Saya adalah alumni D2 dan S1 PGSD FKIP UNS KAMPUS VI KEBUMEN. Saya
lulus D2 tahun 2009 dan kemudian langsung melanjutkan atau transfer ke
S1 pada tahun itu juga. Dan akhirnya pada bulan Juli tahun 2011 saya
dinyatakan lulus S1. Sebagai seorang alumni saya selalu mengamati
perkembangan kampus dan juga para mahasiswanya.
Saya cukup kaget melihat kualitas adik-adik kelas yang sekarang. Saya sering mendapat masukan dari teman-teman guru yang sekolahnya dijadikan sebagai tempat praktek mahasiswa PGSD. Kata mereka kualitas mengajar mahasiswa S1 PGSD jaman sekarang tidak lebih baik dari mahasiswa D2 jaman dulu. Dengan sistem perkuliahan yang sekarang, membuat mereka selalu dijejali dengan banyak materi dan teori namun kesempatan untuk melakukan praktek sangat minim. Sehingga kalau mereka disuruh praktek di lapangan, akan kelihatan sangat kacau dan amburadul.
Melihat keaadan yang demikian tentu saya sebagai seorang alumni tidak akan diam saja. Saya pingin adik-adik saya yang sekarang bisa menjadi produk lulusan PGSD yang lebih baik dan berkualitas. Saya mencoba memberikan kritik terhadap mereka melalui sebuah grup yang ada di Facebook. Grup tersebut namanya HIMA PGSD FKIP UNS KAMPUS VI KEBUMEN. Grup tersebut memang awalnya terbuka untuk umum. Siapa saja diberi kesempatan untuk masuk ke grup tersebut.
Dan di grup tersebut semua berhak melakukan apa saja. Termasuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan kegiatan kampus, seperti: promosi jualan pulsa, promosi jualan blangkon, membuat postingan alay, dan sebagainya. Yeach cukup memprihatinkan memang. Tapi yang paling membuat saya bersedih adalah mind set mereka yang tidak open minded terhadap kritik. Terutama mahasiswa-mahasiswa yang punya jabatan di kepengurusan HIMA. Saat saya mencoba memberikan kritikan terbuka dan membangun ternyata mereka menyikapinya dengan serampangan. Mereka malah menganggap saya sedang membuat kekacauan di grup. Dan akhirnya saya pun dikeluarkan dari grup tersebut. Padahal saya memberikan kritikan bukan untuk mengacaukan grup. Tetapi saya pingin memberikan pembelajaran kepada mereka agar mereka bisa merubah sikap dan bisa menjadi lebih baik lagi. Di situ saya bicara fakta dan realita. Orang yang pingin maju dan berkembang harusnya bisa open minded terhadap kritik. Bukanya malah berfikir picik dan serampangan. Apapun kritikan yang diberikan kepada kita, harusnya kita bisa menerimanya dengan hati terbuka. Apa lagi kalau niat dari si pengkritik itu baik dan tulus. Walaupun bentuk kritikanya agak sedikit menusuk hati. Tapi apapun itu bukankah kita tidak boleh menilai segala sesuatu dari artifisialnya saja? Kita harus menilai secara maknawi.
“Guru yang tidak tahan kritik boleh dimasukan ke dalam tong sampah. Tidak ada manusia yang sempurna. Guru bukanlah dewa yang selamanya benar. Dan murid juga bukan kerbau.”
¤Soe Hok Gie¤
Saya cukup kaget melihat kualitas adik-adik kelas yang sekarang. Saya sering mendapat masukan dari teman-teman guru yang sekolahnya dijadikan sebagai tempat praktek mahasiswa PGSD. Kata mereka kualitas mengajar mahasiswa S1 PGSD jaman sekarang tidak lebih baik dari mahasiswa D2 jaman dulu. Dengan sistem perkuliahan yang sekarang, membuat mereka selalu dijejali dengan banyak materi dan teori namun kesempatan untuk melakukan praktek sangat minim. Sehingga kalau mereka disuruh praktek di lapangan, akan kelihatan sangat kacau dan amburadul.
Melihat keaadan yang demikian tentu saya sebagai seorang alumni tidak akan diam saja. Saya pingin adik-adik saya yang sekarang bisa menjadi produk lulusan PGSD yang lebih baik dan berkualitas. Saya mencoba memberikan kritik terhadap mereka melalui sebuah grup yang ada di Facebook. Grup tersebut namanya HIMA PGSD FKIP UNS KAMPUS VI KEBUMEN. Grup tersebut memang awalnya terbuka untuk umum. Siapa saja diberi kesempatan untuk masuk ke grup tersebut.
Dan di grup tersebut semua berhak melakukan apa saja. Termasuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan kegiatan kampus, seperti: promosi jualan pulsa, promosi jualan blangkon, membuat postingan alay, dan sebagainya. Yeach cukup memprihatinkan memang. Tapi yang paling membuat saya bersedih adalah mind set mereka yang tidak open minded terhadap kritik. Terutama mahasiswa-mahasiswa yang punya jabatan di kepengurusan HIMA. Saat saya mencoba memberikan kritikan terbuka dan membangun ternyata mereka menyikapinya dengan serampangan. Mereka malah menganggap saya sedang membuat kekacauan di grup. Dan akhirnya saya pun dikeluarkan dari grup tersebut. Padahal saya memberikan kritikan bukan untuk mengacaukan grup. Tetapi saya pingin memberikan pembelajaran kepada mereka agar mereka bisa merubah sikap dan bisa menjadi lebih baik lagi. Di situ saya bicara fakta dan realita. Orang yang pingin maju dan berkembang harusnya bisa open minded terhadap kritik. Bukanya malah berfikir picik dan serampangan. Apapun kritikan yang diberikan kepada kita, harusnya kita bisa menerimanya dengan hati terbuka. Apa lagi kalau niat dari si pengkritik itu baik dan tulus. Walaupun bentuk kritikanya agak sedikit menusuk hati. Tapi apapun itu bukankah kita tidak boleh menilai segala sesuatu dari artifisialnya saja? Kita harus menilai secara maknawi.
“Guru yang tidak tahan kritik boleh dimasukan ke dalam tong sampah. Tidak ada manusia yang sempurna. Guru bukanlah dewa yang selamanya benar. Dan murid juga bukan kerbau.”
¤Soe Hok Gie¤
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tuliskan komentarnya ya sobat? Kritik dan saran dari sobat semuanya akan sangat bermanfaat bagi penulis.