Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Maret 2013

Tangisan Sang Striker

Kemarin adalah pertandingan maha penting buatku. Aku melawan mantan tim yang pernah kubela. Tim yang sudah membesarkanku menjadi salah satu striker terbaik di Indonesia. Dialah PSCS Cilacap.

Sebelum hijrah ke PSIS Semarang, aku memang pernah bermain untuk PSCS Cilacap selama 7 musim. Aku datang ke sana dalam kondisi kosong. Kemudian 7 tahun digembleng, akhirnya aku menjadi salah satu striker top Indonesia. PSCS sudah seperti rumah buatku. Di sana aku mempunyai banyak teman dan saudara. Di sanalah skill sepak bolaku diasah. Dari mulai tidak bisa apa-apa sampai menjadi striker paling ditakuti di Indonesia seperti sekarang. Skill dan visi bermainku yang cukup menawan ternyata mampu membuat klub besar sekaliber PSIS Semarang kepincut. Tepat akhir musim kemarin, aku resmi di boyong ke stadion Jati Diri Semarang untuk memperkuat PSIS. PSCS benar-benar membekas di hatiku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakan PSCS. Hatiku akan tetap berada di sana walaupun ragaku di PSIS.

Dan kemarin sore adalah sebuah pertandingan yang paling tidak saya sukai. PSIS Semarang bertemu dengan PSCS Cilacap di Gelora Bung Karno Jakarta dalam laga Bigmatch yang bertajuk “Final Copa Indonesia”.

Di satu sisi aku merasa senang karena bisa bernostalgia dengan teman-teman lamaku. Namun di sisi yang lain aku merasa sedih karena satu diantara kita akan ada yang tersakiti.

Dan apa yang aku khawatirkan ternyata menjadi kenyataan. Setelah bermain 0:0 di babak pertama, PSIS langsung tancap gas di babak kedua. Dan PSIS pun berhasil unggul tepat di menit ke-70 melalui gol yang aku cetak sendiri. Perasaanku pada saat itu benar-benar tidak karuan. Senang bercampur sedih. Sempat teman-teman satu timku mengajaku berselebrasi, namun aku menolaknya. Aku lebih memilih diam untuk menghormati mantan tim yang sudah membesarkan namaku.

Menit ke-93 atau masa injured time adalah puncaknya. Aku mencetak gol yang kedua untuk memperbesar keunggulan menjadi 2:0. Selang beberapa detik setelah aku mencetak gol, peluit panjang dibunyikan sebagai tanda berakhirnya pertandingan. Semua pendukung PSIS riuh bergembira menyambut kemenangan berharga ini. Para pemain dan oficial tim berlari ke tengah lapangan untuk berselebrasi dan merayakan kemenangan ini. Mereka semua benar-benar bergembira, namun itu tidak terjadi padaku. Hatiku benar-benar hancur lebur setelah mencetak 2 gol. Teman-temanku memaksaku untuk melakukan selebrasi. Namun aku tetap menolaknya. Aku berjalan ke pinggir lapangan untuk menemui pelatih PSCS. Aku bersimpuh di kaki sang pelatih lalu kemudian menangis merengek-rengek seperti anak kecil. Tangisanku adalah tangisan penderitaan dan kekecewaan.

Aku tidak pernah menyangka, kenapa aku bisa sekejam itu. Aku tahu betul visi dan misi PSCS Cilacap. Mereka belum pernah mendaptkan satu gelarpun, namun mereka selalu menargetkan gelar juara di setiap musimnya. Dan kemarin adalah salah satu peluang terbaik yang mereka miliki untuk mewujudkan mimpi. Namun mimpi besar mereka yang sudah di depan mata terpaksa dihancur leburkan oleh seorang penghianat seperti aku ini. Semua pemain dan pendukung PSCS Cilacap pasti sangat marah kepadaku. Aku tak ubahnya seorang penghianat yang tak tau balas budi.

Aku terus menangis tanpa henti meratapi kesalahan besar yang sudah aku lakukan. Aku mencoba untuk meminta maaf kepada pelatih, pemain dan pendukung PSCS. Namun itu semua justru membuat tangisanku semakin keras. Sampai pada saat ceremony pemberian pialapun aku masih tetap menangis. Aku segera turun dari podium kemudian keluar lapangan sambil membuang medali yang kudapatkan ke tong sampah.

Aku tidak pantas berbahagia dan menari-nari di atas penderitaan saudara-saudaraku.
Maafkan aku saudaraku, aku tak bermaksud mengancurkan mimpi kalian.

¤Tamat¤

Pacarku Seorang Gadis Panggilan (Chapter 2)

Saat mobil fortuner warna hitam itu sudah memasuki area hotel, aku mencoba untuk menelpon Lusi kembali. Namun kali ini hapenya dinonaktifkan.

Hatiku sebenarnya masih diselimuti tanda tanya besar. Lusi menolak ajakanku untuk jalan-jalan dengan alasan mau mengerjakan tugas kuliah di rumah temanya. Dan yang sebenarnya terjadi, malah dia pergi berduaan dengan pria lain. Bahkan pakai acara masuk ke dalam hotel segala.
Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah.

***

Keesokan harinya aku mencoba menelpon Lusi Kembali.

“Assalamualaikum. Pagi sayang.”

“Walaikumsalam. Pagi juga sayang. Wah sudah bangun yah? Hehehehehe”

“Hahaha ya sudah dong. Ini malah sudah wangi. Sayang gimana? Tugas kuliahnya sudah selesai belum?”

“Alhamdulilah sudah selesai sayang. Kenapa? Mau aku temenin jalan-jalan hari ini apa?”

“Oh syukurlah kalau sudah selesai. Iya ini sayang dari kemarin aku pingin banget jalan-jalan. Kamu bisa nemenin kan?”

“Iya bisa sayang. Ya udah kamu langsung ke rumah aja yah? Jemput aku.”

“Oke sayang. Aku siap meluncur ke situ. Sampai ketemu lagi nanti yah? Assalamualaikum”

“Walaikumsalam”

**

Dan akupun langsung meluncur ke rumah Lusi. Aku ajak Lusi jalan-jalan naik motor keliling kota Palembang. Akhirnya sampailah kita berdua di depan sebuah hotel.

“Sayang kenapa berhenti di sini?”

“Enggak kenapa-napa sayang. Aku cuma pingin melihat hotel ini saja. Hotelnya bagus yah? Megah banget. Pasti yang menginap di sini adalah orang-orang besar.

“Eee…. Iyalah sayang. Novotel kan merupakan salah satu hotel terbaik di kota Palembang. Yang menginap di situ rata-rata pejabat dan pengusaha.”

“Kamu pernah menginap di situ gak sayang?”

“Hah ??? Maksudnya apa sayang? Koq nanyanya gitu?”

“Gak ada maksud apa-apa sayang. Aku cuma pingin tanya saja. Soalnya tadi malam aku melihat ada cewe mirip banget kamu, masuk ke dalam hotel itu bersama seorang pria.”

“Hah??? E e e e iya mungkin kebetulan dia mirip sama aku sayang.”

“Udah deh sayang. Aku gak mau kita berdua ribut hanya karena sesuatu yang belum jelas. Sekarang jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi sejelas-jelasnya. Asal kamu tau sayang, tadi malam aku pergi ke Palembang Square untuk mencari sepatu. Dan di sana aku melihat kamu berduaan bergandengan tangan dengan seorang pria. Aku berusaha menelponmu tapi kamu tidak pernah mengangkat. Lalu aku ikuti kalian berdua. Dan ternyata kalian berdua masuk ke dalam hotel ini.
COBA SEKARANG JELASKAN, NGAPAIN AJA KAMU DI DALEM BERSAMA PRIA ITU !!!!!
BUKANKAH TADI MALAM KAMU SEHARUSNYA MENGERJAKAN TUGAS KULIAH DI RUMAH TEMEN KAMU !!!!!
AYO NGOMONG JANGAN DIAM AJA !!!!
APA PERLU AKU MASUK KE DALAM HOTEL ITU DAN MENANYAKANYA KEPADA PETUGAS HOTEL HAH !!!!!
AYO JAWAB !!!!!

” I ya a a sayang aku akan jelaskan yang sebenarnya. Tapi kamu jangan marah yah?. Iya aku memang tadi malam diboking oleh pria itu untuk menemaninya tidur.”

“APAH !!! TEGA KAMU YAH LUSI MEMBOHONGI AKU KAYAK GITU !!! KENAPA KAMU MELAKUKAN SEMUANYA ITU !!! DIMANA OTAK DAN HARGA DIRI KAMU !!!”

“Sayang maafkan aku yah? Aku tak bermaksud membohongimu. Asal kamu tau sayang, aku melakukan semuanya itu bukan tanpa alasan. Aku melakukanya karena aku butuh uang untuk biaya kuliah dan untuk menyekolahkan adiku. Kamu tau kan ayahku sudah meninggal. dan ibuku lumpuh. Aku harus menanggung biaya hidup mereka semua. Kamu harus paham itu !!!!!”

Pacarku Seorang Gadis Panggilan (Chapter 1)

Ini adalah malam minggu terakhir di bulan Desember. Aku punya rencana ingin mengajak Lusi kekasih tercintaku jalan-jalan menikmati indahnya Ampera di malam hari.

Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 16.00. Saya yakin Lusi sudah pulang dari kuliah, dan pasti ada di rumah. Tanpa perlu berfikir panjang, aku langsung mencoba menghubungi Lusi untuk menyampaikan rencanaku.

“Halo, Assalamualaikum”

“Walaikumsalam”

“Sayang kamu lagi ngapain?”

“Gak lagi ngapa-ngapain sayang. Lagi nyante aja ini di kamar, sambil nonton TV”

“Wah asyik banget. Pasti belum mandi yah? Hehehehehe”

“Iya koq tau?”

“Tau dong. Soalnya bau busuknya sampai sini. Hehehehe”

“Huh enak aja. Walaupun belum mandi aku tetep wangi tau”

“Hehehehehe iya deh sayang aku percaya. Eh sayang nanti malam kamu ada acara gak?”

“Kenapa emangnya sayang?”

“Enggak kenapa-kenapa sayang. Kalau kamu gak ada acara, aku pingin ngajak kamu jalan-jalan. Ini kan malam minggu terakhir di bulan Desember. Aku pingin banget menikmati indahnya pemandangan Ampera di malam hari.”

“Heemm gimana yah sayang? Kayaknya gak bisa deh. Soalnya nanti malem aku mau ke nginep di rumah Indah. Aku mau ngerjain tugas kuliah buat hari senin. Maaf yah sayang?”
“Oh gitu yah. Ya udah deh gak papa sayang.”

“Aduh sayang sory banget yah. Aku janji deh sayang. Kalau tugasnya malem ini bisa selesai, besok minggu siang aku temani kamu jalan-jalan. Gimana sayang? Mau gak?”

“Oke deh sayang. Yang penting sekarang kerjakan dulu tugasnya sampai selesai. Karena urusan kuliah harus tetap yang utama. Kalo untuk jalan-jalan, lain waktu juga bisa”

“Oke makasih sayang atas pengertianya. Sayangku memang bener-bener pacar paling baik di dunia. Hehehehehe”

“Ah sayang lebay deh. Ya udah sayang. Aku mau mandi dulu yah? Besok aku hubungi kamu lagi.”

“Oke deh sayang”

“Ya udah, Assalamualaikum”

“Walaikumsalam”

****

Dalam hatiku masih tersimpan sedikit rasa kecewa. Karena rencanaku untuk bisa jalan-jalan menikmati indahnya pemandang Ampera di malam hari gagal terealisasi. Tapi tidak apa-apalah. Semua ini demi kebaikan Lusi. Dia masih harus bekerja keras menyelesaikan kuliahnya.
Dari pada malam minggu bengong di rumah sendirian, akhirnya aku putuskan untuk pergi refresing ke Palembang Square. Sekalian aku mau nyari sepatu baru. Sepatu kerjaku satu-satunya kayaknya sudah pingin dipensiunkan.

***

Malam minggu di Palembang Square benar-benar rame. Di sana sini banyak orang-orang berlalu lalang. Dan akhirnya sampai juga aku di lantai 2 Palembang Square. Tanpa perlu berlama-lama langsung deh aku menuju ke bagian sepatu. Pada saat aku sedang mencoba sepatu, tiba mataku tertuju kepada sosok wanita yang sedang berdiri di tangga eskalator bersama seorang pria.

Wanita tersebut sudah tidak asing lagi bagiku. Aku sangat kaget, karena wanita yang aku lihat adalah Lusi. Dia bergandengan tangan dengan seorang pria yang tak ku kenal.

Masih dalam kondisi setengah bingung, aku langsung mencoba menelpon lusi. Aku ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Aku lihat dari kejauhan dia sedang memegang handphone, tapi dia tidak mengangkat telpon dariku. Aku coba menelponya berulang kali namun dia tetap tidak mengangkatnya. Akhirnya aku putuskan untuk memata-matai mereka berdua dari belakang.

**

Dan ternyata mereka berdua menuju lantai satu. Mungkin mereka akan keluar dari Palembang Square. Kelihatan jelas kalau mereka berdua sudah selesai berbelanja. Mereka berdua sama-sama membawa sebuah tas plastik. Entah apa isinya aku tidak tahu.

Benar yang sudah kuduga. Mereka terus berjalan ke luar menuju sebuah mobil fortuner warna hitam yang ada di tempat parkir. Aku tetap mengikuti mereka. Aku langsung mengambil sepeda motorku, dan langsung melaju mengikuti mobil fortuner itu. Setelah aku ikuti terus, ternyata mereka menuju ke sebuah hotel.

Kerudung Segi Empat Untuk Anisa

“Anisa minum susu dulu nak”

Ucap seorang ayah kepada anaknya.

“Iya pak”
Jawab Anisa.

Anisa adalah seorang gadis cantik berumur 6tahun. Ia duduk di kelas 1 SD. Sedangkan ayahnya namanya Pak Dharma. Dia adalah seorang pria berumur 40tahun yang bekerja sebagai office boy di sebuah rumah sakit swasta. Mereka cuma tinggal berdua di sebuah kontrakan yang sederhana.

Sudah setahun Pak Dharma menjadi orang tua tunggal. Istrinya yang bernama Ibu Latifah sudah meninggal setahun yang lalu. Ibu Latifah adalah seorang guru TK. Dia meninggal karena kecelakaan saat mengantar anak didiknya pergi berwisata. Bus yang dinaikinya dan anak didiknya menabrak pembatas jalan dan masuk ke dalam jurang.

Sekarang tepat pukul 06.30 pagi. Pak Dharma akan segera mengantarkan Anisa berangkat ke Sekolah.

“Anisa nanti pulangnya bareng Ibu Guru Miranda saja yah? Bapak gak bisa jemput, soalnya nanti Bapak pulangnya sore.”
Ucapa Pak Dharma

“Iya Pak. Tapi bapak jangan lupa yah? Nanti kalau bapak pulang belikan kerudung segi empat. Anisa pingin pakai kerudung, biar kelihatan cantik kaya ibu.”
Jawab Anisa

Anisa memang sudah dari seminggu yang lalu minta dibelikan kerudung segi empat kepada ayahnya.
“Iya nak. Tapi Anisa belajar yang rajin di sekolah yah?”
Jawab Pak Dharma sedikit sedikit sedih mengingat almarhumah istrinya.

Lalu Pak Dharma pun mengantar Anisa ke Sekolah. Jarak dari kontrakanya ke rumah sekitar 3 KM. Setelah mengantar Anisa ke Sekolah, Pak Dharma langsung menuju ke rumah sakit tempat ia bertugas.

Menaiki sebuah sepeda butut, akhirnya Pak Dharma pun sampai di rumah sakit. Mukanya terlihat gelisah memikirkan sesuatu. Ternyata Pak Dharma sedang memikirkan permintaan Anisa yang tadi. Anisa minta dibelikan kerudung segi empat. Ia ingin memakai kerudung supaya terlihat cantik seperti almarhumah istrinya yang sudah meninggal setahun yang lalu.

“Aduh dari mana aku bisa mendaptkan uang untuk membeli kerudung segi empat. Gajian masih 3minggu lagi. Sementara uangku tinggal untuk makan sehari-hari.”
Ucap Pak Dharma dalam hati.

Akhirnya setelah lama berfikir, Pak Dharma mendaptkan sebuah ide. Dia memutuskan untuk menjual jam tangan kesayanganya kepada Ali. Ali adalah salah satu teman office boy Pak Dharma di rumah sakit.

Jam tanganya dijual dengan harga 50ribu. Jam tangan tersebut sebenarnya adalah hadiah dari alhamarhumah istrinya dulu. Pak Dharma terpaksa menjualnya karena memang sedang membutuhkan uang. Dan dia pun jug tidak mau mengecewakan anak kesayanganya itu.

Lalu di sela-sela jam istirahat, Pak Dharma pergi menuju ke pasar di dekat rumah sakit untuk mencari kerudung segi empat pesanan Anisa.

Cerita Panas Magdalena Si Bidan Seksi

Namaku Magadalena, Am.Keb. Aku adalah seorang bidan yang bertugas di salah satu Puskesmas di kota Bogor. Umurku 25 tahun, tinggiku 175 cm, berat badanku 65 kg. Kulitku putih mulus, dan rambutku hitam lurus. Tubuhku sangat sintal. Dan orang-orang pun menjulukiku “Magdalena Si Bidan Seksi”.

Wajahku memang sangat cantik. Kata orang aku mirip Nadine Candrawinata. Maklum ayahku orang Jerman dan ibuku orang Bandung. Jadi aku adalah blasteran sejati. Kecantikan wajahku dan keseksian tubuhku ternyata mampu membuat banyak pria klepek-klepek. Tak terkecuali “Marius”.
Yeach Marius adalah kekasihku. Dia adalah seorang polisi. Kita baru jadian sejak 2 bulan yang lalu. Walaupun baru 2 bulan jadian tapi hubungan kita sudah sangat mesra seperti suami istri. Aku sangat mencintainya dan diapun sangat mencintai aku.

Cerita panas ini aku alami seminggu yang lalu. Waktu itu adalah hari minggu. Baik aku maupun Marius sama-sama bebas tugas. Oleh karena itu kami berdua memutuskan untuk pergi liburan ke daerah puncak. Marius sudah memesan sebuah vila kecil untuku di sana.
Jam 7 pagi Marius sudah menjemputku di rumah. Dan kami berduapun langsung OTW menuju puncak dengan mengendarai mobil avanza warna silver milik pacarku. Perjalanan dari rumahku menuju puncak membutuhkan waktu satu jam.

Pada saat sedang OTW menuju puncak tiba-tiba mobil yang kami kendarai mogok di tengah jalan. Mesin mobil tersebut tiba-tiba mati tanpa sebab. Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk keluar dari mobil. Dan aneh ternyata pintu mobil tidak dapat dibuka. Aku dan Marius sudah mencoba berulang kali namun tetap saja gagal. Kami berdua terjebak di dalam mobil. Karena mesin mobil mati, AC pun ikut mati. Suasana di dalam mobil sangat pengap dan panas. Lalu akupun mengambil sebuah majalah yang ada di dalam mobil Marius. Aku gunakan majalah tersebut untu kipas-kipas. Yeach itung-itung buat ngilangin panas.

Itulah teman, cerita panasku bersama Marius yang terjebak di dalam mobil. Terima kasih yah sudah mau membacanya. Semoga bisa menginspirasi teman-teman semua.

Note: Bagi para pembaca yang otaknya ngeres, mohon disapu dulu yah biar bersih.
Kacian deh lu !!!!
Gaxgaxgaxgaxgaxgaxgax

Rabu, 20 Maret 2013

Sepotong Roti untuk Angelina

Kali ini aku datang untuk menjengukmu yang sudah lama mendekam di balik jeruji besi. Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu. Apakah kau masih ingat denganku? Kalau sudah lupa, akan aku coba jelaskan kembali siapa sebenarnya aku ini.

Namaku Rahman. Aku adalah seorang pemulung. Aku yang biasanya memunguti sampah-sampah plastik yang ada di depan rumahmu. Mungkin kau kaget dengan kedatanganku ini. Tapi tenanglah, aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya sekedar memastikan bahwa keadaanmu baik-baik saja. Karena aku sangat mengagumi sosokmu yang masih sangat muda, cantik, cerdas, dan berpendidikan tinggi.

Aku datang membawa sepotong roti untukmu. Mungkin rasanya tidak seenak dengan yang ada di toko-toko roti terkenal. Tapi percayalah, bahwa roti ini kubeli dengan hasil keringatku sendiri. Bukan dari hasil korupsi.

Mba Angelina yang terhormat. Setelah kepergianmu ke dalam jeruji besi, kini rumahmu tak seramai dulu. Para pembantu, tukang kebun dan satpam yang ada di rumahmu tidak sesibuk biasanya. Rumahmu bagaikan sebuah goa di tengah hutan belantara. Sepi dan nyaris tak ada aroma kehidupan.

Aku sebagai orang yang sangat mengagumi sosokmu selalu berdoa di setiap penghujung lima waktuku. Semoga kau bisa secepatnya keluar dari balik jeruji besi. Semoga senyumu bisa kembali menghadirkan aroma kehidupan di rumahmu yang sudah sangat sepi bagaikan goa di tengah hutan belantara.

Mba Angelina yang aku kagumi. Tetaplah kuat menjalani semua ini. Hidup pasti ada masalah dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Bersabarlah dan terus berdoa. Anggap semua ini adalah pelajaran berharga. Berkah kehidupan ini sangat melimpah. Tak semestinya kau cepat menyerah.

Forza Angelina Sondakh