Sabtu, 30 Maret 2013

Dulu Sayapun Sering Dihina oleh Para Guru GTT

Sebelumnya saya mau minta maaf, jika ada para pembaca yang merasa risih atau tidak suka dengan judul tulisan saya ini. Tidak ada tendesi apapun, saya cuma sekedar berbagi cerita yang pernah saya alami.

Pengalaman ini saya alami ketika masih duduk di bangku kuliah. Status saya pada waktu itu adalah mahasiswa semester 7. Saya adalah alumni D2 PGSD FKIP UNS Kampus VI Kebumen Angkatan 2009. Setelah lulus D2, saya memutuskan untuk langsung transfer ke S1 di tempat yang sama yaitu di FKIP UNS Kampus VI Kebumen. Saya tidak punya niatan untuk mengabdi menjadi guru GTT (Guru Tidak Tetap). Walaupun sebenarnya saya bisa saja kuliah sambil GTT. Karena perkuliahan di S1 transfer adalah sore hari mulai pukul 14.00 sampai pukul 17.00. Saya mengambil jalan ini karena ingin fokus kuliah dan tidak mau terbebani dengan segala urusan yang ada di SD.

Setelah perkuliahan berjalan saya baru tersadar. Ternyata keputusan saya yang tidak mau menjadi guru GTT justru membuat kuliah semakin sulit. Karena tugas-tugas perkuliahan di S1 khususnya semester 7 itu banyak yang mewajibkan para mahasiswa untuk terjun langsung ke SD. Para dosen sering sekali memberikan tugas tentang makalah dan laporan penelitian di SD. Bagi teman-teman saya yang lain ini bukanlah suatu masalah. Karena mereka rata-rata kuliah sambil GTT. Jadi mereka tidak perlu bingung ketika ada tugas-tugas seperti itu.

Tapi bagi saya ini adalah sebuah kesulitan. Dan hal inilah yang membuat teman-teman kuliah saya yang juga merangkap menjadi guru GTT selalu menghina saya. Mereka menertarwakan saya karena saya tidak punya SD. Mereka menertawakan saya karena saya kebingungan membuat makalah dan mencari SD untuk tempat penelitian. Mereka menghina saya karena saya cuma seorang mahasiswa dan tidak punya pengalaman menjadi guru SD. Sayapun tidak bisa bicara banyak ketika teman-teman saya presentasi di kelas. Saya tidak mengajar. Saya tidak bisa menceritakan pengalaman saya sewaktu mengajar di SD.

“Kamu gak punya SD yah?”

“Kamu bukan guru !!!”

Sampai sekarang kata-kata itu masih membekas di hati saya. Mendengarkan cacian seperti itu saya cuma diam saja. Saya tetap berpositif thinking, mungkin mereka cuma bercanda. Walaupun sebenarnya harga diri saya berontak. Dan saya cuma berkata dalam hati “Suatu saat pasti saya akan menjadi guru dan punya SD”.

Ini juga adalah salah saya sendiri. Setelah saya lulus D2 PGSD pada tahun 2009, sebenarnya ada Seleksi CPNS untuk jalur umum. Saya mengikutinya tapi saya gagal. Sehingga kesempatan emas untuk menjadi guru terbuang sia-sia. Tapi alhamdulilah setahun berikutnya yaitu pada tahun 2010 Seleksi CPNS jalur umum kembali dibuka. Saya yang pada waktu itu masih berstatus sebagai mahasiswa semester 7 program S1 PGSD mengukitnya dengan sangat antusias. Saya mendaftar di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Dan alhamdulilah saya lulus. Perasaan saya pada waktu itu senang sekali. Akhirnya bisa menebus kegagalan tes cpns di tahun 2009.

Dan satu hal yang ingin sekali saya lakukan pada waktu itu adalah membalas ejekan dan hinaan teman-teman mahasiswa atau para guru GTT yang selalu menghina saya. Kebetulan mereka gagal di tes CPNS tahun 2010. Tapi alhamdulilah saya masih bisa berfikir dengan akal sehat. Sehingga saya tetap berusaha untuk rendah hati ketika teman-teman yang suka menghina saya memberikan ucapan selamat kepada saya.

“Rahman selamat yah? Kamu sih enak diterima CPNS. Bisa gajian tiap bulan. Tidak seperti nasibku sebagai guru GTT yang seperti kerja rodi tanpa dibayar.”
Itulah kata temanku yang sebelumnya selalu menghinaku.

Dan sayapun menjawab “Ya sabar yah teman? Saya doakan semoga kamu juga bisa menyusul secepatnya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentarnya ya sobat? Kritik dan saran dari sobat semuanya akan sangat bermanfaat bagi penulis.