Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Posisi Duduk Menentukan Prestasi Siswa

Mencoba flash back ke masa-masa SMA. Masa-masa sekolah yang penuh warna dan makna. Dulu sewaktu SMA saya mempunyai seorang teman yang cukup rajin sekali. Dia selalu berangkat lebih pagi dari pada siswa yang lainya. Namun yang membuat saya heran adalah walaupun dia berangkatnya paling pagi tetapi dia lebih memilih untuk duduk di bangku paling belakang. Dia sama sekali tidak mau duduk di bangku paling depan.

Karena merasa heran dan penasaran, sayapun mencoba bertanya kepada teman saya tersebut mengenai alasan dia berangkat sekolah paling pagi dan memilih duduk di bangku paling belakang. Dan ternyata jawaban dia sangat simpel. Dia memilih duduk di bangku paling belakang karena posisi duduk itu menentukan prestasi. Orang kalau mau punya prestasi bagus kata dia harus duduk di bangku paling belakang. Bangku paling belakang adalah bangku paling aman dan strategis. Kalau duduk di bangku paling belakang kata teman saya itu jarang sekali mendapatkan pengawasan dari guru. Sehingga kalau sedang ujian bisa nyontek tanpa harus ketahuan.

Dengan begitu maka nilai ujianpun akan bagus dan prestasipun juga mentereng. Terbukti teman saya yang satu ini jarang sekali remidi dan prestasinya cenderung memuaskan.

Hayo buat para guru harus hati-hati yah dengan strategi negatif yang pernah diperagkan oleh teman saya dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA. Mungkin dari sekian banyak siswa kita ada sebagian yang menganut aliran seperti itu. Sehingga guru harus berfikir cerdas kalau tidak mau dibodohi sama siswa.

Belajar pada Sejarah

Jangan belajar padaku nak. Tapi belajarlah pada sejarah. Karena sejarah adalah guru kehidupan. Sedangkan gurumu ini adalah orang yang sudah melupakan sejarah. Gurumu ini lupa, bahwa dulu juga pernah menjadi seorang murid sama seperti kalian.

Maafkan gurumu ini yah nak? Jika selama ini gurumu sudah sering membuat kalian menderita.

Gurumu ini cuma manusia biasa, bukan malaikat. Kalau mau jadi orang hebat belajarlah pada sejarah, pasti kalian semua akan mendapatkan banyak pelajaran berharga. Sejarah sudah membuktikan, bahwa hidup berasal dari mimpi. Jadi kalian kalau mau tetap hidup , harus punya mimpi nak. Orang hidup yang tidak punya mimpi sebenarnya ia telah mati dalam kehidupanya.

Mimpilah setinggi-setingginya nak. Tidak usah takut. Sebab kalaupun terjatuh, kamu masih tetap duduk diantara bintang-bintang.

Bermimpi itu gratis nak. Maka dari itu, mimpilah yang besar. Orang besar selalu terlahir dari seorang pemimpi.

Belajar pada sejarah. Belajar pada kekuatan mimpi.

Mendewakan PTK Sama Saja Mendewakan Kebohongan

Sampai sekarang saya masih heran. Zaman sudah sedemikian majunya tapi kok masih saja banyak orang dan para guru yang mendewakan PTK atau Penelitian Tindakan Kelas.

Padahal jenis penelitian ini kan sudah ditemukan sejak puluhan tahun yang lalu. PTK atau yang bahasa Inggrisnya adalah Clasroom Action Research ini memang sekarang sedang digandrungi oleh para guru. Karena PTK menjadi syarat mutlak untuk kenaikan pangkat golongan dari IVA ke IVB.

Membicarakan soal PTK, jadi teringat dosen saya dulu ketika masih kuliah. Namanya adalah Dr.H.Y.Padmono, M.Pd. Beliau adalah seorang doctor spesialis ilmu penelitian. Jadi soal penelitian, beliaulah pakarnya. Dan saya punya catatan menarik tentang beliau. Dulu sewaktu masih kuliah, Pak Pad pernah mengharamkan yang namanya PTK kepada para mahasiswanya. Jadi bagi para mahasiswa yang ingin menjadikan beliau sebagai dosen pembimbing skripsi, jangan berani-berani membuat skripsi bergenre PTK. Karena beliau ini memang sangat anti sekali dengan yang namanya PTK. Dimata beliau PTK tak ubahnya seperti sekumpulan sampah.

Kenapa bisa begitu? Alasanya sangat logis. Karena PTK sudah mendidik mahasiswa untuk berbuat bohong. Dan mahasiswa yang notabenya adalah calon guru sangat tak pantas berlaku bohong seperti itu. Kata beliau, seorang peneliti itu boleh salah asal jangan bohong. Seorang peneliti harus mempunyai sikap ilmiah. Jujur adalah satu contoh sikap ilmiah. Dan beliau juga mengungkapkan bahwa peneliti itu berbeda dengan guru. Kalau peneliti boleh salah asal jangan bohong. Tetapi kalu guru tidak boleh salah dan juga tidak boleh bohong. Guru kalau mengajarkan pada murid 4×4=17 itu fatal sekali akibatnya.
Lalu adakah hubungan antara PTK dengan kebohongan? Jelas ada. Para mahasiswa ataupun guru rata-rata beranggapan bahwa yang namanya PTK itu harus berhasil. Padahal faktanya tidak begitu. PTK boleh saja gagal, tetapi para mahasiswa ataupun guru sering merasa malu kalau PTK yang dia lakukan gagal. Sehingga mereka mau tidak mau harus memanipulasi data hasil penelitian supaya PTKnya bisa disebut berhasil. Contohnya: ada seorang guru yang ingin meningkatkan hasil belajar matematika di kelas 6 SD tentang materi bangun ruang menggunakan metode Quantum Teaching.

Tapi setelah diadakan tindakan kelas, ternyata hasil belajar siswa itu tidak naik. Berarti PTKnya gagal. Untuk menutupi kegagalan tersebut agar terlihat berhasil. Sang guru memanipulasi data. Nilai-nilai siswa dinaikan semua sehingga terlihat ada kenaikan dan PTKnyapun bisa disebut berhasil. Disinilah letak kebohongan yang pertama.

Kemudian selain kebohongan yang pertama ternyata masih ada lagi kebohongan yang kedua. Contohnya adalah jika kasus yang sudah saya jelaskan di atas sebelumnya ternyata berhasil. Hasil belajar matematika di kelas 6 materi bangun ruang ternyata meningkat setelah diadakan tindakan kelas. Dan gurupun mengatakan dalam laporan penelitianya bahwa metode Quantum Teaching bisa meningkatkan hasil belajar matematika. Pertanyaan saya adalah apakah benar hasil belajar matematika di kelas 6 meningkat karena siswa diajar menggunakan metode Quantum Teaching?

Jawabanya adalah belum tentu. Karena masih ada variabel lain yang ikut berpengaruh. Variabel lain itu contohnya adalah guru itu sendiri. Jadi hasil belajar matematika di kelas 6 meningkat itu bisa saja karena gurunya yang mengajar berwajah tampan atau cantik. Siswa kalau diajar sama guru yang tampan atau cantik pasti akan semangat sekali belajarnya. Jika semangat belajarnya tinggi otomatis hasil belajarnyapun akan ikut tinggi atau naik. Dan jika guru masih tetap keras kepala tanpa memperhatikan variabel lain, berarti guru sudah melakukan kehobongan. Guru yang nekat mengatakan hasil belajar matematika siswa kelas 6 naik karena metode Quantum Teaching adalah guru pembohong. Hasil belajar matematika meningkat karena gurunya kok dibilang karena metode Quantum Teaching. Disitulah letak kebohongan yang kedua.

Perlu kita semua renungkan bahwa PTK itu tidak harus berhasil. Karena yang diutamakan dalam PTK bukan cuma hasilnya melainkan prosesnya juga. Dan jenis peneletian juga bukan cuma PTK, tetapi masih banyak jenis penelitian yang lain. Semoga saja pemerintah yang diwakili oleh kemendiknas, LPMP, dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten dan instansi-instansi lainya mau segera membuka mata mengenai masalah ini. Jangan membatasi guru hanya untuk belajar PTK. Buatlah aturan baru, misal guru harus membuat penelitian bergenre kuantitatif kalau mau naik pangkat dari IVA ke IVB. Ini semua bertujuan agar para guru tidak lagi mendewakan kebohongan.

13627156641275377226

Guru Yang Tidak Tahan Kritik Boleh Dimasukan ke Dalam Tong Sampah

Salah satu judul film favorit saya adalah “GIE”. Film yang dibintangi oleh Nicolas Saputra ini sudah saya tonton berkali-kali, namun saya tidak pernah merasa bosan. Ada banyak sekali pelajaran berharga yang bisa saya petik dari film tersebut. Salah satunya adalah pentingnya jiwa besar dan sikap terbuka terhadap kritik yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Dalam film GIE diceritakan, sewaktu masih SMA Soe Hok Gie kecil pernah melancarkan protes keras terhadap gurunya di waktu pelajaran sastra. Kurang lebih kalimatnya seperti ini:

Gie: “Pak bukankah ada perbedaan antara penerjemah dengan pengarang?”

Guru: “Dalam hal ini bisa dikatakan penerjemah sama dengan pengarang. Karena pengarang aslinya tidak dikenal di sini. Jadi bisa dikatakan Chairil Anwar adalah pengarang “Pulanglah Dia Si Anak Hilang”

Gie: “Tidak bisa begitu pak. Penerjemah tetaplah berbeda dengan pengarang. Lagi pula pengarang aslinya “Andre Gide” dikenal di sini.”

Guru: “Iya kamu kenal. Tapi yang lain?”

Gie: “Tukang becak juga tidak kenal dengan Chairil Anwar”

So Hok Gie sangat kecewa dengan sikap gurunya yang tidak mau terbuka terhadap kritik dan selalu menganggap jawabanya sendiri yang paling benar. Soe Hok Gie pun berkata dalam hatinya “Guru yang tidak tahan kritik boleh dimasukan ke dalam tong sampah. Guru bukanlah dewa yang selalu benar. Dan murid juga bukan kerbau.”

Soe Hok Gie semakin kecewa karena nilai sastranya yang seharusnya mendapatkan nilai 8 dikurangi 3 oleh gurunya tersebut. Sehingga dia cuma mendapatkan nilai 5.

Dan ternyata apa yang dialami oleh Soe Hok Gie juga pernah saya rasakan ketika masih duduk di bangku SD dulu. Bukan dalam hal pengurangan nilai, melainkan dalam hal beda pendapat dengan guru dan sikap guru yang tidak mau terbuka terhadap kritik siswanya. Saya masih ingat betul detail peristiwa itu dan sepertinya sampai kapanpun tidak akan pernah saya lupakan. Sewaktu kelas 6 SD, saya diajar oleh seorang guru yang bernama Bu Niswiati. Kami biasa memanggilnya Bu Nis. Pada waktu pelajaran IPA, Bu Nis menyuruh seluruh muridnya untuk mengerjakan soal latihan IPA. Hal tersebut dilakukan dalam rangka persiapan Ujian Akhir Semester (kalau dulu namanya masih Ujian Catur Wulan). Di latihan tersebut ada sebuah soal seperti ini:

Alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah……..

a. Stetoskop

b. Elektrokardiograf

c. Termometer

d. Amperemeter

Dan pada sesi koreksi bersama, Bu Nis menegaskan kepada seluruh siswa bahwa alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah stetoskop. Setelah mendengar jawaban dari Bu Nis tersebut, saya langsung melakukan interupsi. Saya berpendapat bahwa alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah elektrokardiograf, bukan stetoskop. Karena stetoskop itu cuma sebuah alat yang digunakan untuk mendengarkan bunyi yang ada di dalam tebuh seperti denyut jantung, pernafasan dan aliran darah. Stetoskop bukan alat ukur karena tidak memiliki satuan ukur. Saya sangat yakin dengan jawaban saya. Dalam pelajar IPA saya merasa lebih pandai dari Bu Nis karena saya rajin membaca dan rajin belajar. Bahkan teman-teman sayapun menjuluki saya sebagai masternya IPA di kelas 6. Terlalu naif dan idealis memang untuk seorang anak kecil seumuran saya pada waktu itu.

Tapi yang paling membuat saya kecewa adalah Bu Nis tetap kekeuh pada pendapatnya sendiri. Beliau merasa pendapatnyalah yang paling benar, dengan dalih beliau sudah pernah menanyakan soal tersebut kepada seorang dokter.

Hingga akhirnya Ujian Akhir Semester pun datang. Dan ternyata soal yang menjadi perdebatan antara saya dengan Bu Nis keluar di ujian semester. Sesuai dengan anjuran dari Bu Nis, maka seluruh siswa menjawab stetoskop. Tetapi saya tetap berpegang teguh pada pendirian. Sanya menjawab elektrokardiograf.

Setelah ujian semester selesai, Bu Nis mengadakan kegiatan koreksi bersama hasil ujian semester IPA. Dan untuk menjawab soal yang menjadi pertentangan, Bu Nis mencoba melihat kunci jawaban yang ada di tanganya. Dan ternyata jawaban yang benar adalah elektrokardiograf. Satu kelas yang menjawab benar cuma saya, yang lainya salah semua karena mengikuti pendapat dari Bu Nis. Bu Nis pun sepertinya merasa malu telah berdebat dengan saya. Tapi anehnya sampai saat itu beliau masih merasa pendapatnya benar. Menurut beliau alat untuk mengukur denyut jantung ya stetoskop. Benar-benar peristiwa yang menggelikan namun berkesan dan sulit dilupakan.

Saya berharap semoga teman-teman guru bisa berkaca dari pengalaman yang sudah Soe Hok Gie dan saya alami. Kita sebagai guru harus bisa bersikap terbuka kepada kritik. Khususnya kritik dari murid-murid kita sendiri. Kita harus berjiwa besar jika ternyata mempunyai murid yang berpengetahuan luas dan bahkan lebih pintar dari gurunya. Ingat kata-kata Soe Hok Gie, guru bukanlah dewa yang selalu benar dan murid juga bukan kerbau.

Dulu Sayapun Sering Dihina oleh Para Guru GTT

Sebelumnya saya mau minta maaf, jika ada para pembaca yang merasa risih atau tidak suka dengan judul tulisan saya ini. Tidak ada tendesi apapun, saya cuma sekedar berbagi cerita yang pernah saya alami.

Pengalaman ini saya alami ketika masih duduk di bangku kuliah. Status saya pada waktu itu adalah mahasiswa semester 7. Saya adalah alumni D2 PGSD FKIP UNS Kampus VI Kebumen Angkatan 2009. Setelah lulus D2, saya memutuskan untuk langsung transfer ke S1 di tempat yang sama yaitu di FKIP UNS Kampus VI Kebumen. Saya tidak punya niatan untuk mengabdi menjadi guru GTT (Guru Tidak Tetap). Walaupun sebenarnya saya bisa saja kuliah sambil GTT. Karena perkuliahan di S1 transfer adalah sore hari mulai pukul 14.00 sampai pukul 17.00. Saya mengambil jalan ini karena ingin fokus kuliah dan tidak mau terbebani dengan segala urusan yang ada di SD.

Setelah perkuliahan berjalan saya baru tersadar. Ternyata keputusan saya yang tidak mau menjadi guru GTT justru membuat kuliah semakin sulit. Karena tugas-tugas perkuliahan di S1 khususnya semester 7 itu banyak yang mewajibkan para mahasiswa untuk terjun langsung ke SD. Para dosen sering sekali memberikan tugas tentang makalah dan laporan penelitian di SD. Bagi teman-teman saya yang lain ini bukanlah suatu masalah. Karena mereka rata-rata kuliah sambil GTT. Jadi mereka tidak perlu bingung ketika ada tugas-tugas seperti itu.

Tapi bagi saya ini adalah sebuah kesulitan. Dan hal inilah yang membuat teman-teman kuliah saya yang juga merangkap menjadi guru GTT selalu menghina saya. Mereka menertarwakan saya karena saya tidak punya SD. Mereka menertawakan saya karena saya kebingungan membuat makalah dan mencari SD untuk tempat penelitian. Mereka menghina saya karena saya cuma seorang mahasiswa dan tidak punya pengalaman menjadi guru SD. Sayapun tidak bisa bicara banyak ketika teman-teman saya presentasi di kelas. Saya tidak mengajar. Saya tidak bisa menceritakan pengalaman saya sewaktu mengajar di SD.

“Kamu gak punya SD yah?”

“Kamu bukan guru !!!”

Sampai sekarang kata-kata itu masih membekas di hati saya. Mendengarkan cacian seperti itu saya cuma diam saja. Saya tetap berpositif thinking, mungkin mereka cuma bercanda. Walaupun sebenarnya harga diri saya berontak. Dan saya cuma berkata dalam hati “Suatu saat pasti saya akan menjadi guru dan punya SD”.

Ini juga adalah salah saya sendiri. Setelah saya lulus D2 PGSD pada tahun 2009, sebenarnya ada Seleksi CPNS untuk jalur umum. Saya mengikutinya tapi saya gagal. Sehingga kesempatan emas untuk menjadi guru terbuang sia-sia. Tapi alhamdulilah setahun berikutnya yaitu pada tahun 2010 Seleksi CPNS jalur umum kembali dibuka. Saya yang pada waktu itu masih berstatus sebagai mahasiswa semester 7 program S1 PGSD mengukitnya dengan sangat antusias. Saya mendaftar di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Dan alhamdulilah saya lulus. Perasaan saya pada waktu itu senang sekali. Akhirnya bisa menebus kegagalan tes cpns di tahun 2009.

Dan satu hal yang ingin sekali saya lakukan pada waktu itu adalah membalas ejekan dan hinaan teman-teman mahasiswa atau para guru GTT yang selalu menghina saya. Kebetulan mereka gagal di tes CPNS tahun 2010. Tapi alhamdulilah saya masih bisa berfikir dengan akal sehat. Sehingga saya tetap berusaha untuk rendah hati ketika teman-teman yang suka menghina saya memberikan ucapan selamat kepada saya.

“Rahman selamat yah? Kamu sih enak diterima CPNS. Bisa gajian tiap bulan. Tidak seperti nasibku sebagai guru GTT yang seperti kerja rodi tanpa dibayar.”
Itulah kata temanku yang sebelumnya selalu menghinaku.

Dan sayapun menjawab “Ya sabar yah teman? Saya doakan semoga kamu juga bisa menyusul secepatnya.”

Guru Cuma Mikir Kalau di Depan Siswa

Bu Guru: Pak bungkusin baksonya dong

Penjual Bakso: Siap Bu Guru. Mau berapa bungkus ini Bu Guru?

Bu Guru: 2 Bungkus saja Pak

Penjual Bakso: Oke Bu Guru. Bu Guru, saya pingin nanya sesuatu sama Ibu boleh tidak?

Bu Guru: Oh pasti bolehlah Pak. Memangnya mau tanya apa pak?

Penjual Bakso: Begini Bu. Saya mau tanya, kenapa sih kalau di rumah Bu Guru seneng banget pakai pakaian yang seksi-seksi? Memangnya tidak malu tuh kalau dilihat sama siswa? Hehehehe maaf ya Bu jika pertanyaan saya kurang sopan. Cuma pingin tanya saja Bu. Tidak ada maksud apa-apa kok.

Bu Guru: Hehehehehe ya tidaklah Pak. Ini kan di rumah. Kalau di di depan siswa, saya bisa mikirlah. Memangnya punya otak untuk apa kalau bukan untuk mikir?

Dari percakapan antara Bu Guru dengan Penjual Bakso di atas, kita bisa menyimpulkan sesuatu. Ternyata guru cuma mikir kalau di depan siswa. Kalau di belakang siswa, guru tidak pernah mikir. Kalau di depan siswa, guru berpakaian rapi, sopan dan berjilbab. Tapi kalau di belakang siswa, guru berpakain seksi, tanpa aturan dan terkesan jor-joran.

Mungkin mereka memakai jilbab hanya karena tuntutan profesi. Memprihatinkan memang. Tapi inilah realita. Di sekitar kita masih banyak guru yang seperti itu. Guru yang seharusnya bisa digugu dan ditiru malah ngajari yang saru-saru. Harusnya kita sebagai guru lebih berhati-hati lagi. Karena kepribadian kita bisa dilihat dari cara kita berpakaian.

Hidup Tak Selurus Mistar (Perjuangan Guru di Desa Terpencil)

Hujan besar selalu datang setiap hari. Di satu sisi mungkin ini adalah sebuah anugerah, namun di sisi yang lain hal ini bisa menjadi sebuah musibah. Kira-kira begitulah yang sedang dirasakan para warga Desa Mayapati, Kecamatan Pemulutan Selatan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Desa yang mereka tempati memang tergolong desa terpencil dan jauh dari kota. Akses untuk menuju ke sanapun sangat sulit, apa lagi kalau musim hujan begini.

Benar-benar membutuhkan perjuangan ekstra. Kebetulan saya adalah salah satu guru yang mengajar di desa tersebut. Sehingga saya tahu betul betapa sulitnya untuk menuju ke sana.
Kondisi geografis di Desa Mayapati memang sebagian besar adalah wilayah perairan air tawar, yang meliputi sungai dan rawa. Rumah para penduduk di sanapun berbentuk panggung dan berdiri kokoh di tengah rawa. Banjir adalah pemandangan yang sudah tidak asing lagi bagi para warga di sana. Mereka sudah tidak kaget dengan situasi seperti itu. Yang kaget justru saya. Maklum saya baru 2 tahun bertuas di Desa Mayapati. Dan tahun ini merupakan tahun terekstrim bagi saya. Bagaimana tidak? Dalam kondisi normal, saya membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai di desa tersebut dari Kota Palembang. Sedangkan kalau dalam kondisi seperti sekarang, untuk bisa sampai ke sana saya membutuhkan waktu 3 jam. Jalanan yang rusak parah adalah penyebabnya.

Jalan menuju ke sana sebagian besar masih tanah merah. Sehingga kalau musim hujan begini, jalan menuju ke sana berubah menjadi seperti sirkuit off road. Benar-benar becek, licin dan berlumpur. Sepeda motor saya yang tadinya bersih dan mengkilat, setelah melewati jalan itu pasti berubah menjadi seperti traktor. Berangkat dari rumah saya selalu menggunakan sepatu bot. Itu cukup mempermudah saya ketika melewati jalan yang becek dan berlumpur.

Tetapi walaupun begitu bukan berarti saya selalu sukses ketika melewati jalan becek dan berlumpur. Saya malahan sering sekali jatuh dan terpeleset. Itulah resikonya mengajar di desa terpencil. Dan seberat apapun itu, saya mencoba untuk tetap mensyukurinya. Karena mengeluh juga tidak ada gunanya. Toh di balik semuanya itu ada banyak sekali hikmah yang saya peroleh. Saya menjadi sadar bahwa hidup itu tak selurus mistar. Saya harus ikhlas menjalaninya supaya bisa tegar.

Jumat, 29 Maret 2013

Murid Yang Bandel Berkah Bagi Setiap Guru

Sebagai seorang guru saya sangat sadar. Bahwa di dunia ini itu tidak ada yang sempurna. Termasuk anak-anak. Semua mempunyai kelebihan dan kekurang. Mereka punya ciri khasnya masing-masing.
Keberagaman inilah yang membuat dunia anak-anak itu unik. Saya mengajar kelas 6. Murid saya berjumlah 38 orang. Itu artinya setiah hari saya harus mendidik 38 karakteristik individu. Ada yang pinter ada yang bodoh, ada yang rajin ada yang pemalas, ada yang nurut ada yang bandel.

Semua itu adalah berkah bagi setiap guru. Walaupun kadang cukup membuat guru stres dan frustasi. Terutama murid-murid yang bandel. Murid adalah titipan dari tuhan. Tuhan memberikan berkahnya kepada guru melalui murid. Tuhan memberikan pelajaran berharga kepada guru juga melalui murid.
Dengan memiliki murid yang bandel, kita sebagai guru bisa belajar banyak hal. Antara lain kesabaran, ketekunan, motivasi, determinasi dan inovasi. Murid yang bandel insya allah bisa meningkatkan kemampuan guru menjadi lebih baik lagi. Asalkan kita mau menyikapinya secara positif.

Murid yang bandel anggap saja adalah sebuah tantangan. Dan semakin besar tantangan, maka akan semakin besar kemenangan. Guru hebat tidak akan diberi kesulitan yang kecil. Guru yang hebat pasti juga diberi kesulitan yang juga hebat.

Jadi guru-guru jangan pernah putus asa dan frustasi jika muridmu bandel dan sulit di atasi. Karena mereka adalah berkah bagi kita semua. Dari mereka kita bisa belajar banyak hal.

Rabu, 20 Maret 2013

Mahasiswa Gila Itu Kini Sudah Menjadi Guru (Bagian 2)

Kami semua harap-harep cemas menunggu pengumuman Kartu Hasil Studi (KHS) di internet.

"Nyante saja man. Nilai Pendidikan Seni Musik kamu sudah pasti mendapatkan nilai A."

"Ya lihat saja nanti. Kalau benar nilai Pendidikan Seni Musik saya mendapatkan nilai A, akan saya cium itu botaknya Pak Dosen. Hahahahahaha"

"Oke. Awas loh kalau kamu bohong. Hahahaha"

Saya pergi ke warnet untuk melihat Kartu Hasil Studi. Dan ternyata benar, mata kuliah Pendidikan Seni Musik saya mendapatkan nilai A. Akhirnya saya balik lagi ke asrama mahasiswa setelah Kartu Hasil Studi saya print. Di dalam asrama ternyata teman-teman saya sudah menanti kedatangan saya.

"Mana ini yang katanya mau mencium botaknya Pak Dosen. Sudah siap saya vidiokan ini. Hahahahaha"
Ucap salah seorang teman saya.

"Waduh bro. Kita batalkan saja perjanjian itu. Diganti makan-makan saja gimana?"

"Oh tidak bisa. Janji harus ditepati. Pokoknya kamu harus nyium botaknya Pak Dosen. Dan saya yang akan menyootingnya. Hahahahahaha"

Perasaan saya pada waktu itu senang sekali. Karena tanpa ikut ujian praktek musik, saya bisa mendapatkan nilai A. Dan sayapun tidak menghiraukan perintah Pak Dosen. Padahal saya disuruh menemuinya. Saya sudah mendapatkan nilai A. Jadi saya rasa tidak perlu menemui Pak Dosen lagi. Saya takut kalau disuruh ujian praktek sendirian. Karena saya kebetulan tidak pernah latian memainkan alas musik dan tidak hafal juga not-not dari 4 lagu daerah dan 1 lagu bebas itu. Dan yang terpenting saya merasa tidak bersalah. Yang salah adalah Pak Dosen. Sudah tahu saya belum ikut ujian praktek tapi malah diluluskan dan dikasih nilai A. Coba kalau dikasih nilai E. Pasti saya akan menemui Pak Dosen dan mengikuti remidi atau ujian praktek sendirian.

Dan setelah melakukan penelusuran ke berbagai sumber. Ternyata benar kesalahan ada di pihak Pak Dosen. Ada seorang mahasiswa senior yang mengatakan pada saya. Laptop Pak Dosen itu sudah terinfeksi virus. Semua data yang ada di laptop hilang semua. Termasuk data nilai ujian praktek seni musik. Sehingga muncul dugaan bahwa selama ini nilai praktek pendidikan seni musik dibuat dengan sistem random atau acak. Ada juga yang mengatakan bahwa nilai-nilai itu adalah hasil rekayasa atau manipulasi. Pak Dosen ternyata mengarang dalam membuat nilai ujian praktek. Pak Dosen tidak objektif dalam membuat nilai.

Memang pada waktu ujian praktek seni musik, kata teman saya Pak Dosen langsung memasukan nilainya ke dalam laptop. Tanpa menuliskanya terlebih dahulu di atas kertas. Sehingga ketika laptopnya terserang virus, data dan nilai-nilai itu hilang semua.

Ini semakin menambah keyakinan saya, bahwa saya tidak sepenuhnya bersalah. Kesalahan terbesar jelas ada di pihak Pak Dosen. Setelah Kartu Hasil Studi diumumkan, teman-teman saya banyak yang menangis. Terutama mereka yang setiap hari latihan musik dan ikut ujian praktek musik tapi nilainya E. Mereka marah sekali sama saya. Tidak ikut ujian praktek musik kok nilainya A.

Semester 5 berakhir dan semester 6 dimulai. Di perkuliahan semester 6 saya bertemu lagi dengan Pak Dosen yang di semester 5 mengajar mata kuliah Pendidikan Seni Musik. Tapi di semester 6 beliau mengajar mata kuliah Metodologi Penelitian Kualitatif.

Saya masih ingat waktu itu hari senin. Sehabis mengajar mata kuliah Metodologi Penelitian Kualitatif, beliau mencoba menyindir saya di depan kelas.

"Jadi mahasiswa harus punya hati nurani. Jangan jadi mahasiswa gila. Tidak ikut ujian praktek musik tapi dapat nilai A kok diam saja. Itu kan berarti dia tidak punya hati nurani. Mahasiswa yang tidak punya hati nurani sama saja dengan mahasiswa gila."

Itulah kata-kata Pak Dosen yang ditujukan untuk menyentil saya di dalam kelas. Setelah Pak Dosen keluar dari kelas semua teman-teman saya menertawakan saya. Dia mengejek saya dengan sebutan mahasiswa gila.

Itulah pengalaman saat kuliah yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan. Dan mahasiswa gila itu sekarang sudah menjadi guru.

Rahman Rahman dasar mahasiswa gila kamu. Sekarang kamu sudah jadi guru, gilanya jangan kambuh lagi yah? Sekarang harus bertaubat dan biarkan kegilaanmu yang dulu lenyap dimakan waktu.

Mahasiswa Gila Itu Kini Sudah Menjadi Guru (Bagian 1)

Kebumen 2009 (Tanggal dan bulanya lupa)

Salah satu mata kuliah yang ada di semester 5 program studi S1 PGSD Transfer FKIP UNS Kampus VI Kebumen adalah Pendidikan Seni Musik. Mata kuliah ini bukan hanya berisi teori saja, tetapi juga praktek. Kalau untuk teori ada ujian tertulisnya. Sedangkan kalau untuk praktek ada ujian prakteknya.

Salah satu ujian praktek yang harus saya lakukan pada waktu itu adalah praktek memainkan 4 lagu daerah + 1 lagu bebas, dengan birama yang berbeda menggunakan alat musik melodis. Semua mahasiswa kalau tidak ingin mendapatkan nilai E untuk mata kuliah Pendidikan Seni Musik ya harus lulus ujian tertulis dan praktek.

Ujian tertulis sudah saya ikuti walaupun hasilnya tidak tahu seperti apa. Tinggal ujian praktek yang belum. Kebetulan waktu itu saya sedang sakit. Sehingga saya tidak bisa ikut ujian praktek dan memutuskan untuk mudik ke kampung halaman. Saya sakit cukup lama. Dan setelah 3 minggu baru saya bisa sembuh. Belum sempat ikut ujian praktek, nilai mata kuliah Pendidikan Seni Musik sudah dipajang di lobi kampus. Nama-nama mahasiswa yang tidak lulus dipajang disitu, kemudian mereka dikumpulkan semua untuk mengikuti remidi. Dan saya yakin sekali, pasti nama saya masuk ke dalam daftar peserta remidi.

Karena sudah sembuh sayapun pergi ke kampus untuk melihat daftar peserta remidi. Tapi sebelum ke kampus, saya sudah ketemu dulu dengan teman satu kelas di asrama mahasiswa. Dia bercerita pada saya, bahwa nama saya tidak masuk dalam peserta remidi. Saya kaget luar biasa pada waktu itu. Bagaimana mungkin saya yang belum ikut ujian praktek seni musik bisa lulus mata kuliah Pendidikan Seni Musik? Ini artinya berarti saya sudah lulus untuk mata kuliah Pendidikan Seni Musik.

Teman sayapun menambahkan "Rahman walaupun kamu belum ikut ujian praktek tapi kamu sudah lulus untuk mata kuliah Pendidikan Seni Musik. Bahkan kamu mendapatkan nilai A. Nilai semuanya sudah disetorkan oleh Pak Dosen ke kampus pusat. Tinggal nunggu pengumumanya beberapa hari lagi di internet. Dan nilai yang sudah disetorkan ke kampus pusat tidak bisa dirubah lagi. Kamu sudah lulus man, tapi kata Pak Dosen kamu disuruh menemuinya. Mungkin kamu akan disuruh ujian praktek sendiri."
Itulah penjelasan dari teman saya. Ternyata saya sudah lulus dan mendapatkan nilai A untuk mata kuliah Pendidikan Seni musik. Tapi walaupun begitu saya tetap di suruh untuk menemui Pak Dosen. Mungkin akan disuruh ujian praktek sendirian. Saya merasa senang bukan kepalang mendengar jawaban dari teman saya.

Sayapun kembali bertanya-tanya, bagaimana hal itu bisa terjadi? Teman saya kembali menjelaskan
"Iya man. Tadi pas para peserta remidi dikumpulkan, ada salah satu teman kita yang protes sama pak dosen."

"Siapa yang protes?"
Tanyaku

"Si Riska"
Jawab teman saya.

"Riska protes kenapa si Rahman tidak masuk dalam daftar peserta remidi? Padahal dia kan belum ikut ujian praktek?"

Dan pak dosenpun bingung. Pak dosen malah tidak sadar kalau saya ternyata belum ikut ujian praktek. Lalu pak dosenpun memberikan penjelasanya.

"Si Rahman sudah lulus bahkan saya kasih nilai A karena nilai ujian tertulisnya bagus-bagus semua. Nilai ujian tertulis pertama mendapatkan nilai 98, kemudian yang kedua mendapatkan nilai 96, dan yang ketiga mendapatkan nilai 97. Jadi wajar saja kalau dia saya kasih nilai A."
Begitulah penjelasan Pak Dosen.

Tidak puas dengan penjelasan Pak Dosen, si Riska kembali protes.

"Loh tidak bisa begitu dong pak. Si Rahman kan belum ikut ujian praktek. Berarti dia belum menjalankan seluruh kewajibanya. Dia masih punya utang. Harusnya dia jangan diluluskan dulu dong pak."
Protes keras Riska terhadap Pak Dosen.

"Ya sudah. Besok kalau kamu ketemu sama si Rahman, suruh dia menemui saya"
Jawab Pak Dosen.

Saya belum sepenuhnya percaya kalu mendapat nilai A. Kecuali kalau sudah melihat sendiri Kartu Hasil Studinya di internet. Dan saya sangat kecewa sama teman saya yang bernama Riska. Kenapa dia berani melakukan protes seperti itu. Padahal saya tahu, kalau yang tidak ikut ujian praktek musik tetapi dinyatakan lulus itu bukan cuma saya. Yang lain masih banyak lagi. Kenapa yang dia protes cuma saya? Coba kalau dia diam saja. Pasti hal ini tidak akan dipermasalahkan oleh Pak Dosen.

Kembali ngobrol sama teman saya. Dia bertanya, "Kapan kamu mau menemui Pak Dosen?" Saya jawab, "Ya nunggu dulu Kartu Hasil Studinya di internet. Kalau memang saya mendapatkan nilai A. Saya tidak akan menemui Pak Dosen. Ya buat apa? Sudah lulus kok mau disuruh ujian praktek lagi. Nilai yang sudah masuk internet kan juga tidak akan mungkin di rubah lagi. Kalau dapat nilai E baru saya menemui Pak Dosen"
Hehehehehe

"Wah gila kamu man. Awas loh kalau kamu besok dibalas di semester depan. Bisa-bisa nilai kamu dimatikan semua man. Hahahahaha"

"Nah kalau itu baru saya akan protes. Lagiyan yang salah kan Pak Dosen, bukan saya. Sudah tau saya belum ikut ujian praktek. Tapi malah diluluskan & dikasih nilai A."

***

Bersambung

Jadi Guru Karena Tak Ada Rotan Akar Pun Jadi

Mungkin sebagian dari kita ada yang menjadi guru karena memang panggilan dari hati. Biasanya mereka sudah mempunyai mimpi atau cita-cita menjadi seorang guru sejak kecil.

Jujur kalau untuk saya pribadi, sebenarnya waktu masih kelas 5 SD cita-cita saya adalah menjadi seorang ilmuan. Tapi seiring perkembangan waktu cita-cita saya itupun akhirnya berubah. Sejak SMP cita-cita saya adalah menjadi seorang guru. Kemudian memasuki bangku SMA lebih mantap lagi. Cita-cita saya menjadi seorang guru SD. Sehingga pada saat kuliahpun saya mengambil jurusan keguruan. Lebih tepatnya adalah program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

Memang ada banyak sekali faktor yang berpengaruh terhadap berubahnya cita-cita saya itu. Dan yang paling memotivasi adalah ayah dan kedua kakak perempuan saya. Mereka semua adalah seorang guru. Sehingga sayapun sangat termotivasi untuk bisa menjadi seperti mereka.

Itu adalah salah satu motivasi saya menjadi guru. Selain itu tentunya masih banyak motivasi lain yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Dan beda orang pasti beda motivasinya. Mungkin ada juga sebagian dari kita yang menjadi guru karena tak ada rotan akarpun jadi.

Misalnya ada orang yang sebenarnya ingin sekali menjadi dokter. Tapi karena gagal lulus di fakultas kedokteran akhirnya pindah haluan mengambil jurusan keguruan. Contoh yang lain misalnya adalah orang yang kuliah mengambil jurusan teknik sipil. Setelah lulus ia mengalami kesulitan mencari lapangan pekerjaan karena ketatnya persaingan. Sehingga ia akhirnya ia mencari lapangan pekerjaan di tempat lain yaitu menjadi seorang guru SD.

Dan buat saya pribadi itu semua tidak begitu penting. Apapun motivasinya yang penting kita sekarang adalah guru. Karena sekarang kita adalah guru, maka bekerjalah sebaik mungkin semampu kita.

Kata Om Mario Teguh sukses itu bukan soal bakat-bakatan. Jika kita belum menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bakat kita, bakatilah apapun pekerjaan kita sekarang. Membakati pekerjaan kita sekarang adalah sikap yang lebih memberhasilkan dari pada menjadi pribadi berbakat tetapi cuma bisa menunggu.

6 Keajaiban Besar yang Pernah Saya Dapatkan Selama Menjadi Mahasiswa

Menjadi mahasiswa selain penuh dengan rintangan, tantangan dan tekanan ternyata juga penuh dengan keajaiban. Setidaknya itulah yang pernah saya rasakan.
Saya menjadi mahasiswa dari tahun 2007 sampai tahun 2011. Dengan rincian, tahun 2007-2009 menjadi mahasiswa D2 PGSD (Semester 1-4) dan tahun 2009-2011 menjadi mahasiswa S1 PGSD (Semester 5-8). Selama 4 tahun menjadi mahasiswa, saya pernah mendapatkan 6 keajaiban besar yang sampai kapankun tidak akan pernah saya lupakan. Apa saja 6 keajaiban besar tersebut? Dibawah ini akan saya coba paparkan secara singkat.

1. IP 3,89 di Semester 4
Ini adalah keajaiban pertama yang saya dapatkan. Saya sempat terkejut pada waktu itu ketika mengambil Kartu Hasil Studi. Ternyata IP saya 3,89. Saya belum pernah mendapatkan IP sebesar itu. Dan di semester 4 yang mendapatkan IP 3,89 itu cuma 2 orang. Yaitu saya dan teman saya yang perempuan. IP saya di semester 1,2,3 memang tidak pernah stabil dan tidak begitu memuaskan. Sehingga IP 3,89 di semester 4 ini sangat membantu untuk mengkatrol IP saya sebelumnya yang tidak begitu memuaskan. Alhasil ketika lulus D2 PGSD IPK sayapun menjadi tiga koma.

2. Mendapatkan Nilai A Walaupun Tidak Ikut Ujian Praktek
Keajaiban yang kedua ini saya dapatkan ketika kuliah S1 tepatnya di semester 6. Pada waktu itu saya sedang sakit sehingga tidak bisa ikut ujian praktek musik. Tapi alhamdulilah untuk mata kuliah tersebut saya tetap mendapatkan nilai A. Bagi para pembaca atau teman kompasianer yang ingin tahu kisah lengkap saya yang mendapatkan nilai A walaupun tidak ikut ujian praktek, buka saja tulisan saya sebelumnya yang berjudul "Mahasiswa Gila Itu Kini Sudah Menjadi Guru (Bagian 1)" dan "Mahasiswa Gila Itu Kini Sudah Menjadi Guru (Bagian 2)".

3. Lulus Seleksi CPNS
Keajaiban yang ketiga ini terjadi di semester 7. Saya rasa ini adalah keajaiban termanis dan paling berkesan. Pada tahun 2010 saya masih semester 7. Kebetulan pada waktu itu sedang ada seleksi CPNS. Saya yang sudah berbekal ijazah D2 PGSD pun mencoba mendaftar. Dan alhamdulilah diterima. Waktu itu persaingan sangat ketat. Saya mencoba 4 kali ikut tes cpns. Dan yang berhasil cuma 1. Yang 3 gagal. Sehingga saya merasa ini adalah keajaiban paling berkesan selama menjadi mahasiswa.

4. IP 3,75 di Semester 7
Lagi-lagi saya kembali dikejutkan soal IP. Memang tidak sebesar semester 4 dulu. Tapi sudah cukup membantu. Dengan IPK sementara yang sudah tiga koma setidaknya menjadikan saya lebih tenang ketika menghadapi semester 8. Dimana di semester tersebut cuma ada satu mata kuliah yaitu skripsi.

5. Semestes 7 Bebas Uang Registrasi.
Sistem registrasi atau pembayaran uang kuliah di kampus saya kuliah dulu menggunakan sistem menabung. Jadi uang yang akan kita gunakan untuk membayar registrasi ditabung dulu atau dimasukan ke dalam rekening mahasiswa pribadi. Setelah kita melakukan registrasi online di intenet, uang registrasi yang kita tabungkan akan otomatis diambil oleh pihak Bank. Tapi anehnya setelah sekian lama ternyata uang registrasi yang saya tabungkan tidak pernah diambil oleh pihak Bank. Bahkan ketika saya sudah lulus S1 pun uang registrasi semester 7 tersebut masih ada di rekening. Padahal waktu saya menabung uang registrasi semester 8 uangnya langsung diambil oleh pihak Bank. Sehingga uang registrasi semester 7 pun akhirnya saya tarik kembali. Lumayankan, kuliah 4 semester tapi bayarnya cuma 3 semester
Hehehehehehe
Lagiyan ini kan bukan kesalahan saya, tapi kesalahan pihak Bank.

6. Lulus S1 dan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Bagi sebagian orang mungkin ini adalah hal biasa. Tapi bagi saya ini adalah hal luar biasa. Pada bulan Februari 2011 SK CPNS saya turun. Sehingga saya yang pada waktu itu sedang rajin-rajinya konsultasi skripsi mau tidak mau harus meninggalkan pulau Jawa dan terbang ke pulau Sumatra untuk menjalankan tugas negara. Jarak antara pulau Sumatra dan pulau Jawa yang sangat jauh ternyata tidak cukup untuk meruntuhkan semangat saya yang ingin sekali lulus S1. Dan walaupun jarak ke kampus begitu jauh, saya tetap bisa menyelesaikan kuliah. Pada bulan Juli 2011 saya lulus S1 dan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd). Padahal pada waktu itu teman-teman saya yang lain, yang rumahnya dekat kampus masih banyak yang belum lulus. Bahkan ujian skripsipun banyak yang belum. Inilah yang membuat teman-teman saya kagum. Semangat saya yang luar biasa mampu mengalahkan jarak yang begitu jauh.

6 keajaiban besar yang sangat luar biasa. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah melupakan hal itu.

Kata Jose Mourinho keajaiban itu cuma datang satu kali. Kalau yang berkali-kali bukan keajaiban namanya, tetapi kehebatan.

Tapi kalau menurut saya pribadi, keajaiban ini karena campur tangan tuhan. Dialah yang maha berkehendak. Manusia cuma bisa berdoa dan berusaha. Yang menentukan hasil akhirnya adalah tuhan. Keajaiban yang saya dapat ini adalah bukti bahwa tuhan itu maha besar.

Guru Profesional Itu Seperti Apa?

Diantara sekian banyak guru yang ada di Indonesia, ternyata masih ada di antara mereka yang belum paham dan belum mengerti tentang definisi atau kriteria guru profesional. Padahal guru adalah pekerjaan profesional. Guru punya kode etik dan undang-undang yang mengaturnya.

Kita tidak perlu menciptakan definisi atau kriteria guru profesional sendiri. Karena di dalam undang-undang guru dan dosen sudah dijelaskan mengenai definsi atau kriteria guru profesional. Berdasarkan UU NO. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, pasal 10 ayat 1, guru disebut profesional jika sudah memiliki 4 kompetensi. Kompetensi tersebut antara lain:

1. Kompetensi Pedagogik

Yaitu kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.

2. Kompetensi Kepribadian

Yaitu kemampuan guru yang mencerminkan sebuah kepribadian yang mantap, berbudi pekerti luhur, wibawa dan bisa menjadi tauladan yang baik bagi siswa-siswanya.

3. Kompetensi Sosial

Yaitu kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan siswa, sesama guru, orang tua siswa dan masyarakat.

4. Kompetensi Profesional

Yaitu kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran secara luar dan mendalam.

Itu adalah point pokoknya. Dari point pokok tersebut tentunya masih bisa dijabarkan lagi ke dalam hal-hal yang lebih kompleks. Itulah definisi atau kriteria guru profesional menurut undang-undang guru dan dosen. Semoga dengan pemahaman ini bisa menjadikan kita lebih profesional.