Kemarin adalah pertandingan maha penting buatku. Aku melawan mantan
tim yang pernah kubela. Tim yang sudah membesarkanku menjadi salah satu
striker terbaik di Indonesia. Dialah PSCS Cilacap.
Sebelum hijrah ke PSIS Semarang, aku memang pernah bermain untuk PSCS Cilacap selama 7 musim. Aku datang ke sana dalam kondisi kosong. Kemudian 7 tahun digembleng, akhirnya aku menjadi salah satu striker top Indonesia. PSCS sudah seperti rumah buatku. Di sana aku mempunyai banyak teman dan saudara. Di sanalah skill sepak bolaku diasah. Dari mulai tidak bisa apa-apa sampai menjadi striker paling ditakuti di Indonesia seperti sekarang. Skill dan visi bermainku yang cukup menawan ternyata mampu membuat klub besar sekaliber PSIS Semarang kepincut. Tepat akhir musim kemarin, aku resmi di boyong ke stadion Jati Diri Semarang untuk memperkuat PSIS. PSCS benar-benar membekas di hatiku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakan PSCS. Hatiku akan tetap berada di sana walaupun ragaku di PSIS.
Dan kemarin sore adalah sebuah pertandingan yang paling tidak saya sukai. PSIS Semarang bertemu dengan PSCS Cilacap di Gelora Bung Karno Jakarta dalam laga Bigmatch yang bertajuk “Final Copa Indonesia”.
Di satu sisi aku merasa senang karena bisa bernostalgia dengan teman-teman lamaku. Namun di sisi yang lain aku merasa sedih karena satu diantara kita akan ada yang tersakiti.
Dan apa yang aku khawatirkan ternyata menjadi kenyataan. Setelah bermain 0:0 di babak pertama, PSIS langsung tancap gas di babak kedua. Dan PSIS pun berhasil unggul tepat di menit ke-70 melalui gol yang aku cetak sendiri. Perasaanku pada saat itu benar-benar tidak karuan. Senang bercampur sedih. Sempat teman-teman satu timku mengajaku berselebrasi, namun aku menolaknya. Aku lebih memilih diam untuk menghormati mantan tim yang sudah membesarkan namaku.
Menit ke-93 atau masa injured time adalah puncaknya. Aku mencetak gol yang kedua untuk memperbesar keunggulan menjadi 2:0. Selang beberapa detik setelah aku mencetak gol, peluit panjang dibunyikan sebagai tanda berakhirnya pertandingan. Semua pendukung PSIS riuh bergembira menyambut kemenangan berharga ini. Para pemain dan oficial tim berlari ke tengah lapangan untuk berselebrasi dan merayakan kemenangan ini. Mereka semua benar-benar bergembira, namun itu tidak terjadi padaku. Hatiku benar-benar hancur lebur setelah mencetak 2 gol. Teman-temanku memaksaku untuk melakukan selebrasi. Namun aku tetap menolaknya. Aku berjalan ke pinggir lapangan untuk menemui pelatih PSCS. Aku bersimpuh di kaki sang pelatih lalu kemudian menangis merengek-rengek seperti anak kecil. Tangisanku adalah tangisan penderitaan dan kekecewaan.
Aku tidak pernah menyangka, kenapa aku bisa sekejam itu. Aku tahu betul visi dan misi PSCS Cilacap. Mereka belum pernah mendaptkan satu gelarpun, namun mereka selalu menargetkan gelar juara di setiap musimnya. Dan kemarin adalah salah satu peluang terbaik yang mereka miliki untuk mewujudkan mimpi. Namun mimpi besar mereka yang sudah di depan mata terpaksa dihancur leburkan oleh seorang penghianat seperti aku ini. Semua pemain dan pendukung PSCS Cilacap pasti sangat marah kepadaku. Aku tak ubahnya seorang penghianat yang tak tau balas budi.
Aku terus menangis tanpa henti meratapi kesalahan besar yang sudah aku lakukan. Aku mencoba untuk meminta maaf kepada pelatih, pemain dan pendukung PSCS. Namun itu semua justru membuat tangisanku semakin keras. Sampai pada saat ceremony pemberian pialapun aku masih tetap menangis. Aku segera turun dari podium kemudian keluar lapangan sambil membuang medali yang kudapatkan ke tong sampah.
Aku tidak pantas berbahagia dan menari-nari di atas penderitaan saudara-saudaraku.
Maafkan aku saudaraku, aku tak bermaksud mengancurkan mimpi kalian.
¤Tamat¤
Sebelum hijrah ke PSIS Semarang, aku memang pernah bermain untuk PSCS Cilacap selama 7 musim. Aku datang ke sana dalam kondisi kosong. Kemudian 7 tahun digembleng, akhirnya aku menjadi salah satu striker top Indonesia. PSCS sudah seperti rumah buatku. Di sana aku mempunyai banyak teman dan saudara. Di sanalah skill sepak bolaku diasah. Dari mulai tidak bisa apa-apa sampai menjadi striker paling ditakuti di Indonesia seperti sekarang. Skill dan visi bermainku yang cukup menawan ternyata mampu membuat klub besar sekaliber PSIS Semarang kepincut. Tepat akhir musim kemarin, aku resmi di boyong ke stadion Jati Diri Semarang untuk memperkuat PSIS. PSCS benar-benar membekas di hatiku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakan PSCS. Hatiku akan tetap berada di sana walaupun ragaku di PSIS.
Dan kemarin sore adalah sebuah pertandingan yang paling tidak saya sukai. PSIS Semarang bertemu dengan PSCS Cilacap di Gelora Bung Karno Jakarta dalam laga Bigmatch yang bertajuk “Final Copa Indonesia”.
Di satu sisi aku merasa senang karena bisa bernostalgia dengan teman-teman lamaku. Namun di sisi yang lain aku merasa sedih karena satu diantara kita akan ada yang tersakiti.
Dan apa yang aku khawatirkan ternyata menjadi kenyataan. Setelah bermain 0:0 di babak pertama, PSIS langsung tancap gas di babak kedua. Dan PSIS pun berhasil unggul tepat di menit ke-70 melalui gol yang aku cetak sendiri. Perasaanku pada saat itu benar-benar tidak karuan. Senang bercampur sedih. Sempat teman-teman satu timku mengajaku berselebrasi, namun aku menolaknya. Aku lebih memilih diam untuk menghormati mantan tim yang sudah membesarkan namaku.
Menit ke-93 atau masa injured time adalah puncaknya. Aku mencetak gol yang kedua untuk memperbesar keunggulan menjadi 2:0. Selang beberapa detik setelah aku mencetak gol, peluit panjang dibunyikan sebagai tanda berakhirnya pertandingan. Semua pendukung PSIS riuh bergembira menyambut kemenangan berharga ini. Para pemain dan oficial tim berlari ke tengah lapangan untuk berselebrasi dan merayakan kemenangan ini. Mereka semua benar-benar bergembira, namun itu tidak terjadi padaku. Hatiku benar-benar hancur lebur setelah mencetak 2 gol. Teman-temanku memaksaku untuk melakukan selebrasi. Namun aku tetap menolaknya. Aku berjalan ke pinggir lapangan untuk menemui pelatih PSCS. Aku bersimpuh di kaki sang pelatih lalu kemudian menangis merengek-rengek seperti anak kecil. Tangisanku adalah tangisan penderitaan dan kekecewaan.
Aku tidak pernah menyangka, kenapa aku bisa sekejam itu. Aku tahu betul visi dan misi PSCS Cilacap. Mereka belum pernah mendaptkan satu gelarpun, namun mereka selalu menargetkan gelar juara di setiap musimnya. Dan kemarin adalah salah satu peluang terbaik yang mereka miliki untuk mewujudkan mimpi. Namun mimpi besar mereka yang sudah di depan mata terpaksa dihancur leburkan oleh seorang penghianat seperti aku ini. Semua pemain dan pendukung PSCS Cilacap pasti sangat marah kepadaku. Aku tak ubahnya seorang penghianat yang tak tau balas budi.
Aku terus menangis tanpa henti meratapi kesalahan besar yang sudah aku lakukan. Aku mencoba untuk meminta maaf kepada pelatih, pemain dan pendukung PSCS. Namun itu semua justru membuat tangisanku semakin keras. Sampai pada saat ceremony pemberian pialapun aku masih tetap menangis. Aku segera turun dari podium kemudian keluar lapangan sambil membuang medali yang kudapatkan ke tong sampah.
Aku tidak pantas berbahagia dan menari-nari di atas penderitaan saudara-saudaraku.
Maafkan aku saudaraku, aku tak bermaksud mengancurkan mimpi kalian.
¤Tamat¤
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tuliskan komentarnya ya sobat? Kritik dan saran dari sobat semuanya akan sangat bermanfaat bagi penulis.