan alhamdulilah saya lulus. Perasaan saya pada waktu itu senang sekali. Akhirnya bisa menebus kegagalan tes cpns di tahun 2009.

Dan satu hal yang ingin sekali saya lakukan pada waktu itu adalah membalas ejekan dan hinaan teman-teman mahasiswa atau para guru GTT yang selalu menghina saya. Kebetulan mereka gagal di tes CPNS tahun 2010. Tapi alhamdulilah saya masih bisa berfikir dengan akal sehat. Sehingga saya tetap berusaha untuk rendah hati ketika teman-teman yang suka menghina saya memberikan ucapan selamat kepada saya.

“Rahman selamat yah? Kamu sih enak diterima CPNS. Bisa gajian tiap bulan. Tidak seperti nasibku sebagai guru GTT yang seperti kerja rodi tanpa dibayar.”
Itulah kata temanku yang sebelumnya selalu menghinaku.

Dan sayapun menjawab “Ya sabar yah teman? Saya doakan semoga kamu juga bisa menyusul secepatnya.”

Mencoba Bijak

Mungkin aku merasa frustasi, ketika apa yang aku inginkan tak pernah menjadi nyata
Tapi tunggu dulu, hidup bukan sekedar harta dan tahta
Kata mereka kebahagiaan ada di dalam hati
Aku tak sepenuhnya percaya
Karena aku tak pernah benar-benar bahagia
Otakku benar-benar sudah termonopoli oleh jutaan mimpi level tertinggi
Mimpiku tanpa pergerakan, seperti menulis tanpa pena
Confuciuspun bersabda “Sebuah perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan langkah pertama”
Namun langkah pertama selalu terasa lebih berat dari langkah-langkah berikutnya

Dan aku harus bagaimana?
Berdiam diri di tempat ini
Atau mencoba melangkah melewati batu dan duri
Semua mengandung resiko kawan
Karena hidup adalah pertempuran
Ambilah satu pilihan
Jadikan itu sebagai batu pijakan
Diam mungkin akan membuatmu nyaman
Dan melangkah memberikanmu banyak kemungkinan
Mencoba bijak dalam berbagai situasi
Silahkan tanya pada hati nurani

Dialah Intan

Kembali merenung rasaku saat tak bersamamu
Malam sebagai saksinya, jiwaku kelabu
Aku tak mampu terus begini
Karena dua hati tercipta bukan untuk sendiri
Menjaga mimpi dan menahan rindu
Keduanya sangatlah menyiksaku

Aku akan berlari menjauhi bayanganmu
Sambil berharap kau tak akan mengejarku
Berat langkah membuatku lelah
Aku lelaki tak pantas menyerah
Maafkanku sudah menggoreskan luka
Luka perih yang sangat menyiksa

Nyanyian rindumu tak lagi kudengarkan
Warna mimpimu tak lagi kukenangkan
Dan aku sekarang sudah menemukan
Tempat dimana hatiku titipkan
Dialah Intan
Permata hatiku yang baru kutemukan

Guru Cuma Mikir Kalau di Depan Siswa

Bu Guru: Pak bungkusin baksonya dong

Penjual Bakso: Siap Bu Guru. Mau berapa bungkus ini Bu Guru?

Bu Guru: 2 Bungkus saja Pak

Penjual Bakso: Oke Bu Guru. Bu Guru, saya pingin nanya sesuatu sama Ibu boleh tidak?

Bu Guru: Oh pasti bolehlah Pak. Memangnya mau tanya apa pak?

Penjual Bakso: Begini Bu. Saya mau tanya, kenapa sih kalau di rumah Bu Guru seneng banget pakai pakaian yang seksi-seksi? Memangnya tidak malu tuh kalau dilihat sama siswa? Hehehehe maaf ya Bu jika pertanyaan saya kurang sopan. Cuma pingin tanya saja Bu. Tidak ada maksud apa-apa kok.

Bu Guru: Hehehehehe ya tidaklah Pak. Ini kan di rumah. Kalau di di depan siswa, saya bisa mikirlah. Memangnya punya otak untuk apa kalau bukan untuk mikir?

Dari percakapan antara Bu Guru dengan Penjual Bakso di atas, kita bisa menyimpulkan sesuatu. Ternyata guru cuma mikir kalau di depan siswa. Kalau di belakang siswa, guru tidak pernah mikir. Kalau di depan siswa, guru berpakaian rapi, sopan dan berjilbab. Tapi kalau di belakang siswa, guru berpakain seksi, tanpa aturan dan terkesan jor-joran.

Mungkin mereka memakai jilbab hanya karena tuntutan profesi. Memprihatinkan memang. Tapi inilah realita. Di sekitar kita masih banyak guru yang seperti itu. Guru yang seharusnya bisa digugu dan ditiru malah ngajari yang saru-saru. Harusnya kita sebagai guru lebih berhati-hati lagi. Karena kepribadian kita bisa dilihat dari cara kita berpakaian.

Sarmilah Sang Gadis Pujaan

Sarmilah sang gadis pujaan
Kau kandaskan cintaku di tengah jalan
Padahal aku sudah menyiapkan pernikahan
Agar kita berdua bisa hidup berdampingan

Sarmilah sang gadis pujaan
Kau rela jual keperawanan
Pada seorang anak bangsawan
Yang hobi judi dan main perempuan

Sarmilah sang gadis idaman
Kenapa kau tak pernah memberiku kesempatan
Padahal wajahku lumayan tampan
Walaupun aku cuma seorang kuli bangunan

Sarmilah sang gadis idaman
Kau tak lagi cantik menawan
Wajahmu tak semenarik rembulan
Pesonamu tak lagi kurindukan

Sarmilah sang gadis pujaan
Kini kau tak lagi jadi pujaan

Hidup Tak Selurus Mistar (Perjuangan Guru di Desa Terpencil)

Hujan besar selalu datang setiap hari. Di satu sisi mungkin ini adalah sebuah anugerah, namun di sisi yang lain hal ini bisa menjadi sebuah musibah. Kira-kira begitulah yang sedang dirasakan para warga Desa Mayapati, Kecamatan Pemulutan Selatan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Desa yang mereka tempati memang tergolong desa terpencil dan jauh dari kota. Akses untuk menuju ke sanapun sangat sulit, apa lagi kalau musim hujan begini.

Benar-benar membutuhkan perjuangan ekstra. Kebetulan saya adalah salah satu guru yang mengajar di desa tersebut. Sehingga saya tahu betul betapa sulitnya untuk menuju ke sana.
Kondisi geografis di Desa Mayapati memang sebagian besar adalah wilayah perairan air tawar, yang meliputi sungai dan rawa. Rumah para penduduk di sanapun berbentuk panggung dan berdiri kokoh di tengah rawa. Banjir adalah pemandangan yang sudah tidak asing lagi bagi para warga di sana. Mereka sudah tidak kaget dengan situasi seperti itu. Yang kaget justru saya. Maklum saya baru 2 tahun bertuas di Desa Mayapati. Dan tahun ini merupakan tahun terekstrim bagi saya. Bagaimana tidak? Dalam kondisi normal, saya membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai di desa tersebut dari Kota Palembang. Sedangkan kalau dalam kondisi seperti sekarang, untuk bisa sampai ke sana saya membutuhkan waktu 3 jam. Jalanan yang rusak parah adalah penyebabnya.

Jalan menuju ke sana sebagian besar masih tanah merah. Sehingga kalau musim hujan begini, jalan menuju ke sana berubah menjadi seperti sirkuit off road. Benar-benar becek, licin dan berlumpur. Sepeda motor saya yang tadinya bersih dan mengkilat, setelah melewati jalan itu pasti berubah menjadi seperti traktor. Berangkat dari rumah saya selalu menggunakan sepatu bot. Itu cukup mempermudah saya ketika melewati jalan yang becek dan berlumpur.

Tetapi walaupun begitu bukan berarti saya selalu sukses ketika melewati jalan becek dan berlumpur. Saya malahan sering sekali jatuh dan terpeleset. Itulah resikonya mengajar di desa terpencil. Dan seberat apapun itu, saya mencoba untuk tetap mensyukurinya. Karena mengeluh juga tidak ada gunanya. Toh di balik semuanya itu ada banyak sekali hikmah yang saya peroleh. Saya menjadi sadar bahwa hidup itu tak selurus mistar. Saya harus ikhlas menjalaninya supaya bisa tegar.

Filosofi Buah Kedondong Tak Selalu Buruk

Ada beberapa orang yang mengatakan, bahwa dalam hidup kita tidak boleh menerapkan filosofi buah kedondong. Yah seperti kita semua ketahui, bahwa buah kedondong adalah buah yang luarnya nampak mulus dan bagus namun di bagian dalamnya nampak tak beraturan, jelek, berambut atau bahkan berduri.

Kalau di dalam kehidupan nyata orang-orang yang menerapkan filosofi buah kedondong adalah orang-orang yang nampak kelihatan baik penampilan atau ucapanya namun dalam hatinya menyimpan niat yang jelek dan jahat.

Ya mungkin pendapat sebagian orang ada benarnya. Tapi kalau menurut saya pribadi filosofi buah kedondong tak selalu buruk. Ada nilai-nilai positif dari buah kedondong yang patut untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai positif itu ada pada keras atau kuatnya buah kedondong. Buah kedondong memang tergolong buah yang cukup keras. Bahkan orang harus membantingnya dulu berulang kali sampai hancur baru bisa menikmati buah kedondong.

Itulah filosofi positif dari buah kedondong yang pantas untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan ini memang kadang penuh dengan masalah. Oleh karena itu harus mempunyai pendirian dan kepribadian yang kuat seperti buah kedondong. Walaupun kehidupan sudah membanting kita berulang kali, kita harus tetap tegar. Buktikan pada semua orang bahwa kita adalah orang yang kuat.

Pekerjaan di Dunia Ini Cuma Ada Dua

Sedang asyik-asyiknya melamun di dalam kamar, tiba-tiba saya jadi teringat suasana saat masih kuliah dulu. Saya jadi teringat sama dosen mata kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia yang bernama Drs. Suhartono, M.Pd.

Beliau adalah salah satu dosen yang mengajar di PGSD FKIP UNS Kampus VI Kebumen. Dan salah satu mata kuliah yang beliau ampu adalah Pendidikan Bahasa Indonesia.

Yang sangat saya ingat dari beliau adalah sebuah kata-kata yang yang cukup inspiratif dan sangat memotivasi kami sebagai calon guru pada waktu itu. Pada saat mengisi perkuliahan, beliau pernah berkata bahwa “Di dunia ini pekerjaan itu cuma ada dua”.

Dan kamipun langsung terdiam sambil merenung pada saat itu. Karena tidak tahu maksudnya apa. Dan beliaupun langsung menjelaskanya. Kata beliau, “Di dunia ini pekerjaan itu cuma ada dua. Yang pertama adalah guru. Dan yang kedua adalah dan lain-lain.” Dan kamipun langsung tertawa terbahak-bahak mendengarkan jawaban dari pak dosen karena kami semua menganggap beliau sedang bercanda. Dan tiba-tiba beliau langsung menghentikan tertawa kami dengan berkata “Nanti dulu. Kalian jangan menertawakan saya dulu. Dan lain-lain ini bukan sembarangan karena ada maksudnya. Dan lain-lain ini maksudnya adalah, tidak mungkin ada pekerjaan ini kalau tidak ada guru. Contohnya adalah tidak mungkin ada dokter kalau tidak ada guru, tidak mungkin ada polisi kalau tidak ada guru, tidak mungkin ada menteri kalau tidak ada guru, bahkan tidak mungkin ada presiden kalau tidak ada guru.”

Lalu kamipun kembali merenung mencoba memahami kata-kata pak dosen. Ternyata benar juga apa yang dikatakan oleh Pak Suhartono. Bahwa guru itu adalah pekerjaan yang sangat penting dan pekerjaan yang mampu menciptakan pekerjaan yang lainya. Benar-benar sangat penting keberadaan seorang guru di dunia ini. Jabatan yang sangat strategis. Oleh karena itu kita semua sebagai guru harus bangga dengan profesi kita.

Di Bawah Pelukan Pelangi

Menapaki terjalnya jalan berbatu
Di sudut kota tempatku melepas rindu
Angin dan teriknya cahya mentari seolah-olah menghalangiku
Aku yang terus berlari berharap segera menemukanmu

Tubuhku mungkin tak sekokoh dulu
Seperti saat pertama kali kita bertemu
Tapi asal kau tau
Cintaku takkan pernah tumbang oleh waktu

Tak perlu kau pertanyakan lagi
Untuk apa aku berlari
Karena semua sudah menjadi bukti
Aku pergi membelah hujan dan pulang mempersembahkan pelangi

Sudah saatnya aku menikmati
Semua yang aku dapati
Bersamamu sang belahan hati
Di sini, di bawah pelukan pelangi

Ibumu Bukan Seorang Penjahat

Aku terbangun di ujung malam
Ketika hujan dan petir mencoba merusak keindahan malam
Aku segera keluar dari ruang nyaman tempatku meracik mimpi
Kulihat sebuah jam yang melekat di dinding
Dia memberitahuku bahwa malam akan segera memberikan singgasananya pada sang pagi

Aku melangkah ke ruang tamu
Kulihat di sana ada bapakku
Dia terlihat sedang menangis sambil memegang foto ibuku

Apa yang terjadi pak?
Tanyaku polos pada bapak
Tidak ada apa-apa nak
Sekedar mengenang ibumu
Yang entah kini berada di mana
Andai saja dia ada bersama kita
Mungkin kehidupan ini akan lebih berwarna

Sudahlah pak lupakan ibu
Aku sudah cukup bahagia bisa hidup bersama bapak
Mungkin ibu sudah menemukan kebahagiaan sendiri di sana
Kita tidak pantas memikirkanya

Jangan begitu nak
Sampai kapanpun dia tetap ibumu
Ibu yang sudah melahirkanmu
Kau harus tetap memanjatkan doa untuknya
Agar dia bisa kembali bersama kita

Tapi ibu jahat pak
Dia sudah meninggalkan kita berdua dalam kesengsaraan
Apa pantas kita merindukan dan mendoakan penjahat yang sudah menyengsarakan kita?

Berhentilah berkata seperti itu nak
Ibumu bukan seorang penjahat
Dia adalah seorang malaikat
Bapak yakin ibumu akan pulang di saat yang tepat
Sabar yah nak?
Bapak tahu kamu pasti marah sekali sama ibu
Tapi ingatlah nak dia surgamu

Tuhan Tak Pernah Adil Kepadamu

Awan hitam selalu menyelimutiku
Membuat pagiku selalu dilanda kekelaman
Aku mencoba bertanya pada matahari
Apakah sinarmu hanya untuk mereka yang ada di sana

Tumbuh di tengah kebencian
Besar di dalam cacian
Hidup tanpa cinta dan kedamaian
Teramat sulit untuk aku jalankan

Mencoba mencari jawaban di gelapnya malam tanpa bintang
Tentang arti hidup yang aku jalani
Sekali lagi tiada jawaban
Akupun semakin bimbang

Malaikat tertawa geli
Melihatku yang semakin kehilangan jati diri
Setan dan iblis mencoba membisikiku
Tuhan tak pernah adil kepadamu

Sebuah Perjalanan

Ayunan langkahku semakin berat

Sepintas seperti berjalan di tempat

Mencoba berlari menjemput mimpi

Cemooh dan teriakan pesimis terus kudapati

Semuanya sudah aku fikirkan

Perjalanan ini penuh dengan tekanan

Entah ilusi, halusinasi ataupun sugesti

Aku takan pernah menyerah itu pasti

Semua orang berhak mencaci

Tapi tidak untuk menghakimi

Tunggu saja suatu saat nanti

Kau akan menjilat ludahmu sendiri

Kesempatan selalu terbuka lebar

Sudah pasti aku harus bersabar

Doa dan usaha terus kulakukan

Hasil akhir ada di genggaman tuhan

Ini tentang sebuah perjalanan

Seorang anak manusia mencoba mengalahkan angan

Mimpi adalah kekuatanya

Doa dan usaha adalah senjatanya

13616897431539471025

Jumat, 29 Maret 2013

Puisi untuk Seorang Sahabat

Sahabatku yang kusayangi

Terimakasih sudah mendampingiku selama ini

Aku mengenalmu belum terlalu memang

Tapi aku yakin kau bisa menemaniku sepanjang nafasku

Adalah suatu kemewahan bisa memilikimu

Lebih mewah dari apapun yang ada di dunia ini

Saat ku terbang kau selalu mendampingiku dari belakang

Dan ketika kuterjatuh, kaulah yang pertama kali menangkapku

Sahabatku aku selalu berdoa sama tuhan

Agar kita selalu diberi umur panjang

Karena kutahu satu hari bersamamu takkan pernah sia-sia

Sahabatku tetaplah disampingku dan menjagaku

Menantang Hidup

Bila kau sudah tak yakin dengan langkah yang kau tempuh

Berhentilah sejenak sebelum kau benar-benar rapuh

Tetap berdiri dan kepalkan tangan

Aku yakin kau mampu terus bertahan

Rintangan selalu menghadang

Dan perjalananpun masih sangatlah panjang

Tidak ada gunanya kita mengeluh kawan

Seberat apapun hidup dan sebesar apapun masalah

Kita tetaplah lebih hebat dari keduanya

Hidup memang penuh dengan ketidakpastian

Tapi ia selalu menghadirkan banyak kemungkinan

Raihlah tanganku kawan

Aku selalu berdiri untukmu

Kemenangan hanya soal waktu

Ambilah semangatku agar kau mampu terus melaju

Teruslah berteriak

Sampai langit merasa muak

Jaket Lusuh Pemberian Kakak Perempuanku

Hari masih sangatlah gelap. Maklum Azan subuh baru saja berkumandang sekitar 10 menit yang lalu. Sepeda ontel yang kuparkir di samping rumah sudah siap menemaniku menaklukan dinginya udara pagi.

Aku seorang penjual koran. Pekerjaan memaksaku untuk selalu bangun lebih pagi dari yang lain. Aku harus secepatnya melesat sebelum ayam-ayam berkokok. Aku segera keluar dari rumah sambil menutup pintu. Aku sudah siap menaiki sepeda ontel kesayanganku. Tapi tiba-tiba ada suara perempuan memanggilku. Dan ternyata dia adalah kakak perempuanku. Lalu akupun segera menghampirinya.

“Ada apa memanggilku kak?”
Tanyaku pada kakak perempuanku.

“Ini de, udara di luar kan sangat dingin. Jadi kamu pakailah jaket ini. Ini jaket kakak dulu waktu masih SMA. Sudah sedikit lusuh memang. Tapi lumayan koq bisa sedikit melindungi tubuhmu dari dinginnya udara pagi.”
Jawab kakaku sambil memberi penjelasan.

“Oh iya makasih kak. Sini langsung aku pakai jaketnya.”

Setelah jaket kupakai, aku langsung mengayuh sepeda ontelku. Aku langsung menuju ke kota. Dari rumahku menuju ke kota membutuhkan waktu sekitar satu jam. Kota memang tempat favoritku menjual koran. Di sana banyak sekali kantor-kantor instansi. Dan di sana pegawainya banyak sekali yang berlangganan koranku.

Udara pagi benar-benar dingin. Wajar saja karena sekarang adalah musim kemarau. Dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh kakak perempuanku. Jaket lusuh ini cukup menghangatkan tubuhku dan terbukti ampuh melindungi diriku dari dinginnya udara pagi.

Melawan Angin

Kau yang merasa tak berdaya di tengah samudra kehidupan

Berdirilah dan kuatkan dirimu dengan senyuman

Semuanya harus kau lawan

Agar kau tak terperangkap dalam ketidakpastian

Berkah kehidupan ini sangat melimpah

Tak semestinya kau cepat menyerah

Tanggalkan rasa takut dan jalani hidup

Dan kuyakin sinarmu takkan meredup

Dengarkan bisikan jiwamu

Dan jujurlah pada hatimu

Hidup adalah sebuah perjalanan

Perjalanan yang penuh tantangan dan tekanan

Perjalananmu mungkin takkan tenang

Bagai melawan angin yang semakin kencang

Masa depan ini milikmu

Jika kau percaya pada impian dan kekuatanmu

Katanya Kangen (04)

Waktu terus berjalan, hingga tak terasa sekarang sudah bulan Desember. Sudah 6 bulan aku tidak bertemu dengan Hesti. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sangat merindukanya. Benih-benih cinta tumbuh subur justru saat aku sudah tidak bisa lagi bertatap muka denganya.

Rindu ini tersimpan rapih di hatiku. Dan sampai kapanpun akan tetap kusimpan. Ya siapa tahu suatu saat dia akan menanyakanya padaku. Rindu ini benar-benar keras. Sudah berulang kali kucoba untuk menghancurkanya, namun aku tak sanggup. Jadi aku biarkan saja rindu ini tersimpan utuh di hatiku.

Menyesal dan kecewa, itulah perasaanku saat ini. Menyesal karena aku tak pernah sadar bahwa Hesti sebenarnya sudah menyukaiku dari dulu. Dan kecewa karena dia tidak pernah membalas sms dan mengangkat teleponku selama ini.

Aku bingung harus berbuat apa lagi. Aku pingin sekali memperjuangkan cintaku, namun seolah-olah jalan tidak pernah memberiku kesempatan untuk. Jadi yang bisa kulakukan saat ini cuma pasrah terhadap keadaan.

Namun aku sadar. Bumi terus berputar. Aku tidak boleh berlarut-larut di dalam kesedihan ini. Aku harus bisa move on. Kalau jodoh tidak akan kemana, begitulah nasehat para orang tua.

****

Minggu pagi. Hari ini kantor tempatku bekerja tutup. Dan kebetulan hari ini juga bukan jadwalku jaga kantor. Aku akan memanfaatkan waktu libur yang singkat ini.

Dan jalan-jalan ke Pantai Pengandaran adalah ide yang cukup cemerlang. Aku tidak akan ke sana sendirian. Sudah pasti aku akan ditemani oleh sahabat setiaku Erik Setyo Wahyudi.

Tok….tok….tok

“Assalamualaikum”

“Walaikumsalam. Eh kamu rif, ayo sini masuk. Aku mau mandi dulu”.

“Eleh eleh eleh dari tadi ngapain aja kamu rik? Sudah siang begini baru mandi. Ayo cepetan, kalau sudah siang panas banget di pantai.”

“Hehehehehehe tenang mas bro. Mandiku cepet koq gak pake lama.”

***

Dah siap? Ayo kita cabut. Aku dan Erik segera meluncur ke Pengandaran.
Wah nikmati sekali ini. Pagi-pagi gini menikmati udara segar dan pemandangan indah pantai. Aku dan Erik duduk di sebuah perahu nelayan yang tergeletak di tepi pantai.

“Rik kamu tau gak kenapa kamu aku ajak ke sini?”
Tanyaku kepada Erik

“Meneketehe…., yang penting jangan nyuruh aku untuk berenang ke tengah laut aja. Hahahahahaha”
Jawab Erik sambil sedikit bercanda.

“Hahahahaha ketahuan kamu gak bisa berenang yah? Gini Rik. Aku mengajak kamu ke sini karena ini adalah tempat favoritnya Hesti. Dulu dia pernah mengatakan padaku bahwa dia paling seneng kalau jalan-jalan ke Pantai Pengandaran.”

“Wah kayaknya ada yang sedang kangen setengah mati ini. Tapi tenang saja rif. Aku baru denger kabar katanya Si Hesti akhir bulan ini akan pulang. Ini kan bulan Desember. Mungkin saja dia pingin menikmati libur akhir taun di Bandung.”

“Wah kata siapa kamu rik?
Jawabku sedikit penasaran

“Ya kata Pak Boss lah”
Jawab Erik berusaha meyakinkan

“Ya syukurlah Rik kalau begitu. Aku sudah kangen banget sama dia. Kalau ketemu dia, aku pingin sekali menanyakan kejelasan perasaanya padaku.”

Katanya Kangen (03)

Aku masih sedikit kesal. Hesti sama sekali tidak merespon telepon dan sms yang sudah aku kirimkan.
Sempat aku berfikir, aku cuma dipermainkan oleh Erik. Tapi tidak, Erik adalah sahabatku. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Dia tidak mungkin mempermainkanku seperti itu.

Waktu sudah menunjukan pukul 13.30. Aku belum melaksanakan sholat duhur. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Mushola di dekat kantor tempatku bekerja. Dan ternyata di sana sudah ada Pak Fandi. Sepertinya Pak Fandi baru saja selesai melaksanakan sholat duhur. Dan dia terlihat sedang asyik bercengkerama dengan seseorang lewat telepon. Aku segera menghampirinya dan menyapa beliau.

“Pak….”
Sapaku

“Iya….”
Jawab Pak Fandi.

Aku duduk disebelahnya sambil melepaskan sepatu dan kaos kakiku.

Selesai melepaskan sepatu dan kaos kaki, aku tidak langsung menuju tempat wudlu. Aku sempatkan dulu mengambil HP yang ada di kantong celanaku. Sambil mengecek siapa tahu ada sms balasan dari Hesti. Tapi hasilnya tetep saja nihil.

Kuamati di sebelahku, ternyata Pak Fandi masih asyik mengobrol di telepon. Tanpa disengaja akhirnya aku juga ikut menyimak obrolan Pak Fandi di telepon.

“Jadi kapan rencananya kamu pulang ke Bandung?”

“Iyalah, Aku sudah kangen banget sama kamu Bu Dokter.?”

“Hahahahaha Hesti Hesti, sibuk kuliah terus kapan menikahnya?”

Hah….?????¿¿¿¿

Jatungku seperti langsung berhenti seketika setelah mendengarkan obrolan Pak Fandi di telepon.
Ternyata orang yang dari tadi ngobrol sama Pak Fandi di telepon adalah Hesti.

Aku benar-benar terkejut dan shok. Ternyata Hesti lebih memilih mengobrol dengan Pak Fandi di telepon dari pada membalas SMSku. Masih dalam kondisi shok akhirnya aku memutuskan untuk mengambil air wudlu dan segera melaksanakan sholat duhur.

Sholatku benar-benar tidak khusyu karena terus kepikiran obrolan Pak Fandi dengan Hesti di telepon tadi. Selesai sholat duhur aku langsung menuju pos satpam. Dan di sana aku ceritakan semuanya kepada Erik.

“Rik tadi waktu aku di mushola, aku bertemu dengan Pak Fandi. Di mushola tadi Pak Fandi telpon-telponan dengan seseorang. Setelah aku simak obrolanya, ternyata orang yang ngobrol di telepon dengan Pak Fandi itu adalah Hesti. Orang yang dari tadi tidak mau membalas SMSku.”

“Hah ? Yang bener Rif?”
Jawab Erik sedikit tidak percaya.

“Beneran rik. Aku dengar tadi di telepon, Pak Fandi menanyakan kapan kamu akan pulang kepada Hesti. Dia juga mengatakan, katanya dia kangen sama Hesti. Sebenernya ada hubungan apa sih Rik antara Pak Fandi dengan Hesti?”

“Wah aku juga gak nyangka rif. Setau saya, dulu memang Pak Fandi pernah pacaran sama Hesti. Tapi sudah lama putus kok. Mereka putus sebelum Hesti memutuskan pergi ke Inggris.”
Jawab Erik sambil berusaha menjelaskan kepadaku.

“Serius Rik? Kalau sudah putus kenapa mereka masih berhubungan? Apa mungkin mereka berdua masih saling mencintai? Kamu tau gak Rik apa yang menyebabkan mereka putus?”

“Kalau yang itu aku juga gak tau rif. Tapi kalau penyebab mereka putus aku tau Rif. Ibunya Hesti gak merestui hubungan mereka berdua. Ibunya Hesti sudah tau kalau Pak Fandi itu sudah dijodohkan sama orang tuanya. Dan orang yang jidohkan dengan Pak Fandi itu adalah anak dari temenya Ibunya Hesti rif.”

Perasaanku semakin tak menentu setelah mendengarkan penjelasan-penjelasan dari Erik. Ternyata Hesti lebih memilih ngobrol dengan Pak Fandi di telepon dari pada membalas SMSku. Aku semakin tidak percaya dengan Hesti yang katanya kangen padaku.

Katanya Kangen (02)

“Oh iyalah rik, kalau memang begitu besok akan ku SMS dia. Kalo sekarang takutnya ngganggu. Jam segini mungkin di Inggris masih sore.”

“Ya ela masa cuma sms? Telpon dong. Hahahahaha”

“Mahal woy, secara ke luar negeri gitu loh”

“Namanya juga cinta rif. Butuh perjuangan.”

“Iya iya. Ya udah aku tidur dulu yah? Dah ngantuk ini.”

“Oke bro. Met istirahat yah? Sampai ketemu lagi besok pagi.”

“Sipp. Ya udah, Assalamualaikum”

“Walaikumsalam”

Setelah obrolan selesai, telpon kututup. Kutaruh HP di meja dekat kasur dan langsung deh terbang melayang menuju alam mimpi.

¤Keesokan Harinya Di Tempat Kerja¤

Saat sedang duduk di kantor satpam tiba-tiba aku dipanggil oleh seseorang.

“Syarif….”

“Saya pak” jawabku

“Ke sini, saya mau minta tolong”

“Siap pak”

Yang memanggilku ternyata adalah Pak Fandi. Dia masih muda, umurnya baru 26 tahun atau lebih tua 2 tahun dari aku. Dia salah satau pegawai di perusahaan ini. Dia bertugas di bagian keuangan.
Ternyata dia mau minta tolong foto copykan sesuatu kepadaku.

“Syarif minta tolong foto copykan ini ya? 5 rangkap, ini uangnya.”
Ucapnya sambil menyodorkan beberapa lembar kertas dan uang 20rb kepadaku.

“Siap pak”
Jawabku sambil bergegas ke luar untuk menuju tempat foto copy.

Setelah selesai memfoto copy. Aku kembali ke kantor dan segera menyerahkan hasil foto copyan tadi kepada Pak Fandi.

Tok…tok…tok

“Masuk”

Ucap pak fandi

Lalu akupun masuk dan menyerahkan hasil foto copyanya ke Pak Fandi.

“Oke, terima kasih ya rif”

“Sama-sama pak”

Aku segera keluar dan menuju pos satpam. Di sana sudah ada Erik dan Pak Junaedi yang sedang berjaga.

“Disuruh ngapain tadi rif”
Tanya Erik kepadaku

“Itu Pak Fandi minta tolong foto copy kan sesuatu”

“Ohh…”

Aku menengok ke jam dinding. Ternyata waktu sudah menunjukan puku 11.00 siang. Lalu aku mengambil HP yang ada di saku celana dan mencoba SMS Hesti.”

“Assalamualaikum. Met siang Bu Dokter. Gimana kbarnya”
Begitulah bunyi SMS yang aku kirim kepada Hesti

Sudah 20menit berlalu, tapi tetep Hesti belum membalas SMSku. Lalu akupun mencoba untuk menelponya. 3 kali aku menelpon dia, dan hasilnya nihil. Dia tidak mengangkat telpon dariku.
Lalu akupun menuju ke luar, menghampiri Erik yang sedang berdiri di dekat pintu gerbang.

“Rik tadi aku sudah SMS Hesti, tapi dia tidak membalas. Dan kucoba telpon tapi tidak diangkat.”
“Ya sabar lah rif. Mungkin di sana dia lagi sibuk. Tunggu ajalah”

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Dan sekarang sudah menunjukan pukul 13.00 WIB.

“Rik, gimana ini Hesti? Katanya kangen dan pingin ketemu. Tapi diSMS gak bales, ditelpon gak diangkat. Apa mungkin dia sudah tidak kangen lagi yah?"

“Hahahahaha wah gak taulah rif. Coba ditunggu saja sampai nanti malam.”

“Sampai malam apa? Katanya kangen. Mungkin cuma kangen sesaat aja dia. Gak mungkinlah dia gak bales SMSku dan angkat telponku kalau memang dia benar-benar kangen. Biasanya kalau orang dapat SMS dari seseorang yang dirindukanya kan perasaanya seneng banget. Lah ini koq malah gak ada respon sama sekali. Aku jadi bingung sama dia. Sebenernya maunya apa sih?”

Katanya Kangen (01)

Waktu sudah menunjukan pukul 21.00 WIB. Ragaku sudah lelah dan mataku sudah tak bersahabat. Akhirnya kuputusan untuk menuju kamar tidur. Setelah sampai di kamar tidur aku dikagetkan oleh HPku yang berbunyi. Aku ambil HP dan kubuka. Ternyata ada SMS dari Erik. Erik adalah teman kerjaku. Kami berdua adalah satpam di salah satu perusahaan otomotif terkenal di kota Bandung.

“Syarif minta nomernya Hesti dong”
Begitulah bunyi sms yang kudapat dari Erik.

Langsung kubalas, “Untuk apa kamu minta nomernya Hesti?”

Diapun menjawab “Bukan untuk apa-apa rif, aku cuma pingin tau aja”

Tanpa pikir panjang langsung deh aku kirim kontaknya Hesti ke Erik lewat sms.

Selang beberapa menit Erik langsung menelponku. Dan kami berduapun ngobrol di telepon.

“Rif kamu pernah gak SMS’an atau telpon-telponan sama Hesti?”

“Gak pernah. Emangnya kenapa?”

“Masa gak pernah? Payah sekali sih kamu. Sudah tau nomernya kok malah disia-siakan.”

“Aku gak beranilah rik. Dia akan anak bos. Aku cuma satpam. Kalau orang tuanya tau, bisa dipecat aku."

“Wah wah wah cemen banget sih kamu rif. Rif tau gak? Sebenernya si Hesti itu suka sama kamu.”

“Haduh ngarang banget deh kamu. Suka dari Hongkong apa? Dia itu dokter, anak bos lagi. Sedangkangkan aku ini cuma satpam. Tampang dan gaji sama-sama pas-pasan. Jadi gak mungkinlah dia suka sama aku. Lagiyan aku juga tau diri kok”.

“Hemm dibilangin gak percaya. Dia sendiri yang ngomong ke aku rif. Aku sering BBM’an sama dia. Dia itu benar-benar suka sama kamu. Katanya dia kangen banget sama kamu & pingin ketemu. Kamu itu memang satpam, tapi wajahmu lumayan tampan rif. Badanmu juga kekar. Kamu mirip sama artis Primus Yustisio. Jadi wajar saja kalo si Hesti suka sama kamu”

“Hah masa sih? Aku tetep gak percaya deh rik. Ini pasti cuma akal-akalan kamu supaya aku mau ngedeketin Hesti kan?”

“Huh dibilangin koq susah banget kamu sih rif. Kamu masih ingat gak? Sebulan yang lalu ketika si Hesti pamitan sama kita. Dia itu pamit mau ke Inggris. Dia mau melanjutkan study S2 ilmu kedokteranya di sana. Aku lihat jelas raut mukanya si Hesti pada waktu itu. Waktu bersalaman dengan kamu, dia terlihat sedih sekali dan kayak mau nangis gitu.”

“Ya ela itu sih udah biasa kali. Yang namanya orang mau pergi jauh meninggalkan keluarga ya pasti sedihlah.”

“Iya rif. Tapi yang bikin si Hesti sedih itu kamu. Dia sedih karena berpisah denganmu. Tadi pagi dia BBM’an ma aku. Dia nitip salam untukmu. Katanya dia kangen banget & pingin ketemu sama kamu.”

¤Bersambung¤

Tangisan Sang Striker

Kemarin adalah pertandingan maha penting buatku. Aku melawan mantan tim yang pernah kubela. Tim yang sudah membesarkanku menjadi salah satu striker terbaik di Indonesia. Dialah PSCS Cilacap.

Sebelum hijrah ke PSIS Semarang, aku memang pernah bermain untuk PSCS Cilacap selama 7 musim. Aku datang ke sana dalam kondisi kosong. Kemudian 7 tahun digembleng, akhirnya aku menjadi salah satu striker top Indonesia. PSCS sudah seperti rumah buatku. Di sana aku mempunyai banyak teman dan saudara. Di sanalah skill sepak bolaku diasah. Dari mulai tidak bisa apa-apa sampai menjadi striker paling ditakuti di Indonesia seperti sekarang. Skill dan visi bermainku yang cukup menawan ternyata mampu membuat klub besar sekaliber PSIS Semarang kepincut. Tepat akhir musim kemarin, aku resmi di boyong ke stadion Jati Diri Semarang untuk memperkuat PSIS. PSCS benar-benar membekas di hatiku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakan PSCS. Hatiku akan tetap berada di sana walaupun ragaku di PSIS.

Dan kemarin sore adalah sebuah pertandingan yang paling tidak saya sukai. PSIS Semarang bertemu dengan PSCS Cilacap di Gelora Bung Karno Jakarta dalam laga Bigmatch yang bertajuk “Final Copa Indonesia”.

Di satu sisi aku merasa senang karena bisa bernostalgia dengan teman-teman lamaku. Namun di sisi yang lain aku merasa sedih karena satu diantara kita akan ada yang tersakiti.

Dan apa yang aku khawatirkan ternyata menjadi kenyataan. Setelah bermain 0:0 di babak pertama, PSIS langsung tancap gas di babak kedua. Dan PSIS pun berhasil unggul tepat di menit ke-70 melalui gol yang aku cetak sendiri. Perasaanku pada saat itu benar-benar tidak karuan. Senang bercampur sedih. Sempat teman-teman satu timku mengajaku berselebrasi, namun aku menolaknya. Aku lebih memilih diam untuk menghormati mantan tim yang sudah membesarkan namaku.

Menit ke-93 atau masa injured time adalah puncaknya. Aku mencetak gol yang kedua untuk memperbesar keunggulan menjadi 2:0. Selang beberapa detik setelah aku mencetak gol, peluit panjang dibunyikan sebagai tanda berakhirnya pertandingan. Semua pendukung PSIS riuh bergembira menyambut kemenangan berharga ini. Para pemain dan oficial tim berlari ke tengah lapangan untuk berselebrasi dan merayakan kemenangan ini. Mereka semua benar-benar bergembira, namun itu tidak terjadi padaku. Hatiku benar-benar hancur lebur setelah mencetak 2 gol. Teman-temanku memaksaku untuk melakukan selebrasi. Namun aku tetap menolaknya. Aku berjalan ke pinggir lapangan untuk menemui pelatih PSCS. Aku bersimpuh di kaki sang pelatih lalu kemudian menangis merengek-rengek seperti anak kecil. Tangisanku adalah tangisan penderitaan dan kekecewaan.

Aku tidak pernah menyangka, kenapa aku bisa sekejam itu. Aku tahu betul visi dan misi PSCS Cilacap. Mereka belum pernah mendaptkan satu gelarpun, namun mereka selalu menargetkan gelar juara di setiap musimnya. Dan kemarin adalah salah satu peluang terbaik yang mereka miliki untuk mewujudkan mimpi. Namun mimpi besar mereka yang sudah di depan mata terpaksa dihancur leburkan oleh seorang penghianat seperti aku ini. Semua pemain dan pendukung PSCS Cilacap pasti sangat marah kepadaku. Aku tak ubahnya seorang penghianat yang tak tau balas budi.

Aku terus menangis tanpa henti meratapi kesalahan besar yang sudah aku lakukan. Aku mencoba untuk meminta maaf kepada pelatih, pemain dan pendukung PSCS. Namun itu semua justru membuat tangisanku semakin keras. Sampai pada saat ceremony pemberian pialapun aku masih tetap menangis. Aku segera turun dari podium kemudian keluar lapangan sambil membuang medali yang kudapatkan ke tong sampah.

Aku tidak pantas berbahagia dan menari-nari di atas penderitaan saudara-saudaraku.
Maafkan aku saudaraku, aku tak bermaksud mengancurkan mimpi kalian.

¤Tamat¤

Aku Tak Mampu Membaca Matanya

Pagi itu adalah pertemuan kami berdua.

Di dalam sebuah acara seminar di kampus tempatku kuliah.

Aku bertemu dengan seorang gadis yang benar-benar cantik.

Badanya tinggi, langsing, rambutnya hitam lurus dan kulitnya putih.

Saat aku sedang duduk di kursi peserta seminar bagian paling depan, tiba-tiba dia mengampiriku.

Lalu dia menyapaku dan mengajaku berkenalan.

Nama gadis cantik itu adalah Mawar.

Dia meminta nomer hape dan alamat rumahku.

Lalu setelah aku kasih nomer hape dan alamat rumahku, dia langsung bergegas pergi.

Perasaanku pada saat itu biasa-biasa saja.

Hingga ada salah satu teman yang mengirim sms padaku.

“Cie kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nih?”

Begitulah bunyi sms yang aku dapat dari temenku.

Akupun langsung membalasnya

“Maksudnya apa bro?”

Dia menjawab
“Ya tadi yang nyamperin kamu itu adalah salah satu penggemarmu bro?”

Aku masih bingung dengan sms temanku itu. Dan akupun langsung segera membalas untuk meminta penjelasan.

“Pengemar apaan bro? Emangnya artis punya penggemar.”

“Ya gadis yang bernama Mawar tadi itu adalah penggemar kamu bro. Dia anak kedokteran. Dia sudah lama mengamati kamu. Dia itu teman SMAku. Dia sering curhat sama aku. Katanya sekarang dia lagi naksir sama kamu.”

Aku tetap saja bingung setelah mendapatkan penjelasan temanku.

Aku gak percaya. Mana mungkin ada gadis cantik anak kedokteran yang suka padaku.

Padahal tampangku kan biasa-biasa saja.

Lagiyan tadi saat aku sedang ngobrol dan menatap matanya, kayaknya gak ada deh tanda-tanda kalau dia naksir sama aku.

Atau jangan-jangan aku yang tak mampu membaca matanya?

Pacarku Seorang Gadis Panggilan (Chapter 2)

Saat mobil fortuner warna hitam itu sudah memasuki area hotel, aku mencoba untuk menelpon Lusi kembali. Namun kali ini hapenya dinonaktifkan.

Hatiku sebenarnya masih diselimuti tanda tanya besar. Lusi menolak ajakanku untuk jalan-jalan dengan alasan mau mengerjakan tugas kuliah di rumah temanya. Dan yang sebenarnya terjadi, malah dia pergi berduaan dengan pria lain. Bahkan pakai acara masuk ke dalam hotel segala.
Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah.

***

Keesokan harinya aku mencoba menelpon Lusi Kembali.

“Assalamualaikum. Pagi sayang.”

“Walaikumsalam. Pagi juga sayang. Wah sudah bangun yah? Hehehehehe”

“Hahaha ya sudah dong. Ini malah sudah wangi. Sayang gimana? Tugas kuliahnya sudah selesai belum?”

“Alhamdulilah sudah selesai sayang. Kenapa? Mau aku temenin jalan-jalan hari ini apa?”

“Oh syukurlah kalau sudah selesai. Iya ini sayang dari kemarin aku pingin banget jalan-jalan. Kamu bisa nemenin kan?”

“Iya bisa sayang. Ya udah kamu langsung ke rumah aja yah? Jemput aku.”

“Oke sayang. Aku siap meluncur ke situ. Sampai ketemu lagi nanti yah? Assalamualaikum”

“Walaikumsalam”

**

Dan akupun langsung meluncur ke rumah Lusi. Aku ajak Lusi jalan-jalan naik motor keliling kota Palembang. Akhirnya sampailah kita berdua di depan sebuah hotel.

“Sayang kenapa berhenti di sini?”

“Enggak kenapa-napa sayang. Aku cuma pingin melihat hotel ini saja. Hotelnya bagus yah? Megah banget. Pasti yang menginap di sini adalah orang-orang besar.

“Eee…. Iyalah sayang. Novotel kan merupakan salah satu hotel terbaik di kota Palembang. Yang menginap di situ rata-rata pejabat dan pengusaha.”

“Kamu pernah menginap di situ gak sayang?”

“Hah ??? Maksudnya apa sayang? Koq nanyanya gitu?”

“Gak ada maksud apa-apa sayang. Aku cuma pingin tanya saja. Soalnya tadi malam aku melihat ada cewe mirip banget kamu, masuk ke dalam hotel itu bersama seorang pria.”

“Hah??? E e e e iya mungkin kebetulan dia mirip sama aku sayang.”

“Udah deh sayang. Aku gak mau kita berdua ribut hanya karena sesuatu yang belum jelas. Sekarang jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi sejelas-jelasnya. Asal kamu tau sayang, tadi malam aku pergi ke Palembang Square untuk mencari sepatu. Dan di sana aku melihat kamu berduaan bergandengan tangan dengan seorang pria. Aku berusaha menelponmu tapi kamu tidak pernah mengangkat. Lalu aku ikuti kalian berdua. Dan ternyata kalian berdua masuk ke dalam hotel ini.
COBA SEKARANG JELASKAN, NGAPAIN AJA KAMU DI DALEM BERSAMA PRIA ITU !!!!!
BUKANKAH TADI MALAM KAMU SEHARUSNYA MENGERJAKAN TUGAS KULIAH DI RUMAH TEMEN KAMU !!!!!
AYO NGOMONG JANGAN DIAM AJA !!!!
APA PERLU AKU MASUK KE DALAM HOTEL ITU DAN MENANYAKANYA KEPADA PETUGAS HOTEL HAH !!!!!
AYO JAWAB !!!!!

” I ya a a sayang aku akan jelaskan yang sebenarnya. Tapi kamu jangan marah yah?. Iya aku memang tadi malam diboking oleh pria itu untuk menemaninya tidur.”

“APAH !!! TEGA KAMU YAH LUSI MEMBOHONGI AKU KAYAK GITU !!! KENAPA KAMU MELAKUKAN SEMUANYA ITU !!! DIMANA OTAK DAN HARGA DIRI KAMU !!!”

“Sayang maafkan aku yah? Aku tak bermaksud membohongimu. Asal kamu tau sayang, aku melakukan semuanya itu bukan tanpa alasan. Aku melakukanya karena aku butuh uang untuk biaya kuliah dan untuk menyekolahkan adiku. Kamu tau kan ayahku sudah meninggal. dan ibuku lumpuh. Aku harus menanggung biaya hidup mereka semua. Kamu harus paham itu !!!!!”