Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Kasihan adalah Wujud Lain dari Kesombongan

Sujiwo Tedjo adalah salah seorang publik figur yang hobi sekali ngetwitt. Dalang gaul ini setiap hari selalu berkicau di situs jejaring sosial berlambang burung biru.

Sayapun sebagai salah satu pengguna twiter sangat menyukai twet-twetnya. Twet-twetnya sangat sederhana namun sarat makna dan mencerdaskan. Salah satu tema yang dibahas semalam adalah mengenai kesombongan.

Penulis buku “Ngawur Karena Benar” ini memang terkenal sebagai orang yang sangat sombong namun selalu berkata apa adanya. Dia pernah berkata dalam twettnya “Kalau sombongmu nanggung, jangan berani-berani ketemu sama aku. Karena kalau kamu ketemu aku pasti kamu akan minder.”

Diapun mengamini bahwa dirinya sendiri adalah pribadi yang sombong. Tapi kata beliau lebih baik jadi orang yang sombong terang-terangan dari pada orang yang sombong tapi selalu menutupi. Orang yang sombong tetapi selalu menutupi kesombonganya itu dosanya 2 kali. Yaitu dosa sombong dan dosa munafik.

Di twitternya (@sujiwotedjo) dia juga berkata, bahwa kasihan adalah wujud lain dari kesombongan. Contohnya adalah ketika si kaya membantu si miskin karena kasihan. Berarti si kaya merasa lebih mampu dan beruntung dari si miskin. Ini adalah bentuk kesombongan. Karena kaya dan miskin keduanya itu sama-sama ujian.

Jadi pesan beliau kalau mau membantu orang jangan pakai “kasihan”.

Filosofi Buah Kedondong Tak Selalu Buruk

Ada beberapa orang yang mengatakan, bahwa dalam hidup kita tidak boleh menerapkan filosofi buah kedondong. Yah seperti kita semua ketahui, bahwa buah kedondong adalah buah yang luarnya nampak mulus dan bagus namun di bagian dalamnya nampak tak beraturan, jelek, berambut atau bahkan berduri.

Kalau di dalam kehidupan nyata orang-orang yang menerapkan filosofi buah kedondong adalah orang-orang yang nampak kelihatan baik penampilan atau ucapanya namun dalam hatinya menyimpan niat yang jelek dan jahat.

Ya mungkin pendapat sebagian orang ada benarnya. Tapi kalau menurut saya pribadi filosofi buah kedondong tak selalu buruk. Ada nilai-nilai positif dari buah kedondong yang patut untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai positif itu ada pada keras atau kuatnya buah kedondong. Buah kedondong memang tergolong buah yang cukup keras. Bahkan orang harus membantingnya dulu berulang kali sampai hancur baru bisa menikmati buah kedondong.

Itulah filosofi positif dari buah kedondong yang pantas untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan ini memang kadang penuh dengan masalah. Oleh karena itu harus mempunyai pendirian dan kepribadian yang kuat seperti buah kedondong. Walaupun kehidupan sudah membanting kita berulang kali, kita harus tetap tegar. Buktikan pada semua orang bahwa kita adalah orang yang kuat.

Jumat, 29 Maret 2013

Filosofi Yang Bertentangan

Saya adalah seorang javanis sejati. Saya lahir dan besar di Jawa. Tepatnya saya dilahirkan di daerah Banyumas Jawa Tengah. Sejak kecil saya sudah diajari folosofi dan nilai luhur orang-orang jawa atau lebih tepatnya Jawa Tengah. Salah satu filosofi orang Jawa Tengah yang paling terkenal adalah “Alon-alon Asal Kelakon”.

Kalau dalam bahasa Indonesia artinya adalah pelan-pelan yang penting terwujud. Pelan-pelan yang penting keturutan. Atau yang mengartikan pelan-pelan yang penting sampai. Itu sebenernya adalah filosofi yang cukup bijak. Filosofi tersebut mengajarkan kepada kita bahwa untuk mengejar mimpi itu tidak harus berlari. Dengan berjalanpun tidak apa-apa yang penting terwujud. Sekilas filosofi tersebut memang terlihat sangat pragmatis. Karena lebih mementingkan hasil akhir dari pada kecepatan prosesnya.

Kalo saya pribadi sebenernya kurang cocok dengan filosofi tersebut. Karena saya orangnya cukup ambisius. Saya akan bekerja secepat mungkin. Filosofi alon-alon asal kelakon buat saya itu adalah filosofinya orang malas. Selama 21 tahun saya hidup di Jawa saya tidak pernah menerapkan filosofi leluhur saya tersebut.

Akhirnya pada usia ke-22 saya memutuskan untuk hijrah ke Sumatra. Saya banyak belajar dari orang-orang Sumatra termasuk filosofinya. Ternyata ada yang unik di sini. Ada salah satu filosofi orang Sumatera atau lebih tepatnya Sumatera Selatan, yang bertentangan dengan filosofinya orang Jawa. Walaupun bertentangan dengan filosofinya leluhur saya tapi saya malah suka. Filosofi orang jawa adalah alon-alon asal kelakon. Sedangkan filosofinya orang Sumatera adalah ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus. Filosofi tersebut buat saya cukup bagus. Walaupun tidak sepragmatis alon-alon asal kelakon. Terlihat jelas bahwa filosofi ikan sepat ikan gabus itu menggambarkan orang yang optimis dan ambisius. Mungkin sangat cocok dengan karakter saya.

Rabu, 20 Maret 2013

Kalian Semua adalah Guru

Ada beberapa teman yang mencoba bertanya kepada saya. Kenapa kamu memilih jalan hidup menjadi guru? Bukankah masih banyak profesi lain selain guru?
Lalu dengan bangganya sayapun menjawab "Sebenarnya saya tidak pernah memilih menjadi guru, tetapi memang saya dilahirkan menjadi seorang guru".
Mungkin itu jawaban yang tidak masuk akal dan terdengar sangat lebay. Tetapi bagi yang mau berfikir, itu adalah jawaban yang normal-normal saja.

Karena kita semua memang terlahir menjadi seorang guru. Dan makna "guru" itu sangat luas. Guru bukan cuma orang yang profesinya ngajar di dalam kelas sambil menuliskan materi di papan tulis. Tapi lebih dari itu. Semua orang yang mengajarkan sesuatu kepada orang lain bisa disebut guru. Tak peduli apakah yang diajarkanya itu adalah hal yang baik ataupun hal yang buruk.

Kenapa saya bisa berkata seperti itu? Karena Mak Lampir juga dipanggil guru oleh muridnya yang bernama Gerandong. Padahal yang diajarkan oleh Mak Lampir itu adalah kesesatan, angkara murka dan kebencian.

Tapi apakah kita mau menjadi guru ilmu hitam seperti Mak Lampir? Sebaiknya jangan. Kalau mau jadi guru ya jadilah guru yang baik dan ajarkan hanya yang baik-baik. Insya Allah semua itu akan bernilai ibadah.

Mengutip ucapan teman saya yang bernama Miftakhul Firdauz, "Kalau kita sudah siap menjadi guru berarti kita harus siap belajar". Belajar apa saja dan pada siapa saja. Semua orang adalah guru dan semua hal adalah sumber belajar. Dan kita kalau mau belajar juga tidak perlu repot-repot mencari guru kesana kemari. Karena orang yang siap belajar itu pasti akan menemukan guru di mana saja.

Kuntilanak bisa jadi adalah seorang guru. Karena dia sudah mengajarkan pada kita, bahwa sesulit apapun hidup dan seberat apapun masalah kita harus tetap tertawa menghadapinya. Tidak perlu sedih apa lagi menangis. Kata WS Rendra hidup itu bukan untuk mengeluh dan mengaduh. Tapi hidup adalah untuk mengolah hidup.

Tuyul bisa jadi adalah seorang guru. Karena dia sudah mengajarkan pada kita bahwa hidup mandiri itu tidak mengenal usia. Kita harus bisa hidup mandiri sejak dini. Sepertinya yang sudah dicontohkan oleh tuyul, kecil-kecil sudah bisa cari uang sendiri.

Pocong bisa jadi adalah seorang guru. Dia dari dulu pakainya cuma itu-itu saja. Berarti dia sudah mengajarkan tentang kesederhanaan hidup pada kita. Apapun yang kita punya harus tetap disyukuri. Tidak perlu hidup bermewah-mewahan dan menghabur-hamburkan uang hanya untuk sesuatu yang tidak penting.

Dan Genderuwo juga bisa jadi adalah seorang guru. Karena walaupun wujudnya sangat jelek bahkan adalah paling jelek diantara super hero lainya, tetapi dia tetap bangga dan percaya diri. Berarti dia sudah mengajarkan pada kita tentang pentingnya kepercayaan diri dalam hidup. Manusia tidak ada yang sempurna, semua punya kekurangan. Tetapi kekurangan tersebut tidak boleh menjadikan kita minder dan tidak percaya diri. Percayalah pad