Salah satu judul film favorit saya adalah “GIE”. Film yang dibintangi
oleh Nicolas Saputra ini sudah saya tonton berkali-kali, namun saya
tidak pernah merasa bosan. Ada banyak sekali pelajaran berharga yang
bisa saya petik dari film tersebut. Salah satunya adalah pentingnya jiwa
besar dan sikap terbuka terhadap kritik yang harus dimiliki oleh
seorang guru.
Dalam film GIE diceritakan, sewaktu masih SMA Soe Hok Gie kecil pernah melancarkan protes keras terhadap gurunya di waktu pelajaran sastra. Kurang lebih kalimatnya seperti ini:
Gie: “Pak bukankah ada perbedaan antara penerjemah dengan pengarang?”
Guru: “Dalam hal ini bisa dikatakan penerjemah sama dengan pengarang. Karena pengarang aslinya tidak dikenal di sini. Jadi bisa dikatakan Chairil Anwar adalah pengarang “Pulanglah Dia Si Anak Hilang”
Gie: “Tidak bisa begitu pak. Penerjemah tetaplah berbeda dengan pengarang. Lagi pula pengarang aslinya “Andre Gide” dikenal di sini.”
Guru: “Iya kamu kenal. Tapi yang lain?”
Gie: “Tukang becak juga tidak kenal dengan Chairil Anwar”
So Hok Gie sangat kecewa dengan sikap gurunya yang tidak mau terbuka terhadap kritik dan selalu menganggap jawabanya sendiri yang paling benar. Soe Hok Gie pun berkata dalam hatinya “Guru yang tidak tahan kritik boleh dimasukan ke dalam tong sampah. Guru bukanlah dewa yang selalu benar. Dan murid juga bukan kerbau.”
Soe Hok Gie semakin kecewa karena nilai sastranya yang seharusnya mendapatkan nilai 8 dikurangi 3 oleh gurunya tersebut. Sehingga dia cuma mendapatkan nilai 5.
Dan ternyata apa yang dialami oleh Soe Hok Gie juga pernah saya rasakan ketika masih duduk di bangku SD dulu. Bukan dalam hal pengurangan nilai, melainkan dalam hal beda pendapat dengan guru dan sikap guru yang tidak mau terbuka terhadap kritik siswanya. Saya masih ingat betul detail peristiwa itu dan sepertinya sampai kapanpun tidak akan pernah saya lupakan. Sewaktu kelas 6 SD, saya diajar oleh seorang guru yang bernama Bu Niswiati. Kami biasa memanggilnya Bu Nis. Pada waktu pelajaran IPA, Bu Nis menyuruh seluruh muridnya untuk mengerjakan soal latihan IPA. Hal tersebut dilakukan dalam rangka persiapan Ujian Akhir Semester (kalau dulu namanya masih Ujian Catur Wulan). Di latihan tersebut ada sebuah soal seperti ini:
Alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah……..
a. Stetoskop
b. Elektrokardiograf
c. Termometer
d. Amperemeter
Dan pada sesi koreksi bersama, Bu Nis menegaskan kepada seluruh siswa bahwa alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah stetoskop. Setelah mendengar jawaban dari Bu Nis tersebut, saya langsung melakukan interupsi. Saya berpendapat bahwa alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah elektrokardiograf, bukan stetoskop. Karena stetoskop itu cuma sebuah alat yang digunakan untuk mendengarkan bunyi yang ada di dalam tebuh seperti denyut jantung, pernafasan dan aliran darah. Stetoskop bukan alat ukur karena tidak memiliki satuan ukur. Saya sangat yakin dengan jawaban saya. Dalam pelajar IPA saya merasa lebih pandai dari Bu Nis karena saya rajin membaca dan rajin belajar. Bahkan teman-teman sayapun menjuluki saya sebagai masternya IPA di kelas 6. Terlalu naif dan idealis memang untuk seorang anak kecil seumuran saya pada waktu itu.
Tapi yang paling membuat saya kecewa adalah Bu Nis tetap kekeuh pada pendapatnya sendiri. Beliau merasa pendapatnyalah yang paling benar, dengan dalih beliau sudah pernah menanyakan soal tersebut kepada seorang dokter.
Hingga akhirnya Ujian Akhir Semester pun datang. Dan ternyata soal yang menjadi perdebatan antara saya dengan Bu Nis keluar di ujian semester. Sesuai dengan anjuran dari Bu Nis, maka seluruh siswa menjawab stetoskop. Tetapi saya tetap berpegang teguh pada pendirian. Sanya menjawab elektrokardiograf.
Setelah ujian semester selesai, Bu Nis mengadakan kegiatan koreksi bersama hasil ujian semester IPA. Dan untuk menjawab soal yang menjadi pertentangan, Bu Nis mencoba melihat kunci jawaban yang ada di tanganya. Dan ternyata jawaban yang benar adalah elektrokardiograf. Satu kelas yang menjawab benar cuma saya, yang lainya salah semua karena mengikuti pendapat dari Bu Nis. Bu Nis pun sepertinya merasa malu telah berdebat dengan saya. Tapi anehnya sampai saat itu beliau masih merasa pendapatnya benar. Menurut beliau alat untuk mengukur denyut jantung ya stetoskop. Benar-benar peristiwa yang menggelikan namun berkesan dan sulit dilupakan.
Saya berharap semoga teman-teman guru bisa berkaca dari pengalaman yang sudah Soe Hok Gie dan saya alami. Kita sebagai guru harus bisa bersikap terbuka kepada kritik. Khususnya kritik dari murid-murid kita sendiri. Kita harus berjiwa besar jika ternyata mempunyai murid yang berpengetahuan luas dan bahkan lebih pintar dari gurunya. Ingat kata-kata Soe Hok Gie, guru bukanlah dewa yang selalu benar dan murid juga bukan kerbau.
Dalam film GIE diceritakan, sewaktu masih SMA Soe Hok Gie kecil pernah melancarkan protes keras terhadap gurunya di waktu pelajaran sastra. Kurang lebih kalimatnya seperti ini:
Gie: “Pak bukankah ada perbedaan antara penerjemah dengan pengarang?”
Guru: “Dalam hal ini bisa dikatakan penerjemah sama dengan pengarang. Karena pengarang aslinya tidak dikenal di sini. Jadi bisa dikatakan Chairil Anwar adalah pengarang “Pulanglah Dia Si Anak Hilang”
Gie: “Tidak bisa begitu pak. Penerjemah tetaplah berbeda dengan pengarang. Lagi pula pengarang aslinya “Andre Gide” dikenal di sini.”
Guru: “Iya kamu kenal. Tapi yang lain?”
Gie: “Tukang becak juga tidak kenal dengan Chairil Anwar”
So Hok Gie sangat kecewa dengan sikap gurunya yang tidak mau terbuka terhadap kritik dan selalu menganggap jawabanya sendiri yang paling benar. Soe Hok Gie pun berkata dalam hatinya “Guru yang tidak tahan kritik boleh dimasukan ke dalam tong sampah. Guru bukanlah dewa yang selalu benar. Dan murid juga bukan kerbau.”
Soe Hok Gie semakin kecewa karena nilai sastranya yang seharusnya mendapatkan nilai 8 dikurangi 3 oleh gurunya tersebut. Sehingga dia cuma mendapatkan nilai 5.
Dan ternyata apa yang dialami oleh Soe Hok Gie juga pernah saya rasakan ketika masih duduk di bangku SD dulu. Bukan dalam hal pengurangan nilai, melainkan dalam hal beda pendapat dengan guru dan sikap guru yang tidak mau terbuka terhadap kritik siswanya. Saya masih ingat betul detail peristiwa itu dan sepertinya sampai kapanpun tidak akan pernah saya lupakan. Sewaktu kelas 6 SD, saya diajar oleh seorang guru yang bernama Bu Niswiati. Kami biasa memanggilnya Bu Nis. Pada waktu pelajaran IPA, Bu Nis menyuruh seluruh muridnya untuk mengerjakan soal latihan IPA. Hal tersebut dilakukan dalam rangka persiapan Ujian Akhir Semester (kalau dulu namanya masih Ujian Catur Wulan). Di latihan tersebut ada sebuah soal seperti ini:
Alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah……..
a. Stetoskop
b. Elektrokardiograf
c. Termometer
d. Amperemeter
Dan pada sesi koreksi bersama, Bu Nis menegaskan kepada seluruh siswa bahwa alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah stetoskop. Setelah mendengar jawaban dari Bu Nis tersebut, saya langsung melakukan interupsi. Saya berpendapat bahwa alat yang digunakan untuk mengukur denyut jantung adalah elektrokardiograf, bukan stetoskop. Karena stetoskop itu cuma sebuah alat yang digunakan untuk mendengarkan bunyi yang ada di dalam tebuh seperti denyut jantung, pernafasan dan aliran darah. Stetoskop bukan alat ukur karena tidak memiliki satuan ukur. Saya sangat yakin dengan jawaban saya. Dalam pelajar IPA saya merasa lebih pandai dari Bu Nis karena saya rajin membaca dan rajin belajar. Bahkan teman-teman sayapun menjuluki saya sebagai masternya IPA di kelas 6. Terlalu naif dan idealis memang untuk seorang anak kecil seumuran saya pada waktu itu.
Tapi yang paling membuat saya kecewa adalah Bu Nis tetap kekeuh pada pendapatnya sendiri. Beliau merasa pendapatnyalah yang paling benar, dengan dalih beliau sudah pernah menanyakan soal tersebut kepada seorang dokter.
Hingga akhirnya Ujian Akhir Semester pun datang. Dan ternyata soal yang menjadi perdebatan antara saya dengan Bu Nis keluar di ujian semester. Sesuai dengan anjuran dari Bu Nis, maka seluruh siswa menjawab stetoskop. Tetapi saya tetap berpegang teguh pada pendirian. Sanya menjawab elektrokardiograf.
Setelah ujian semester selesai, Bu Nis mengadakan kegiatan koreksi bersama hasil ujian semester IPA. Dan untuk menjawab soal yang menjadi pertentangan, Bu Nis mencoba melihat kunci jawaban yang ada di tanganya. Dan ternyata jawaban yang benar adalah elektrokardiograf. Satu kelas yang menjawab benar cuma saya, yang lainya salah semua karena mengikuti pendapat dari Bu Nis. Bu Nis pun sepertinya merasa malu telah berdebat dengan saya. Tapi anehnya sampai saat itu beliau masih merasa pendapatnya benar. Menurut beliau alat untuk mengukur denyut jantung ya stetoskop. Benar-benar peristiwa yang menggelikan namun berkesan dan sulit dilupakan.
Saya berharap semoga teman-teman guru bisa berkaca dari pengalaman yang sudah Soe Hok Gie dan saya alami. Kita sebagai guru harus bisa bersikap terbuka kepada kritik. Khususnya kritik dari murid-murid kita sendiri. Kita harus berjiwa besar jika ternyata mempunyai murid yang berpengetahuan luas dan bahkan lebih pintar dari gurunya. Ingat kata-kata Soe Hok Gie, guru bukanlah dewa yang selalu benar dan murid juga bukan kerbau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tuliskan komentarnya ya sobat? Kritik dan saran dari sobat semuanya akan sangat bermanfaat bagi penulis.