Rasa capek yang saya dapatkan dari acara jalan santai tadi pagi,
kayaknya masih betah bersemayam di dalam tubuh saya. Badan terasa pegel
semua, membuat saya malas melakukan aktifitas. Dan akhirnya saya cuma
bisa tiduran di dalam kamar.
Sedang asyik-asyik tiduran di kamar, tiba-tiba pikiran saya terbang dengan sendirinya ke masa silam. Masa di mana saya masih aktif menjadi mahasiswa atau kurang lebih 4 tahun yang lalu.
Entah kenapa tiba-tiba pikiran saya melayang ke masa itu. Masa-masa kuliah memang mustahil untuk bisa dilupakan. Itulah masa-masa paling berpengaruh dalam hidup Rahman Mourinho.
Setelah pikiran saya terbang melayang ke sana ke mari akhirnya sampai juga di sebuah titik. Titik tersebut bernama “ASRAMA PGSD”. Tempat teresbutlah yang dijuluki sebagai “Istananya Calon Guru”. Istananya calon guru itu sangat megah dan berdiri kokoh. Ada sebanyak 80 mahasiswa yang tinggal di istana tersebut. 40 mahasiswa putra dan 40 mahasiswa putri. Istana tersebut adalah salah satu fasilitas milik Universitas Sebelas Maret (UNS).
Saya pribadi pernah 3 tahun mendiami istana tersebut. Dengan catatan, 1 tahun saat masih D2 dan 2 tahun saat S1. Sebelum masuk ke istana tersebut, saya memang pernah ngekos di luar selama 1 tahun.
Saya masuk ke istana tersebut pada tahun 2008 atau pada saat saya mau masuk ke semester 3. Kamar saya adalah di blok selatan atas, nomor C16. Satu kamar di istananya calon guru itu diisi oleh 2 orang. Pada saat pertama kali masuk istana, saya sekamar dengan mas Miftakhul Firdauz. Dia adalah salah satu penghuni istana yang paling rajin. Hobinya adalah bersih-bersih kamar. Semua yang ada di dalam kamar selalu dia bersihkan. Mulai dari lantai, meja belajar, lemari pakaian, korden, dan kaca jendela.
Dia adalah seorang pria tapi rajinnya itu mengalahkan ibu-ibu rumah tangga. Itulah yang membuat saya salut sama dia. Untuk soal kebersihan dia sangat perfect sekali. Saya banyak belajar soal kebersihan dan kerapihan dari dia.
Tapi sayangnya saya sekamar sama dia cuma sebentar. Cuma beberapa minggu. Dia memutuskan untuk pindah kamar karena merasa tidak kuat dengan hawa di dalam kamar C16 yang cukup panas. Dan diapun memutuskan untuk pindah ke kamar C11. Dia disana juga cuma sebentar. Dia akhirnya pindah lagi ke kamar C12. Dia sekamar sama mas Evik Dwijatmiko. Sedangkan saya di kamar C16 tetap sendirian. Pada saat pertama kali datang ke istana, memang penghuninya belum begitu banyak. Karena pada saat itu memang sedang masa liburan akhir semester. Dan istananya calon guru mulai banyak penghuninya saat mahasiswa-mahasiswa baru sudah mulai masuk.
Ini sekedar cerita pembuka saja, kapan-kapan akan saya lanjutkan kembali ceritanya. Istananya calon guru itu menyimpan sejuta cerita dan sejuta misteri. Kalau dibukukan mungkin akan menjadi tetralogi. Jadi cukup sampai di sini dulu yah teman-teman? Kapan-kapan disambung lagi ceritanya.
Kalian Luar Biasa
Lanjut…..
Sedang asyik-asyik tiduran di kamar, tiba-tiba pikiran saya terbang dengan sendirinya ke masa silam. Masa di mana saya masih aktif menjadi mahasiswa atau kurang lebih 4 tahun yang lalu.
Entah kenapa tiba-tiba pikiran saya melayang ke masa itu. Masa-masa kuliah memang mustahil untuk bisa dilupakan. Itulah masa-masa paling berpengaruh dalam hidup Rahman Mourinho.
Setelah pikiran saya terbang melayang ke sana ke mari akhirnya sampai juga di sebuah titik. Titik tersebut bernama “ASRAMA PGSD”. Tempat teresbutlah yang dijuluki sebagai “Istananya Calon Guru”. Istananya calon guru itu sangat megah dan berdiri kokoh. Ada sebanyak 80 mahasiswa yang tinggal di istana tersebut. 40 mahasiswa putra dan 40 mahasiswa putri. Istana tersebut adalah salah satu fasilitas milik Universitas Sebelas Maret (UNS).
Saya pribadi pernah 3 tahun mendiami istana tersebut. Dengan catatan, 1 tahun saat masih D2 dan 2 tahun saat S1. Sebelum masuk ke istana tersebut, saya memang pernah ngekos di luar selama 1 tahun.
Saya masuk ke istana tersebut pada tahun 2008 atau pada saat saya mau masuk ke semester 3. Kamar saya adalah di blok selatan atas, nomor C16. Satu kamar di istananya calon guru itu diisi oleh 2 orang. Pada saat pertama kali masuk istana, saya sekamar dengan mas Miftakhul Firdauz. Dia adalah salah satu penghuni istana yang paling rajin. Hobinya adalah bersih-bersih kamar. Semua yang ada di dalam kamar selalu dia bersihkan. Mulai dari lantai, meja belajar, lemari pakaian, korden, dan kaca jendela.
Dia adalah seorang pria tapi rajinnya itu mengalahkan ibu-ibu rumah tangga. Itulah yang membuat saya salut sama dia. Untuk soal kebersihan dia sangat perfect sekali. Saya banyak belajar soal kebersihan dan kerapihan dari dia.
Tapi sayangnya saya sekamar sama dia cuma sebentar. Cuma beberapa minggu. Dia memutuskan untuk pindah kamar karena merasa tidak kuat dengan hawa di dalam kamar C16 yang cukup panas. Dan diapun memutuskan untuk pindah ke kamar C11. Dia disana juga cuma sebentar. Dia akhirnya pindah lagi ke kamar C12. Dia sekamar sama mas Evik Dwijatmiko. Sedangkan saya di kamar C16 tetap sendirian. Pada saat pertama kali datang ke istana, memang penghuninya belum begitu banyak. Karena pada saat itu memang sedang masa liburan akhir semester. Dan istananya calon guru mulai banyak penghuninya saat mahasiswa-mahasiswa baru sudah mulai masuk.
Ini sekedar cerita pembuka saja, kapan-kapan akan saya lanjutkan kembali ceritanya. Istananya calon guru itu menyimpan sejuta cerita dan sejuta misteri. Kalau dibukukan mungkin akan menjadi tetralogi. Jadi cukup sampai di sini dulu yah teman-teman? Kapan-kapan disambung lagi ceritanya.
Kalian Luar Biasa
Lanjut…..