Aku masih sedikit kesal. Hesti sama sekali tidak merespon telepon dan sms yang sudah aku kirimkan.
Sempat aku berfikir, aku cuma dipermainkan oleh Erik. Tapi tidak, Erik adalah sahabatku. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Dia tidak mungkin mempermainkanku seperti itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 13.30. Aku belum melaksanakan sholat duhur. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Mushola di dekat kantor tempatku bekerja. Dan ternyata di sana sudah ada Pak Fandi. Sepertinya Pak Fandi baru saja selesai melaksanakan sholat duhur. Dan dia terlihat sedang asyik bercengkerama dengan seseorang lewat telepon. Aku segera menghampirinya dan menyapa beliau.
“Pak….”
Sapaku
“Iya….”
Jawab Pak Fandi.
Aku duduk disebelahnya sambil melepaskan sepatu dan kaos kakiku.
Selesai melepaskan sepatu dan kaos kaki, aku tidak langsung menuju tempat wudlu. Aku sempatkan dulu mengambil HP yang ada di kantong celanaku. Sambil mengecek siapa tahu ada sms balasan dari Hesti. Tapi hasilnya tetep saja nihil.
Kuamati di sebelahku, ternyata Pak Fandi masih asyik mengobrol di telepon. Tanpa disengaja akhirnya aku juga ikut menyimak obrolan Pak Fandi di telepon.
“Jadi kapan rencananya kamu pulang ke Bandung?”
“Iyalah, Aku sudah kangen banget sama kamu Bu Dokter.?”
“Hahahahaha Hesti Hesti, sibuk kuliah terus kapan menikahnya?”
Hah….?????¿¿¿¿
Jatungku seperti langsung berhenti seketika setelah mendengarkan obrolan Pak Fandi di telepon.
Ternyata orang yang dari tadi ngobrol sama Pak Fandi di telepon adalah Hesti.
Aku benar-benar terkejut dan shok. Ternyata Hesti lebih memilih mengobrol dengan Pak Fandi di telepon dari pada membalas SMSku. Masih dalam kondisi shok akhirnya aku memutuskan untuk mengambil air wudlu dan segera melaksanakan sholat duhur.
Sholatku benar-benar tidak khusyu karena terus kepikiran obrolan Pak Fandi dengan Hesti di telepon tadi. Selesai sholat duhur aku langsung menuju pos satpam. Dan di sana aku ceritakan semuanya kepada Erik.
“Rik tadi waktu aku di mushola, aku bertemu dengan Pak Fandi. Di mushola tadi Pak Fandi telpon-telponan dengan seseorang. Setelah aku simak obrolanya, ternyata orang yang ngobrol di telepon dengan Pak Fandi itu adalah Hesti. Orang yang dari tadi tidak mau membalas SMSku.”
“Hah ? Yang bener Rif?”
Jawab Erik sedikit tidak percaya.
“Beneran rik. Aku dengar tadi di telepon, Pak Fandi menanyakan kapan kamu akan pulang kepada Hesti. Dia juga mengatakan, katanya dia kangen sama Hesti. Sebenernya ada hubungan apa sih Rik antara Pak Fandi dengan Hesti?”
“Wah aku juga gak nyangka rif. Setau saya, dulu memang Pak Fandi pernah pacaran sama Hesti. Tapi sudah lama putus kok. Mereka putus sebelum Hesti memutuskan pergi ke Inggris.”
Jawab Erik sambil berusaha menjelaskan kepadaku.
“Serius Rik? Kalau sudah putus kenapa mereka masih berhubungan? Apa mungkin mereka berdua masih saling mencintai? Kamu tau gak Rik apa yang menyebabkan mereka putus?”
“Kalau yang itu aku juga gak tau rif. Tapi kalau penyebab mereka putus aku tau Rif. Ibunya Hesti gak merestui hubungan mereka berdua. Ibunya Hesti sudah tau kalau Pak Fandi itu sudah dijodohkan sama orang tuanya. Dan orang yang jidohkan dengan Pak Fandi itu adalah anak dari temenya Ibunya Hesti rif.”
Perasaanku semakin tak menentu setelah mendengarkan penjelasan-penjelasan dari Erik. Ternyata Hesti lebih memilih ngobrol dengan Pak Fandi di telepon dari pada membalas SMSku. Aku semakin tidak percaya dengan Hesti yang katanya kangen padaku.
Sempat aku berfikir, aku cuma dipermainkan oleh Erik. Tapi tidak, Erik adalah sahabatku. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Dia tidak mungkin mempermainkanku seperti itu.
Waktu sudah menunjukan pukul 13.30. Aku belum melaksanakan sholat duhur. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Mushola di dekat kantor tempatku bekerja. Dan ternyata di sana sudah ada Pak Fandi. Sepertinya Pak Fandi baru saja selesai melaksanakan sholat duhur. Dan dia terlihat sedang asyik bercengkerama dengan seseorang lewat telepon. Aku segera menghampirinya dan menyapa beliau.
“Pak….”
Sapaku
“Iya….”
Jawab Pak Fandi.
Aku duduk disebelahnya sambil melepaskan sepatu dan kaos kakiku.
Selesai melepaskan sepatu dan kaos kaki, aku tidak langsung menuju tempat wudlu. Aku sempatkan dulu mengambil HP yang ada di kantong celanaku. Sambil mengecek siapa tahu ada sms balasan dari Hesti. Tapi hasilnya tetep saja nihil.
Kuamati di sebelahku, ternyata Pak Fandi masih asyik mengobrol di telepon. Tanpa disengaja akhirnya aku juga ikut menyimak obrolan Pak Fandi di telepon.
“Jadi kapan rencananya kamu pulang ke Bandung?”
“Iyalah, Aku sudah kangen banget sama kamu Bu Dokter.?”
“Hahahahaha Hesti Hesti, sibuk kuliah terus kapan menikahnya?”
Hah….?????¿¿¿¿
Jatungku seperti langsung berhenti seketika setelah mendengarkan obrolan Pak Fandi di telepon.
Ternyata orang yang dari tadi ngobrol sama Pak Fandi di telepon adalah Hesti.
Aku benar-benar terkejut dan shok. Ternyata Hesti lebih memilih mengobrol dengan Pak Fandi di telepon dari pada membalas SMSku. Masih dalam kondisi shok akhirnya aku memutuskan untuk mengambil air wudlu dan segera melaksanakan sholat duhur.
Sholatku benar-benar tidak khusyu karena terus kepikiran obrolan Pak Fandi dengan Hesti di telepon tadi. Selesai sholat duhur aku langsung menuju pos satpam. Dan di sana aku ceritakan semuanya kepada Erik.
“Rik tadi waktu aku di mushola, aku bertemu dengan Pak Fandi. Di mushola tadi Pak Fandi telpon-telponan dengan seseorang. Setelah aku simak obrolanya, ternyata orang yang ngobrol di telepon dengan Pak Fandi itu adalah Hesti. Orang yang dari tadi tidak mau membalas SMSku.”
“Hah ? Yang bener Rif?”
Jawab Erik sedikit tidak percaya.
“Beneran rik. Aku dengar tadi di telepon, Pak Fandi menanyakan kapan kamu akan pulang kepada Hesti. Dia juga mengatakan, katanya dia kangen sama Hesti. Sebenernya ada hubungan apa sih Rik antara Pak Fandi dengan Hesti?”
“Wah aku juga gak nyangka rif. Setau saya, dulu memang Pak Fandi pernah pacaran sama Hesti. Tapi sudah lama putus kok. Mereka putus sebelum Hesti memutuskan pergi ke Inggris.”
Jawab Erik sambil berusaha menjelaskan kepadaku.
“Serius Rik? Kalau sudah putus kenapa mereka masih berhubungan? Apa mungkin mereka berdua masih saling mencintai? Kamu tau gak Rik apa yang menyebabkan mereka putus?”
“Kalau yang itu aku juga gak tau rif. Tapi kalau penyebab mereka putus aku tau Rif. Ibunya Hesti gak merestui hubungan mereka berdua. Ibunya Hesti sudah tau kalau Pak Fandi itu sudah dijodohkan sama orang tuanya. Dan orang yang jidohkan dengan Pak Fandi itu adalah anak dari temenya Ibunya Hesti rif.”
Perasaanku semakin tak menentu setelah mendengarkan penjelasan-penjelasan dari Erik. Ternyata Hesti lebih memilih ngobrol dengan Pak Fandi di telepon dari pada membalas SMSku. Aku semakin tidak percaya dengan Hesti yang katanya kangen padaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tuliskan komentarnya ya sobat? Kritik dan saran dari sobat semuanya akan sangat bermanfaat bagi penulis.