Waktu terus berjalan, hingga tak terasa sekarang sudah bulan
Desember. Sudah 6 bulan aku tidak bertemu dengan Hesti. Kalau boleh
jujur, sebenarnya aku sangat merindukanya. Benih-benih cinta tumbuh
subur justru saat aku sudah tidak bisa lagi bertatap muka denganya.
Rindu ini tersimpan rapih di hatiku. Dan sampai kapanpun akan tetap kusimpan. Ya siapa tahu suatu saat dia akan menanyakanya padaku. Rindu ini benar-benar keras. Sudah berulang kali kucoba untuk menghancurkanya, namun aku tak sanggup. Jadi aku biarkan saja rindu ini tersimpan utuh di hatiku.
Menyesal dan kecewa, itulah perasaanku saat ini. Menyesal karena aku tak pernah sadar bahwa Hesti sebenarnya sudah menyukaiku dari dulu. Dan kecewa karena dia tidak pernah membalas sms dan mengangkat teleponku selama ini.
Aku bingung harus berbuat apa lagi. Aku pingin sekali memperjuangkan cintaku, namun seolah-olah jalan tidak pernah memberiku kesempatan untuk. Jadi yang bisa kulakukan saat ini cuma pasrah terhadap keadaan.
Namun aku sadar. Bumi terus berputar. Aku tidak boleh berlarut-larut di dalam kesedihan ini. Aku harus bisa move on. Kalau jodoh tidak akan kemana, begitulah nasehat para orang tua.
****
Minggu pagi. Hari ini kantor tempatku bekerja tutup. Dan kebetulan hari ini juga bukan jadwalku jaga kantor. Aku akan memanfaatkan waktu libur yang singkat ini.
Dan jalan-jalan ke Pantai Pengandaran adalah ide yang cukup cemerlang. Aku tidak akan ke sana sendirian. Sudah pasti aku akan ditemani oleh sahabat setiaku Erik Setyo Wahyudi.
Tok….tok….tok
“Assalamualaikum”
“Walaikumsalam. Eh kamu rif, ayo sini masuk. Aku mau mandi dulu”.
“Eleh eleh eleh dari tadi ngapain aja kamu rik? Sudah siang begini baru mandi. Ayo cepetan, kalau sudah siang panas banget di pantai.”
“Hehehehehehe tenang mas bro. Mandiku cepet koq gak pake lama.”
***
Dah siap? Ayo kita cabut. Aku dan Erik segera meluncur ke Pengandaran.
Wah nikmati sekali ini. Pagi-pagi gini menikmati udara segar dan pemandangan indah pantai. Aku dan Erik duduk di sebuah perahu nelayan yang tergeletak di tepi pantai.
“Rik kamu tau gak kenapa kamu aku ajak ke sini?”
Tanyaku kepada Erik
“Meneketehe…., yang penting jangan nyuruh aku untuk berenang ke tengah laut aja. Hahahahahaha”
Jawab Erik sambil sedikit bercanda.
“Hahahahaha ketahuan kamu gak bisa berenang yah? Gini Rik. Aku mengajak kamu ke sini karena ini adalah tempat favoritnya Hesti. Dulu dia pernah mengatakan padaku bahwa dia paling seneng kalau jalan-jalan ke Pantai Pengandaran.”
“Wah kayaknya ada yang sedang kangen setengah mati ini. Tapi tenang saja rif. Aku baru denger kabar katanya Si Hesti akhir bulan ini akan pulang. Ini kan bulan Desember. Mungkin saja dia pingin menikmati libur akhir taun di Bandung.”
“Wah kata siapa kamu rik?
Jawabku sedikit penasaran
“Ya kata Pak Boss lah”
Jawab Erik berusaha meyakinkan
“Ya syukurlah Rik kalau begitu. Aku sudah kangen banget sama dia. Kalau ketemu dia, aku pingin sekali menanyakan kejelasan perasaanya padaku.”
Rindu ini tersimpan rapih di hatiku. Dan sampai kapanpun akan tetap kusimpan. Ya siapa tahu suatu saat dia akan menanyakanya padaku. Rindu ini benar-benar keras. Sudah berulang kali kucoba untuk menghancurkanya, namun aku tak sanggup. Jadi aku biarkan saja rindu ini tersimpan utuh di hatiku.
Menyesal dan kecewa, itulah perasaanku saat ini. Menyesal karena aku tak pernah sadar bahwa Hesti sebenarnya sudah menyukaiku dari dulu. Dan kecewa karena dia tidak pernah membalas sms dan mengangkat teleponku selama ini.
Aku bingung harus berbuat apa lagi. Aku pingin sekali memperjuangkan cintaku, namun seolah-olah jalan tidak pernah memberiku kesempatan untuk. Jadi yang bisa kulakukan saat ini cuma pasrah terhadap keadaan.
Namun aku sadar. Bumi terus berputar. Aku tidak boleh berlarut-larut di dalam kesedihan ini. Aku harus bisa move on. Kalau jodoh tidak akan kemana, begitulah nasehat para orang tua.
****
Minggu pagi. Hari ini kantor tempatku bekerja tutup. Dan kebetulan hari ini juga bukan jadwalku jaga kantor. Aku akan memanfaatkan waktu libur yang singkat ini.
Dan jalan-jalan ke Pantai Pengandaran adalah ide yang cukup cemerlang. Aku tidak akan ke sana sendirian. Sudah pasti aku akan ditemani oleh sahabat setiaku Erik Setyo Wahyudi.
Tok….tok….tok
“Assalamualaikum”
“Walaikumsalam. Eh kamu rif, ayo sini masuk. Aku mau mandi dulu”.
“Eleh eleh eleh dari tadi ngapain aja kamu rik? Sudah siang begini baru mandi. Ayo cepetan, kalau sudah siang panas banget di pantai.”
“Hehehehehehe tenang mas bro. Mandiku cepet koq gak pake lama.”
***
Dah siap? Ayo kita cabut. Aku dan Erik segera meluncur ke Pengandaran.
Wah nikmati sekali ini. Pagi-pagi gini menikmati udara segar dan pemandangan indah pantai. Aku dan Erik duduk di sebuah perahu nelayan yang tergeletak di tepi pantai.
“Rik kamu tau gak kenapa kamu aku ajak ke sini?”
Tanyaku kepada Erik
“Meneketehe…., yang penting jangan nyuruh aku untuk berenang ke tengah laut aja. Hahahahahaha”
Jawab Erik sambil sedikit bercanda.
“Hahahahaha ketahuan kamu gak bisa berenang yah? Gini Rik. Aku mengajak kamu ke sini karena ini adalah tempat favoritnya Hesti. Dulu dia pernah mengatakan padaku bahwa dia paling seneng kalau jalan-jalan ke Pantai Pengandaran.”
“Wah kayaknya ada yang sedang kangen setengah mati ini. Tapi tenang saja rif. Aku baru denger kabar katanya Si Hesti akhir bulan ini akan pulang. Ini kan bulan Desember. Mungkin saja dia pingin menikmati libur akhir taun di Bandung.”
“Wah kata siapa kamu rik?
Jawabku sedikit penasaran
“Ya kata Pak Boss lah”
Jawab Erik berusaha meyakinkan
“Ya syukurlah Rik kalau begitu. Aku sudah kangen banget sama dia. Kalau ketemu dia, aku pingin sekali menanyakan kejelasan perasaanya padaku.”