Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Maret 2013

Aku Tak Mampu Membaca Matanya

Pagi itu adalah pertemuan kami berdua.

Di dalam sebuah acara seminar di kampus tempatku kuliah.

Aku bertemu dengan seorang gadis yang benar-benar cantik.

Badanya tinggi, langsing, rambutnya hitam lurus dan kulitnya putih.

Saat aku sedang duduk di kursi peserta seminar bagian paling depan, tiba-tiba dia mengampiriku.

Lalu dia menyapaku dan mengajaku berkenalan.

Nama gadis cantik itu adalah Mawar.

Dia meminta nomer hape dan alamat rumahku.

Lalu setelah aku kasih nomer hape dan alamat rumahku, dia langsung bergegas pergi.

Perasaanku pada saat itu biasa-biasa saja.

Hingga ada salah satu teman yang mengirim sms padaku.

“Cie kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nih?”

Begitulah bunyi sms yang aku dapat dari temenku.

Akupun langsung membalasnya

“Maksudnya apa bro?”

Dia menjawab
“Ya tadi yang nyamperin kamu itu adalah salah satu penggemarmu bro?”

Aku masih bingung dengan sms temanku itu. Dan akupun langsung segera membalas untuk meminta penjelasan.

“Pengemar apaan bro? Emangnya artis punya penggemar.”

“Ya gadis yang bernama Mawar tadi itu adalah penggemar kamu bro. Dia anak kedokteran. Dia sudah lama mengamati kamu. Dia itu teman SMAku. Dia sering curhat sama aku. Katanya sekarang dia lagi naksir sama kamu.”

Aku tetap saja bingung setelah mendapatkan penjelasan temanku.

Aku gak percaya. Mana mungkin ada gadis cantik anak kedokteran yang suka padaku.

Padahal tampangku kan biasa-biasa saja.

Lagiyan tadi saat aku sedang ngobrol dan menatap matanya, kayaknya gak ada deh tanda-tanda kalau dia naksir sama aku.

Atau jangan-jangan aku yang tak mampu membaca matanya?

Kelapa di Tengah Malam

Waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari, namun aku belum juga memejamkan mata. Padahal istri dan anaku sudah terjaga di tempat tidurnya.

Aku masih harus bergelut dengan dinginnya malam. Buah kelapa ini harus aku kupas kulitnya satu persatu. Ini memang pekerjaan rutinku. Kalau tidak begini mungkin anak dan istriku tidak bisa makan.

Yaech aku adalah seorang penjual kelapa. Jam-jam segini aku masih sibuk mengupas kulit kelapa sampai selesai. Entah kapan selesainya, tapi kalo bisa secepatnya. Karena pukul 03.00 tepat aku harus bergegas ke pasar untuk menjual kelapa-kelapaku ini.

Dinginya angin malam adalah sahabat setiaku. Tak lupa aku juga sesekali menyeruput kopi hitam manis buatan istriku. Yah itung-itung sebagai penawar ngantuk. Suara brisik jangkrik di semak belukar juga ikut meramaikan malamku mengupas kulit kelapa.

Beginilah nasibku. Nasib seorang penjual kelapa. Walau berat memang, tapi harus tetap bersyukur. Di luar sana masih banyak orang-orang yang nasibnya tidak lebih beruntung dari pada aku. Semua ini kulakukan demi anak dan istriku.