Sabtu, 30 Maret 2013

Hidup Tak Selurus Mistar (Perjuangan Guru di Desa Terpencil)

Hujan besar selalu datang setiap hari. Di satu sisi mungkin ini adalah sebuah anugerah, namun di sisi yang lain hal ini bisa menjadi sebuah musibah. Kira-kira begitulah yang sedang dirasakan para warga Desa Mayapati, Kecamatan Pemulutan Selatan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Desa yang mereka tempati memang tergolong desa terpencil dan jauh dari kota. Akses untuk menuju ke sanapun sangat sulit, apa lagi kalau musim hujan begini.

Benar-benar membutuhkan perjuangan ekstra. Kebetulan saya adalah salah satu guru yang mengajar di desa tersebut. Sehingga saya tahu betul betapa sulitnya untuk menuju ke sana.
Kondisi geografis di Desa Mayapati memang sebagian besar adalah wilayah perairan air tawar, yang meliputi sungai dan rawa. Rumah para penduduk di sanapun berbentuk panggung dan berdiri kokoh di tengah rawa. Banjir adalah pemandangan yang sudah tidak asing lagi bagi para warga di sana. Mereka sudah tidak kaget dengan situasi seperti itu. Yang kaget justru saya. Maklum saya baru 2 tahun bertuas di Desa Mayapati. Dan tahun ini merupakan tahun terekstrim bagi saya. Bagaimana tidak? Dalam kondisi normal, saya membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai di desa tersebut dari Kota Palembang. Sedangkan kalau dalam kondisi seperti sekarang, untuk bisa sampai ke sana saya membutuhkan waktu 3 jam. Jalanan yang rusak parah adalah penyebabnya.

Jalan menuju ke sana sebagian besar masih tanah merah. Sehingga kalau musim hujan begini, jalan menuju ke sana berubah menjadi seperti sirkuit off road. Benar-benar becek, licin dan berlumpur. Sepeda motor saya yang tadinya bersih dan mengkilat, setelah melewati jalan itu pasti berubah menjadi seperti traktor. Berangkat dari rumah saya selalu menggunakan sepatu bot. Itu cukup mempermudah saya ketika melewati jalan yang becek dan berlumpur.

Tetapi walaupun begitu bukan berarti saya selalu sukses ketika melewati jalan becek dan berlumpur. Saya malahan sering sekali jatuh dan terpeleset. Itulah resikonya mengajar di desa terpencil. Dan seberat apapun itu, saya mencoba untuk tetap mensyukurinya. Karena mengeluh juga tidak ada gunanya. Toh di balik semuanya itu ada banyak sekali hikmah yang saya peroleh. Saya menjadi sadar bahwa hidup itu tak selurus mistar. Saya harus ikhlas menjalaninya supaya bisa tegar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentarnya ya sobat? Kritik dan saran dari sobat semuanya akan sangat bermanfaat bagi penulis.