Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Seperti Mimpi

Berjumpa denganmu ketika sore nampak begitu cerah
Kau mengajaku menari di atas taman bunga yang begitu indah
Lalu ketika malam menjelang
Kita sama-sama pulang

Keesokan harinya kita kembali bertemu di tempat yang sama
Senyumu nampak lebih manis dari yang sebelumnya
Dengan lembut kau ucapkan sesuatu
Kau begitu bahagia berada di sampingku

Akupun tertawa bangga mendengar kata-katamu
Aku merasa beruntung menjalani hari-hari indah bersamamu
Ini semua seperti mimpi
Mimpi yang kutulis dalam sebuah puisi

Sosokmu adalah goresan pena hasil imajinasi
Senyumu adalah rangkaian kata isyarat hati
Cerita ini seperti mimpi
Mimpi yang kutulis dalam sebuah puisi

Sajak Cinta Penggila Bola

Kisah cinta kita laksana arena pertandingan sepak bola

Aku dan kau bersatu di atas strategi cinta penuh makna

Formasi bahagia menentang derita

Menyerang bertahan itu hal yang biasa

Menyerang saat kita berdua berusaha untuk selalu bertemu walau terhalang benteng kokoh bernama jarak dan konflik

Kita tidak berusaha untuk saling mengalahkan, melainkan untuk saling menguatkan

Bertahan adalah saat aku dan kau mencoba sekuat tenaga menahan egosentris demi keutuhan cinta kita berdua

Perpaduan keduanya akan menghasilkan keseimbangan

Tekad kuat untuk selalu bersatu

Dan menahan ego kala keretakan semakin menekan

Mengatur irama permainan itu perlu

Sebab harmoni dan keselarasan nada akan semakin mengindahkan hubungan kita

Ada suatu masa dimana kita harus berfikir pragmatis

Mencoba melupakan proses yang begitu menyakitkan

Demi keindahan hasil akhir yang kita impikan

Gool adalah teriakan kemenangan kala tuhan menyatukan kita di atas podium bertitel pernikahan

Sang Peretak Hati

Aku tahu kau selalu menantikan potongan-potongan puisi yang selalu kutempelkan di dinding hati
Tapi perlu kau ingat, aku tak pernah sedetikpun mencoba mengingatmu
Aku dan kau sudah berakhir dalam perasaan
Waktu terus berputar matahari masih tetap bersinar

Sudah saatnya kau melangkah
Meninggalkanku yang masih terkungkung dalam kepahitan
Aku sudah memaafkan masa lalu
Dan juga rangkaian cerita yang kuukir bersamamu

Cerita kita sudah lama usai
Kutinggalkan bersama retakan hati yang tak mungkin utuh lagi
Kuharap kau mengerti
Saat kau baca puisiku ini

Hapus aku dari ingatanmu
Tinggalkan kisahku yang sudah lama layu
Berlarilah tinggalkan aku di sini
Wahai sang peretak hati

Mencoba Bangkit

Mencoba bangkit dari keterpurukan
Menggunakan kaki sendiri kucoba tuk berdiri
Ini tidaklah mudah ketika aku hampir menyerah
Aku tak butuh bantuanmu, bantuanya dan bantuan mereka


Mencoba bangkit di tengah situasi yang semakin sulit
Aku tak pernah peduli pada bau busuk keadaan
Seberat apapun itu, pastilah masih ada celah yang bisa kutemukan
Lihatlah aku sekarang, kakiku sudah mulai kuat menapaki tajamnya batu kehidupan

Mencoba bangkit walaupun dunia tak lagi berpihak
Ini jalan hidupku, tak seharusnya aku bergantung padamu
Duka ini akan segera kuakhiri
Tanpamu aku pasti bisa berlari

Mencoba bangkit dan bersiap tuk terbang tinggi
Awan yang cerah adalah sahabat sejati
Di sini aku mampu berdiri
Menggenggam mimpi menaklukan duka di hati

Air Mata Langit di Bumi Sriwijaya

Langit kali ini meneteskan air matanya di bumi sriwijaya
Bumi para penikmat senja
Apakah kisah rinduku ini sangat mengharukan
Sampai-sampai langitpun tak sanggup menahan derai air matanya

Air mata langit terus menetes
Mengiringi senjaku yang semakin temaram
Tak banyak yang bisa aku lakukan
Selain merenung menikmati aroma tetesan air mata langit

Aku sadar malam akan segera datang
Mencoba menutupi temaram senja yang mengharukan
Tapi aku tak rela jika langit dipaksa tersenyum
Hanya demi keindahan malam yang tegar ditinggalkan bulan

Malam tetaplah malam
Bagiku tetap indah tanpa kehadiran bintang bulan
Dan langit tetaplah langit
Bagiku tetap cerah walaupun air mata bercucuran

Mahkota Rindu Bertuliskan Namamu

Aku belum pernah sekuat ini menahan rindu

Rindu yang sengaja kusimpan untuk seseorang

Namun tak pernah kutahu seseorang tersebut sekarang ada di mana

Mungkin awan telah mengajaknya terbang ke atas sana

Atau jangan-jangan dia telah lenyap terhembus angin siang

Aku mencoba bertanya kabarnya kepada senja yang sedang duduk menemaniku di bawah singgasananya

Hai senja…..

Tahukah engkau di mana dia?

Ia dia, yang namanya selalu ada di dalam ingatanku…..

Ayolah senja jangan diam saja…..

Aku mohon beritahu di mana sekarang dia berada…..

Huuuh……

Senja tetap pada pendirianya

Dia cuma diam, diam dan diam

Terimakasih senja

Jika suatu saat kau bertemu denganya, aku mau menitip sebuah pesan

Katakan padanya, sebuah mahkota rindu bertuliskan namanya masih tersimpan rapih di dalam hatiku

Jika dia ingin mengenakannya, datanglah padaku dan bawa kepingan hatiku

Ketakutanku (Sajak Seorang Penakut Chapter 2)

Aku adalah manusia bukan dewa

Dalam diriku tumbuh subur benih-benih ketakutan yang menyeramkanku

Memberantas mereka tidak segampang membalikan telapak tangan

Aku membutuhkan bantuan nyali dan keberanian

Tapi dimanakah aku bisa bertemu dengan mereka?

Sementara aku bukanlah seorang kesatria

Jiwaku dipenuhi rasa takut atas hal-hal yang belum pernah terjadi

Bahkan tidak pernah benar-benar terjadi

Ketakutan benar-benar membuatku berhenti untuk sementara waktu

Sejenak kusadar, aku tak mungkin berhenti begitu saja di sini
 
Aku harus terus berjalan, berjalan, dan berlari

Aku pasti mampu menaklukanmu ketakutanku

Karena kamu cuma khayalan dan imajinasiku

Sajak Seorang Penakut

Mungkin aku telah berdusta dengan mengatakan bahwa aku adalah seorang kesatria sejati

Walaupun aku hanya menyatakan afirmasi itu kepada diriku sendiri

Sejatinya aku memang cuma seorang penakut

Yang selalu tumbang di setiap medan pertempuran

Mungkin aku selalu terluka, namun aku tidak mati

Sudah saatnya aku membangun sebuah tujuan yang ambisius, bukan sekedar angan-angan

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya

Aku percaya aku bisa

Karena aku lebih dari sekedar yang dapat kulihat

Aku adalah makhluk yang mempunyai jiwa dan semangat

Musuh besarku ada di dalam diriku sendiri

Aku harus memenangkan pertempuran ini

Dan aku harus berpura-pura melakukanya sampai aku benar-benar melakukanya

Tumbang Sebelum Berperang

Terpecah langit ketika aku berteriak

Awan hitam kembali menggumpal di atas telaga biru

Rumput, dedaunan, pohon dan binatang semuanya menertawakanku

Inilah yang dimaksud dengan tumbang sebelum berperang

Mimpiku tak lagi berarti

Karena terbentur tembok kokoh bernama setan

Malaikat tak berani mendekat

Akupun tak mampu melesat

Pedang yang kubawa

Semangat yang menggelora

Dan visi yang luar biasa

Semuanya sia-sia

Satu pergerakan langkah kaki sangat aku butuhkan

Mengingat perjalan masih sangatlah panjang

Mungkin aku akan letih dan tertatih

Tapi tak pantas untuk merintih

Langit masih biru

Matahari masih bersinar

Pertanda harapan yang belum tenggelam

Balada Seorang Guru

Aku tidak pernah memilih hidup di jalan seperti ini

Tapi aku percaya, rencana tuhan pasti lebih indah dari semua yang ada di bumi ini

Aku dilahirkan menjadi seorang pendidik dengan kepribadian yang cukup unik

Jelas ini membuatku bangga dan bersyukur

Tugasku tidaklah mudah

Karena guru tidak boleh salah

Mendidik anak bangsa

Mencetak insan cendekia

Nasib bangsaku ke depan ada di tanganku

Maju atau mundur, ini cuma soal waktu

Setiap guru adalah seniman, ia ahli melihat dan mengetahui di mana bidang yang jadi hasrat muridanya

Setiap murid punya keistimewaan, tugas guru untuk mengenalinya

Aku harus bisa menginspirasi muridku

Bukan cuma menyuruh membaca buku

Membunuh Sepi

Membunuh sepi dalam keheningan jiwa ini

 

Butuh syair dan balada para penghibur hati

 

Aku mewakili jiwa yang tersakiti

 

Tanpa lentera berjalan di lorong gelap malam ini

 

Hari mungkin akan digantikan pagi

 

Sosok bayangan hitam takkan pernah mengingkari

 

Kau yang menguatkan hati

 

Semakin menjauh dari diri ini

 

Langit akan terus menemani

 

Tangisan syahdu sang pencari arti

 

Hidup bukan cuma untuk saat ini

 

Teruslah melangkah menuju matahari pagi

Mencoba Bijak

Mungkin aku merasa frustasi, ketika apa yang aku inginkan tak pernah menjadi nyata
Tapi tunggu dulu, hidup bukan sekedar harta dan tahta
Kata mereka kebahagiaan ada di dalam hati
Aku tak sepenuhnya percaya
Karena aku tak pernah benar-benar bahagia
Otakku benar-benar sudah termonopoli oleh jutaan mimpi level tertinggi
Mimpiku tanpa pergerakan, seperti menulis tanpa pena
Confuciuspun bersabda “Sebuah perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan langkah pertama”
Namun langkah pertama selalu terasa lebih berat dari langkah-langkah berikutnya

Dan aku harus bagaimana?
Berdiam diri di tempat ini
Atau mencoba melangkah melewati batu dan duri
Semua mengandung resiko kawan
Karena hidup adalah pertempuran
Ambilah satu pilihan
Jadikan itu sebagai batu pijakan
Diam mungkin akan membuatmu nyaman
Dan melangkah memberikanmu banyak kemungkinan
Mencoba bijak dalam berbagai situasi
Silahkan tanya pada hati nurani

Dialah Intan

Kembali merenung rasaku saat tak bersamamu
Malam sebagai saksinya, jiwaku kelabu
Aku tak mampu terus begini
Karena dua hati tercipta bukan untuk sendiri
Menjaga mimpi dan menahan rindu
Keduanya sangatlah menyiksaku

Aku akan berlari menjauhi bayanganmu
Sambil berharap kau tak akan mengejarku
Berat langkah membuatku lelah
Aku lelaki tak pantas menyerah
Maafkanku sudah menggoreskan luka
Luka perih yang sangat menyiksa

Nyanyian rindumu tak lagi kudengarkan
Warna mimpimu tak lagi kukenangkan
Dan aku sekarang sudah menemukan
Tempat dimana hatiku titipkan
Dialah Intan
Permata hatiku yang baru kutemukan

Sarmilah Sang Gadis Pujaan

Sarmilah sang gadis pujaan
Kau kandaskan cintaku di tengah jalan
Padahal aku sudah menyiapkan pernikahan
Agar kita berdua bisa hidup berdampingan

Sarmilah sang gadis pujaan
Kau rela jual keperawanan
Pada seorang anak bangsawan
Yang hobi judi dan main perempuan

Sarmilah sang gadis idaman
Kenapa kau tak pernah memberiku kesempatan
Padahal wajahku lumayan tampan
Walaupun aku cuma seorang kuli bangunan

Sarmilah sang gadis idaman
Kau tak lagi cantik menawan
Wajahmu tak semenarik rembulan
Pesonamu tak lagi kurindukan

Sarmilah sang gadis pujaan
Kini kau tak lagi jadi pujaan

Di Bawah Pelukan Pelangi

Menapaki terjalnya jalan berbatu
Di sudut kota tempatku melepas rindu
Angin dan teriknya cahya mentari seolah-olah menghalangiku
Aku yang terus berlari berharap segera menemukanmu

Tubuhku mungkin tak sekokoh dulu
Seperti saat pertama kali kita bertemu
Tapi asal kau tau
Cintaku takkan pernah tumbang oleh waktu

Tak perlu kau pertanyakan lagi
Untuk apa aku berlari
Karena semua sudah menjadi bukti
Aku pergi membelah hujan dan pulang mempersembahkan pelangi

Sudah saatnya aku menikmati
Semua yang aku dapati
Bersamamu sang belahan hati
Di sini, di bawah pelukan pelangi

Ibumu Bukan Seorang Penjahat

Aku terbangun di ujung malam
Ketika hujan dan petir mencoba merusak keindahan malam
Aku segera keluar dari ruang nyaman tempatku meracik mimpi
Kulihat sebuah jam yang melekat di dinding
Dia memberitahuku bahwa malam akan segera memberikan singgasananya pada sang pagi

Aku melangkah ke ruang tamu
Kulihat di sana ada bapakku
Dia terlihat sedang menangis sambil memegang foto ibuku

Apa yang terjadi pak?
Tanyaku polos pada bapak
Tidak ada apa-apa nak
Sekedar mengenang ibumu
Yang entah kini berada di mana
Andai saja dia ada bersama kita
Mungkin kehidupan ini akan lebih berwarna

Sudahlah pak lupakan ibu
Aku sudah cukup bahagia bisa hidup bersama bapak
Mungkin ibu sudah menemukan kebahagiaan sendiri di sana
Kita tidak pantas memikirkanya

Jangan begitu nak
Sampai kapanpun dia tetap ibumu
Ibu yang sudah melahirkanmu
Kau harus tetap memanjatkan doa untuknya
Agar dia bisa kembali bersama kita

Tapi ibu jahat pak
Dia sudah meninggalkan kita berdua dalam kesengsaraan
Apa pantas kita merindukan dan mendoakan penjahat yang sudah menyengsarakan kita?

Berhentilah berkata seperti itu nak
Ibumu bukan seorang penjahat
Dia adalah seorang malaikat
Bapak yakin ibumu akan pulang di saat yang tepat
Sabar yah nak?
Bapak tahu kamu pasti marah sekali sama ibu
Tapi ingatlah nak dia surgamu

Tuhan Tak Pernah Adil Kepadamu

Awan hitam selalu menyelimutiku
Membuat pagiku selalu dilanda kekelaman
Aku mencoba bertanya pada matahari
Apakah sinarmu hanya untuk mereka yang ada di sana

Tumbuh di tengah kebencian
Besar di dalam cacian
Hidup tanpa cinta dan kedamaian
Teramat sulit untuk aku jalankan

Mencoba mencari jawaban di gelapnya malam tanpa bintang
Tentang arti hidup yang aku jalani
Sekali lagi tiada jawaban
Akupun semakin bimbang

Malaikat tertawa geli
Melihatku yang semakin kehilangan jati diri
Setan dan iblis mencoba membisikiku
Tuhan tak pernah adil kepadamu

Sebuah Perjalanan

Ayunan langkahku semakin berat

Sepintas seperti berjalan di tempat

Mencoba berlari menjemput mimpi

Cemooh dan teriakan pesimis terus kudapati

Semuanya sudah aku fikirkan

Perjalanan ini penuh dengan tekanan

Entah ilusi, halusinasi ataupun sugesti

Aku takan pernah menyerah itu pasti

Semua orang berhak mencaci

Tapi tidak untuk menghakimi

Tunggu saja suatu saat nanti

Kau akan menjilat ludahmu sendiri

Kesempatan selalu terbuka lebar

Sudah pasti aku harus bersabar

Doa dan usaha terus kulakukan

Hasil akhir ada di genggaman tuhan

Ini tentang sebuah perjalanan

Seorang anak manusia mencoba mengalahkan angan

Mimpi adalah kekuatanya

Doa dan usaha adalah senjatanya

13616897431539471025

Jumat, 29 Maret 2013

Puisi untuk Seorang Sahabat

Sahabatku yang kusayangi

Terimakasih sudah mendampingiku selama ini

Aku mengenalmu belum terlalu memang

Tapi aku yakin kau bisa menemaniku sepanjang nafasku

Adalah suatu kemewahan bisa memilikimu

Lebih mewah dari apapun yang ada di dunia ini

Saat ku terbang kau selalu mendampingiku dari belakang

Dan ketika kuterjatuh, kaulah yang pertama kali menangkapku

Sahabatku aku selalu berdoa sama tuhan

Agar kita selalu diberi umur panjang

Karena kutahu satu hari bersamamu takkan pernah sia-sia

Sahabatku tetaplah disampingku dan menjagaku

Menantang Hidup

Bila kau sudah tak yakin dengan langkah yang kau tempuh

Berhentilah sejenak sebelum kau benar-benar rapuh

Tetap berdiri dan kepalkan tangan

Aku yakin kau mampu terus bertahan

Rintangan selalu menghadang

Dan perjalananpun masih sangatlah panjang

Tidak ada gunanya kita mengeluh kawan

Seberat apapun hidup dan sebesar apapun masalah

Kita tetaplah lebih hebat dari keduanya

Hidup memang penuh dengan ketidakpastian

Tapi ia selalu menghadirkan banyak kemungkinan

Raihlah tanganku kawan

Aku selalu berdiri untukmu

Kemenangan hanya soal waktu

Ambilah semangatku agar kau mampu terus melaju

Teruslah berteriak

Sampai langit merasa muak