Sabtu, 30 Maret 2013

Mendewakan PTK Sama Saja Mendewakan Kebohongan

Sampai sekarang saya masih heran. Zaman sudah sedemikian majunya tapi kok masih saja banyak orang dan para guru yang mendewakan PTK atau Penelitian Tindakan Kelas.

Padahal jenis penelitian ini kan sudah ditemukan sejak puluhan tahun yang lalu. PTK atau yang bahasa Inggrisnya adalah Clasroom Action Research ini memang sekarang sedang digandrungi oleh para guru. Karena PTK menjadi syarat mutlak untuk kenaikan pangkat golongan dari IVA ke IVB.

Membicarakan soal PTK, jadi teringat dosen saya dulu ketika masih kuliah. Namanya adalah Dr.H.Y.Padmono, M.Pd. Beliau adalah seorang doctor spesialis ilmu penelitian. Jadi soal penelitian, beliaulah pakarnya. Dan saya punya catatan menarik tentang beliau. Dulu sewaktu masih kuliah, Pak Pad pernah mengharamkan yang namanya PTK kepada para mahasiswanya. Jadi bagi para mahasiswa yang ingin menjadikan beliau sebagai dosen pembimbing skripsi, jangan berani-berani membuat skripsi bergenre PTK. Karena beliau ini memang sangat anti sekali dengan yang namanya PTK. Dimata beliau PTK tak ubahnya seperti sekumpulan sampah.

Kenapa bisa begitu? Alasanya sangat logis. Karena PTK sudah mendidik mahasiswa untuk berbuat bohong. Dan mahasiswa yang notabenya adalah calon guru sangat tak pantas berlaku bohong seperti itu. Kata beliau, seorang peneliti itu boleh salah asal jangan bohong. Seorang peneliti harus mempunyai sikap ilmiah. Jujur adalah satu contoh sikap ilmiah. Dan beliau juga mengungkapkan bahwa peneliti itu berbeda dengan guru. Kalau peneliti boleh salah asal jangan bohong. Tetapi kalu guru tidak boleh salah dan juga tidak boleh bohong. Guru kalau mengajarkan pada murid 4×4=17 itu fatal sekali akibatnya.
Lalu adakah hubungan antara PTK dengan kebohongan? Jelas ada. Para mahasiswa ataupun guru rata-rata beranggapan bahwa yang namanya PTK itu harus berhasil. Padahal faktanya tidak begitu. PTK boleh saja gagal, tetapi para mahasiswa ataupun guru sering merasa malu kalau PTK yang dia lakukan gagal. Sehingga mereka mau tidak mau harus memanipulasi data hasil penelitian supaya PTKnya bisa disebut berhasil. Contohnya: ada seorang guru yang ingin meningkatkan hasil belajar matematika di kelas 6 SD tentang materi bangun ruang menggunakan metode Quantum Teaching.

Tapi setelah diadakan tindakan kelas, ternyata hasil belajar siswa itu tidak naik. Berarti PTKnya gagal. Untuk menutupi kegagalan tersebut agar terlihat berhasil. Sang guru memanipulasi data. Nilai-nilai siswa dinaikan semua sehingga terlihat ada kenaikan dan PTKnyapun bisa disebut berhasil. Disinilah letak kebohongan yang pertama.

Kemudian selain kebohongan yang pertama ternyata masih ada lagi kebohongan yang kedua. Contohnya adalah jika kasus yang sudah saya jelaskan di atas sebelumnya ternyata berhasil. Hasil belajar matematika di kelas 6 materi bangun ruang ternyata meningkat setelah diadakan tindakan kelas. Dan gurupun mengatakan dalam laporan penelitianya bahwa metode Quantum Teaching bisa meningkatkan hasil belajar matematika. Pertanyaan saya adalah apakah benar hasil belajar matematika di kelas 6 meningkat karena siswa diajar menggunakan metode Quantum Teaching?

Jawabanya adalah belum tentu. Karena masih ada variabel lain yang ikut berpengaruh. Variabel lain itu contohnya adalah guru itu sendiri. Jadi hasil belajar matematika di kelas 6 meningkat itu bisa saja karena gurunya yang mengajar berwajah tampan atau cantik. Siswa kalau diajar sama guru yang tampan atau cantik pasti akan semangat sekali belajarnya. Jika semangat belajarnya tinggi otomatis hasil belajarnyapun akan ikut tinggi atau naik. Dan jika guru masih tetap keras kepala tanpa memperhatikan variabel lain, berarti guru sudah melakukan kehobongan. Guru yang nekat mengatakan hasil belajar matematika siswa kelas 6 naik karena metode Quantum Teaching adalah guru pembohong. Hasil belajar matematika meningkat karena gurunya kok dibilang karena metode Quantum Teaching. Disitulah letak kebohongan yang kedua.

Perlu kita semua renungkan bahwa PTK itu tidak harus berhasil. Karena yang diutamakan dalam PTK bukan cuma hasilnya melainkan prosesnya juga. Dan jenis peneletian juga bukan cuma PTK, tetapi masih banyak jenis penelitian yang lain. Semoga saja pemerintah yang diwakili oleh kemendiknas, LPMP, dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten dan instansi-instansi lainya mau segera membuka mata mengenai masalah ini. Jangan membatasi guru hanya untuk belajar PTK. Buatlah aturan baru, misal guru harus membuat penelitian bergenre kuantitatif kalau mau naik pangkat dari IVA ke IVB. Ini semua bertujuan agar para guru tidak lagi mendewakan kebohongan.

13627156641275377226

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentarnya ya sobat? Kritik dan saran dari sobat semuanya akan sangat bermanfaat bagi penulis.