Jumat, 29 Maret 2013

Menantang Hidup

Bila kau sudah tak yakin dengan langkah yang kau tempuh

Berhentilah sejenak sebelum kau benar-benar rapuh

Tetap berdiri dan kepalkan tangan

Aku yakin kau mampu terus bertahan

Rintangan selalu menghadang

Dan perjalananpun masih sangatlah panjang

Tidak ada gunanya kita mengeluh kawan

Seberat apapun hidup dan sebesar apapun masalah

Kita tetaplah lebih hebat dari keduanya

Hidup memang penuh dengan ketidakpastian

Tapi ia selalu menghadirkan banyak kemungkinan

Raihlah tanganku kawan

Aku selalu berdiri untukmu

Kemenangan hanya soal waktu

Ambilah semangatku agar kau mampu terus melaju

Teruslah berteriak

Sampai langit merasa muak

Jaket Lusuh Pemberian Kakak Perempuanku

Hari masih sangatlah gelap. Maklum Azan subuh baru saja berkumandang sekitar 10 menit yang lalu. Sepeda ontel yang kuparkir di samping rumah sudah siap menemaniku menaklukan dinginya udara pagi.

Aku seorang penjual koran. Pekerjaan memaksaku untuk selalu bangun lebih pagi dari yang lain. Aku harus secepatnya melesat sebelum ayam-ayam berkokok. Aku segera keluar dari rumah sambil menutup pintu. Aku sudah siap menaiki sepeda ontel kesayanganku. Tapi tiba-tiba ada suara perempuan memanggilku. Dan ternyata dia adalah kakak perempuanku. Lalu akupun segera menghampirinya.

“Ada apa memanggilku kak?”
Tanyaku pada kakak perempuanku.

“Ini de, udara di luar kan sangat dingin. Jadi kamu pakailah jaket ini. Ini jaket kakak dulu waktu masih SMA. Sudah sedikit lusuh memang. Tapi lumayan koq bisa sedikit melindungi tubuhmu dari dinginnya udara pagi.”
Jawab kakaku sambil memberi penjelasan.

“Oh iya makasih kak. Sini langsung aku pakai jaketnya.”

Setelah jaket kupakai, aku langsung mengayuh sepeda ontelku. Aku langsung menuju ke kota. Dari rumahku menuju ke kota membutuhkan waktu sekitar satu jam. Kota memang tempat favoritku menjual koran. Di sana banyak sekali kantor-kantor instansi. Dan di sana pegawainya banyak sekali yang berlangganan koranku.

Udara pagi benar-benar dingin. Wajar saja karena sekarang adalah musim kemarau. Dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh kakak perempuanku. Jaket lusuh ini cukup menghangatkan tubuhku dan terbukti ampuh melindungi diriku dari dinginnya udara pagi.

Melawan Angin

Kau yang merasa tak berdaya di tengah samudra kehidupan

Berdirilah dan kuatkan dirimu dengan senyuman

Semuanya harus kau lawan

Agar kau tak terperangkap dalam ketidakpastian

Berkah kehidupan ini sangat melimpah

Tak semestinya kau cepat menyerah

Tanggalkan rasa takut dan jalani hidup

Dan kuyakin sinarmu takkan meredup

Dengarkan bisikan jiwamu

Dan jujurlah pada hatimu

Hidup adalah sebuah perjalanan

Perjalanan yang penuh tantangan dan tekanan

Perjalananmu mungkin takkan tenang

Bagai melawan angin yang semakin kencang

Masa depan ini milikmu

Jika kau percaya pada impian dan kekuatanmu

Katanya Kangen (04)

Waktu terus berjalan, hingga tak terasa sekarang sudah bulan Desember. Sudah 6 bulan aku tidak bertemu dengan Hesti. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sangat merindukanya. Benih-benih cinta tumbuh subur justru saat aku sudah tidak bisa lagi bertatap muka denganya.

Rindu ini tersimpan rapih di hatiku. Dan sampai kapanpun akan tetap kusimpan. Ya siapa tahu suatu saat dia akan menanyakanya padaku. Rindu ini benar-benar keras. Sudah berulang kali kucoba untuk menghancurkanya, namun aku tak sanggup. Jadi aku biarkan saja rindu ini tersimpan utuh di hatiku.

Menyesal dan kecewa, itulah perasaanku saat ini. Menyesal karena aku tak pernah sadar bahwa Hesti sebenarnya sudah menyukaiku dari dulu. Dan kecewa karena dia tidak pernah membalas sms dan mengangkat teleponku selama ini.

Aku bingung harus berbuat apa lagi. Aku pingin sekali memperjuangkan cintaku, namun seolah-olah jalan tidak pernah memberiku kesempatan untuk. Jadi yang bisa kulakukan saat ini cuma pasrah terhadap keadaan.

Namun aku sadar. Bumi terus berputar. Aku tidak boleh berlarut-larut di dalam kesedihan ini. Aku harus bisa move on. Kalau jodoh tidak akan kemana, begitulah nasehat para orang tua.

****

Minggu pagi. Hari ini kantor tempatku bekerja tutup. Dan kebetulan hari ini juga bukan jadwalku jaga kantor. Aku akan memanfaatkan waktu libur yang singkat ini.

Dan jalan-jalan ke Pantai Pengandaran adalah ide yang cukup cemerlang. Aku tidak akan ke sana sendirian. Sudah pasti aku akan ditemani oleh sahabat setiaku Erik Setyo Wahyudi.

Tok….tok….tok

“Assalamualaikum”

“Walaikumsalam. Eh kamu rif, ayo sini masuk. Aku mau mandi dulu”.

“Eleh eleh eleh dari tadi ngapain aja kamu rik? Sudah siang begini baru mandi. Ayo cepetan, kalau sudah siang panas banget di pantai.”

“Hehehehehehe tenang mas bro. Mandiku cepet koq gak pake lama.”

***

Dah siap? Ayo kita cabut. Aku dan Erik segera meluncur ke Pengandaran.
Wah nikmati sekali ini. Pagi-pagi gini menikmati udara segar dan pemandangan indah pantai. Aku dan Erik duduk di sebuah perahu nelayan yang tergeletak di tepi pantai.

“Rik kamu tau gak kenapa kamu aku ajak ke sini?”
Tanyaku kepada Erik

“Meneketehe…., yang penting jangan nyuruh aku untuk berenang ke tengah laut aja. Hahahahahaha”
Jawab Erik sambil sedikit bercanda.

“Hahahahaha ketahuan kamu gak bisa berenang yah? Gini Rik. Aku mengajak kamu ke sini karena ini adalah tempat favoritnya Hesti. Dulu dia pernah mengatakan padaku bahwa dia paling seneng kalau jalan-jalan ke Pantai Pengandaran.”

“Wah kayaknya ada yang sedang kangen setengah mati ini. Tapi tenang saja rif. Aku baru denger kabar katanya Si Hesti akhir bulan ini akan pulang. Ini kan bulan Desember. Mungkin saja dia pingin menikmati libur akhir taun di Bandung.”

“Wah kata siapa kamu rik?
Jawabku sedikit penasaran

“Ya kata Pak Boss lah”
Jawab Erik berusaha meyakinkan

“Ya syukurlah Rik kalau begitu. Aku sudah kangen banget sama dia. Kalau ketemu dia, aku pingin sekali menanyakan kejelasan perasaanya padaku.”

Katanya Kangen (03)

Aku masih sedikit kesal. Hesti sama sekali tidak merespon telepon dan sms yang sudah aku kirimkan.
Sempat aku berfikir, aku cuma dipermainkan oleh Erik. Tapi tidak, Erik adalah sahabatku. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Dia tidak mungkin mempermainkanku seperti itu.

Waktu sudah menunjukan pukul 13.30. Aku belum melaksanakan sholat duhur. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Mushola di dekat kantor tempatku bekerja. Dan ternyata di sana sudah ada Pak Fandi. Sepertinya Pak Fandi baru saja selesai melaksanakan sholat duhur. Dan dia terlihat sedang asyik bercengkerama dengan seseorang lewat telepon. Aku segera menghampirinya dan menyapa beliau.

“Pak….”
Sapaku

“Iya….”
Jawab Pak Fandi.

Aku duduk disebelahnya sambil melepaskan sepatu dan kaos kakiku.

Selesai melepaskan sepatu dan kaos kaki, aku tidak langsung menuju tempat wudlu. Aku sempatkan dulu mengambil HP yang ada di kantong celanaku. Sambil mengecek siapa tahu ada sms balasan dari Hesti. Tapi hasilnya tetep saja nihil.

Kuamati di sebelahku, ternyata Pak Fandi masih asyik mengobrol di telepon. Tanpa disengaja akhirnya aku juga ikut menyimak obrolan Pak Fandi di telepon.

“Jadi kapan rencananya kamu pulang ke Bandung?”

“Iyalah, Aku sudah kangen banget sama kamu Bu Dokter.?”

“Hahahahaha Hesti Hesti, sibuk kuliah terus kapan menikahnya?”

Hah….?????¿¿¿¿

Jatungku seperti langsung berhenti seketika setelah mendengarkan obrolan Pak Fandi di telepon.
Ternyata orang yang dari tadi ngobrol sama Pak Fandi di telepon adalah Hesti.

Aku benar-benar terkejut dan shok. Ternyata Hesti lebih memilih mengobrol dengan Pak Fandi di telepon dari pada membalas SMSku. Masih dalam kondisi shok akhirnya aku memutuskan untuk mengambil air wudlu dan segera melaksanakan sholat duhur.

Sholatku benar-benar tidak khusyu karena terus kepikiran obrolan Pak Fandi dengan Hesti di telepon tadi. Selesai sholat duhur aku langsung menuju pos satpam. Dan di sana aku ceritakan semuanya kepada Erik.

“Rik tadi waktu aku di mushola, aku bertemu dengan Pak Fandi. Di mushola tadi Pak Fandi telpon-telponan dengan seseorang. Setelah aku simak obrolanya, ternyata orang yang ngobrol di telepon dengan Pak Fandi itu adalah Hesti. Orang yang dari tadi tidak mau membalas SMSku.”

“Hah ? Yang bener Rif?”
Jawab Erik sedikit tidak percaya.

“Beneran rik. Aku dengar tadi di telepon, Pak Fandi menanyakan kapan kamu akan pulang kepada Hesti. Dia juga mengatakan, katanya dia kangen sama Hesti. Sebenernya ada hubungan apa sih Rik antara Pak Fandi dengan Hesti?”

“Wah aku juga gak nyangka rif. Setau saya, dulu memang Pak Fandi pernah pacaran sama Hesti. Tapi sudah lama putus kok. Mereka putus sebelum Hesti memutuskan pergi ke Inggris.”
Jawab Erik sambil berusaha menjelaskan kepadaku.

“Serius Rik? Kalau sudah putus kenapa mereka masih berhubungan? Apa mungkin mereka berdua masih saling mencintai? Kamu tau gak Rik apa yang menyebabkan mereka putus?”

“Kalau yang itu aku juga gak tau rif. Tapi kalau penyebab mereka putus aku tau Rif. Ibunya Hesti gak merestui hubungan mereka berdua. Ibunya Hesti sudah tau kalau Pak Fandi itu sudah dijodohkan sama orang tuanya. Dan orang yang jidohkan dengan Pak Fandi itu adalah anak dari temenya Ibunya Hesti rif.”

Perasaanku semakin tak menentu setelah mendengarkan penjelasan-penjelasan dari Erik. Ternyata Hesti lebih memilih ngobrol dengan Pak Fandi di telepon dari pada membalas SMSku. Aku semakin tidak percaya dengan Hesti yang katanya kangen padaku.

Katanya Kangen (02)

“Oh iyalah rik, kalau memang begitu besok akan ku SMS dia. Kalo sekarang takutnya ngganggu. Jam segini mungkin di Inggris masih sore.”

“Ya ela masa cuma sms? Telpon dong. Hahahahaha”

“Mahal woy, secara ke luar negeri gitu loh”

“Namanya juga cinta rif. Butuh perjuangan.”

“Iya iya. Ya udah aku tidur dulu yah? Dah ngantuk ini.”

“Oke bro. Met istirahat yah? Sampai ketemu lagi besok pagi.”

“Sipp. Ya udah, Assalamualaikum”

“Walaikumsalam”

Setelah obrolan selesai, telpon kututup. Kutaruh HP di meja dekat kasur dan langsung deh terbang melayang menuju alam mimpi.

¤Keesokan Harinya Di Tempat Kerja¤

Saat sedang duduk di kantor satpam tiba-tiba aku dipanggil oleh seseorang.

“Syarif….”

“Saya pak” jawabku

“Ke sini, saya mau minta tolong”

“Siap pak”

Yang memanggilku ternyata adalah Pak Fandi. Dia masih muda, umurnya baru 26 tahun atau lebih tua 2 tahun dari aku. Dia salah satau pegawai di perusahaan ini. Dia bertugas di bagian keuangan.
Ternyata dia mau minta tolong foto copykan sesuatu kepadaku.

“Syarif minta tolong foto copykan ini ya? 5 rangkap, ini uangnya.”
Ucapnya sambil menyodorkan beberapa lembar kertas dan uang 20rb kepadaku.

“Siap pak”
Jawabku sambil bergegas ke luar untuk menuju tempat foto copy.

Setelah selesai memfoto copy. Aku kembali ke kantor dan segera menyerahkan hasil foto copyan tadi kepada Pak Fandi.

Tok…tok…tok

“Masuk”

Ucap pak fandi

Lalu akupun masuk dan menyerahkan hasil foto copyanya ke Pak Fandi.

“Oke, terima kasih ya rif”

“Sama-sama pak”

Aku segera keluar dan menuju pos satpam. Di sana sudah ada Erik dan Pak Junaedi yang sedang berjaga.

“Disuruh ngapain tadi rif”
Tanya Erik kepadaku

“Itu Pak Fandi minta tolong foto copy kan sesuatu”

“Ohh…”

Aku menengok ke jam dinding. Ternyata waktu sudah menunjukan puku 11.00 siang. Lalu aku mengambil HP yang ada di saku celana dan mencoba SMS Hesti.”

“Assalamualaikum. Met siang Bu Dokter. Gimana kbarnya”
Begitulah bunyi SMS yang aku kirim kepada Hesti

Sudah 20menit berlalu, tapi tetep Hesti belum membalas SMSku. Lalu akupun mencoba untuk menelponya. 3 kali aku menelpon dia, dan hasilnya nihil. Dia tidak mengangkat telpon dariku.
Lalu akupun menuju ke luar, menghampiri Erik yang sedang berdiri di dekat pintu gerbang.

“Rik tadi aku sudah SMS Hesti, tapi dia tidak membalas. Dan kucoba telpon tapi tidak diangkat.”
“Ya sabar lah rif. Mungkin di sana dia lagi sibuk. Tunggu ajalah”

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Dan sekarang sudah menunjukan pukul 13.00 WIB.

“Rik, gimana ini Hesti? Katanya kangen dan pingin ketemu. Tapi diSMS gak bales, ditelpon gak diangkat. Apa mungkin dia sudah tidak kangen lagi yah?"

“Hahahahaha wah gak taulah rif. Coba ditunggu saja sampai nanti malam.”

“Sampai malam apa? Katanya kangen. Mungkin cuma kangen sesaat aja dia. Gak mungkinlah dia gak bales SMSku dan angkat telponku kalau memang dia benar-benar kangen. Biasanya kalau orang dapat SMS dari seseorang yang dirindukanya kan perasaanya seneng banget. Lah ini koq malah gak ada respon sama sekali. Aku jadi bingung sama dia. Sebenernya maunya apa sih?”

Katanya Kangen (01)

Waktu sudah menunjukan pukul 21.00 WIB. Ragaku sudah lelah dan mataku sudah tak bersahabat. Akhirnya kuputusan untuk menuju kamar tidur. Setelah sampai di kamar tidur aku dikagetkan oleh HPku yang berbunyi. Aku ambil HP dan kubuka. Ternyata ada SMS dari Erik. Erik adalah teman kerjaku. Kami berdua adalah satpam di salah satu perusahaan otomotif terkenal di kota Bandung.

“Syarif minta nomernya Hesti dong”
Begitulah bunyi sms yang kudapat dari Erik.

Langsung kubalas, “Untuk apa kamu minta nomernya Hesti?”

Diapun menjawab “Bukan untuk apa-apa rif, aku cuma pingin tau aja”

Tanpa pikir panjang langsung deh aku kirim kontaknya Hesti ke Erik lewat sms.

Selang beberapa menit Erik langsung menelponku. Dan kami berduapun ngobrol di telepon.

“Rif kamu pernah gak SMS’an atau telpon-telponan sama Hesti?”

“Gak pernah. Emangnya kenapa?”

“Masa gak pernah? Payah sekali sih kamu. Sudah tau nomernya kok malah disia-siakan.”

“Aku gak beranilah rik. Dia akan anak bos. Aku cuma satpam. Kalau orang tuanya tau, bisa dipecat aku."

“Wah wah wah cemen banget sih kamu rif. Rif tau gak? Sebenernya si Hesti itu suka sama kamu.”

“Haduh ngarang banget deh kamu. Suka dari Hongkong apa? Dia itu dokter, anak bos lagi. Sedangkangkan aku ini cuma satpam. Tampang dan gaji sama-sama pas-pasan. Jadi gak mungkinlah dia suka sama aku. Lagiyan aku juga tau diri kok”.

“Hemm dibilangin gak percaya. Dia sendiri yang ngomong ke aku rif. Aku sering BBM’an sama dia. Dia itu benar-benar suka sama kamu. Katanya dia kangen banget sama kamu & pingin ketemu. Kamu itu memang satpam, tapi wajahmu lumayan tampan rif. Badanmu juga kekar. Kamu mirip sama artis Primus Yustisio. Jadi wajar saja kalo si Hesti suka sama kamu”

“Hah masa sih? Aku tetep gak percaya deh rik. Ini pasti cuma akal-akalan kamu supaya aku mau ngedeketin Hesti kan?”

“Huh dibilangin koq susah banget kamu sih rif. Kamu masih ingat gak? Sebulan yang lalu ketika si Hesti pamitan sama kita. Dia itu pamit mau ke Inggris. Dia mau melanjutkan study S2 ilmu kedokteranya di sana. Aku lihat jelas raut mukanya si Hesti pada waktu itu. Waktu bersalaman dengan kamu, dia terlihat sedih sekali dan kayak mau nangis gitu.”

“Ya ela itu sih udah biasa kali. Yang namanya orang mau pergi jauh meninggalkan keluarga ya pasti sedihlah.”

“Iya rif. Tapi yang bikin si Hesti sedih itu kamu. Dia sedih karena berpisah denganmu. Tadi pagi dia BBM’an ma aku. Dia nitip salam untukmu. Katanya dia kangen banget & pingin ketemu sama kamu.”

¤Bersambung¤

Tangisan Sang Striker

Kemarin adalah pertandingan maha penting buatku. Aku melawan mantan tim yang pernah kubela. Tim yang sudah membesarkanku menjadi salah satu striker terbaik di Indonesia. Dialah PSCS Cilacap.

Sebelum hijrah ke PSIS Semarang, aku memang pernah bermain untuk PSCS Cilacap selama 7 musim. Aku datang ke sana dalam kondisi kosong. Kemudian 7 tahun digembleng, akhirnya aku menjadi salah satu striker top Indonesia. PSCS sudah seperti rumah buatku. Di sana aku mempunyai banyak teman dan saudara. Di sanalah skill sepak bolaku diasah. Dari mulai tidak bisa apa-apa sampai menjadi striker paling ditakuti di Indonesia seperti sekarang. Skill dan visi bermainku yang cukup menawan ternyata mampu membuat klub besar sekaliber PSIS Semarang kepincut. Tepat akhir musim kemarin, aku resmi di boyong ke stadion Jati Diri Semarang untuk memperkuat PSIS. PSCS benar-benar membekas di hatiku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakan PSCS. Hatiku akan tetap berada di sana walaupun ragaku di PSIS.

Dan kemarin sore adalah sebuah pertandingan yang paling tidak saya sukai. PSIS Semarang bertemu dengan PSCS Cilacap di Gelora Bung Karno Jakarta dalam laga Bigmatch yang bertajuk “Final Copa Indonesia”.

Di satu sisi aku merasa senang karena bisa bernostalgia dengan teman-teman lamaku. Namun di sisi yang lain aku merasa sedih karena satu diantara kita akan ada yang tersakiti.

Dan apa yang aku khawatirkan ternyata menjadi kenyataan. Setelah bermain 0:0 di babak pertama, PSIS langsung tancap gas di babak kedua. Dan PSIS pun berhasil unggul tepat di menit ke-70 melalui gol yang aku cetak sendiri. Perasaanku pada saat itu benar-benar tidak karuan. Senang bercampur sedih. Sempat teman-teman satu timku mengajaku berselebrasi, namun aku menolaknya. Aku lebih memilih diam untuk menghormati mantan tim yang sudah membesarkan namaku.

Menit ke-93 atau masa injured time adalah puncaknya. Aku mencetak gol yang kedua untuk memperbesar keunggulan menjadi 2:0. Selang beberapa detik setelah aku mencetak gol, peluit panjang dibunyikan sebagai tanda berakhirnya pertandingan. Semua pendukung PSIS riuh bergembira menyambut kemenangan berharga ini. Para pemain dan oficial tim berlari ke tengah lapangan untuk berselebrasi dan merayakan kemenangan ini. Mereka semua benar-benar bergembira, namun itu tidak terjadi padaku. Hatiku benar-benar hancur lebur setelah mencetak 2 gol. Teman-temanku memaksaku untuk melakukan selebrasi. Namun aku tetap menolaknya. Aku berjalan ke pinggir lapangan untuk menemui pelatih PSCS. Aku bersimpuh di kaki sang pelatih lalu kemudian menangis merengek-rengek seperti anak kecil. Tangisanku adalah tangisan penderitaan dan kekecewaan.

Aku tidak pernah menyangka, kenapa aku bisa sekejam itu. Aku tahu betul visi dan misi PSCS Cilacap. Mereka belum pernah mendaptkan satu gelarpun, namun mereka selalu menargetkan gelar juara di setiap musimnya. Dan kemarin adalah salah satu peluang terbaik yang mereka miliki untuk mewujudkan mimpi. Namun mimpi besar mereka yang sudah di depan mata terpaksa dihancur leburkan oleh seorang penghianat seperti aku ini. Semua pemain dan pendukung PSCS Cilacap pasti sangat marah kepadaku. Aku tak ubahnya seorang penghianat yang tak tau balas budi.

Aku terus menangis tanpa henti meratapi kesalahan besar yang sudah aku lakukan. Aku mencoba untuk meminta maaf kepada pelatih, pemain dan pendukung PSCS. Namun itu semua justru membuat tangisanku semakin keras. Sampai pada saat ceremony pemberian pialapun aku masih tetap menangis. Aku segera turun dari podium kemudian keluar lapangan sambil membuang medali yang kudapatkan ke tong sampah.

Aku tidak pantas berbahagia dan menari-nari di atas penderitaan saudara-saudaraku.
Maafkan aku saudaraku, aku tak bermaksud mengancurkan mimpi kalian.

¤Tamat¤

Aku Tak Mampu Membaca Matanya

Pagi itu adalah pertemuan kami berdua.

Di dalam sebuah acara seminar di kampus tempatku kuliah.

Aku bertemu dengan seorang gadis yang benar-benar cantik.

Badanya tinggi, langsing, rambutnya hitam lurus dan kulitnya putih.

Saat aku sedang duduk di kursi peserta seminar bagian paling depan, tiba-tiba dia mengampiriku.

Lalu dia menyapaku dan mengajaku berkenalan.

Nama gadis cantik itu adalah Mawar.

Dia meminta nomer hape dan alamat rumahku.

Lalu setelah aku kasih nomer hape dan alamat rumahku, dia langsung bergegas pergi.

Perasaanku pada saat itu biasa-biasa saja.

Hingga ada salah satu teman yang mengirim sms padaku.

“Cie kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nih?”

Begitulah bunyi sms yang aku dapat dari temenku.

Akupun langsung membalasnya

“Maksudnya apa bro?”

Dia menjawab
“Ya tadi yang nyamperin kamu itu adalah salah satu penggemarmu bro?”

Aku masih bingung dengan sms temanku itu. Dan akupun langsung segera membalas untuk meminta penjelasan.

“Pengemar apaan bro? Emangnya artis punya penggemar.”

“Ya gadis yang bernama Mawar tadi itu adalah penggemar kamu bro. Dia anak kedokteran. Dia sudah lama mengamati kamu. Dia itu teman SMAku. Dia sering curhat sama aku. Katanya sekarang dia lagi naksir sama kamu.”

Aku tetap saja bingung setelah mendapatkan penjelasan temanku.

Aku gak percaya. Mana mungkin ada gadis cantik anak kedokteran yang suka padaku.

Padahal tampangku kan biasa-biasa saja.

Lagiyan tadi saat aku sedang ngobrol dan menatap matanya, kayaknya gak ada deh tanda-tanda kalau dia naksir sama aku.

Atau jangan-jangan aku yang tak mampu membaca matanya?

Pacarku Seorang Gadis Panggilan (Chapter 2)

Saat mobil fortuner warna hitam itu sudah memasuki area hotel, aku mencoba untuk menelpon Lusi kembali. Namun kali ini hapenya dinonaktifkan.

Hatiku sebenarnya masih diselimuti tanda tanya besar. Lusi menolak ajakanku untuk jalan-jalan dengan alasan mau mengerjakan tugas kuliah di rumah temanya. Dan yang sebenarnya terjadi, malah dia pergi berduaan dengan pria lain. Bahkan pakai acara masuk ke dalam hotel segala.
Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah.

***

Keesokan harinya aku mencoba menelpon Lusi Kembali.

“Assalamualaikum. Pagi sayang.”

“Walaikumsalam. Pagi juga sayang. Wah sudah bangun yah? Hehehehehe”

“Hahaha ya sudah dong. Ini malah sudah wangi. Sayang gimana? Tugas kuliahnya sudah selesai belum?”

“Alhamdulilah sudah selesai sayang. Kenapa? Mau aku temenin jalan-jalan hari ini apa?”

“Oh syukurlah kalau sudah selesai. Iya ini sayang dari kemarin aku pingin banget jalan-jalan. Kamu bisa nemenin kan?”

“Iya bisa sayang. Ya udah kamu langsung ke rumah aja yah? Jemput aku.”

“Oke sayang. Aku siap meluncur ke situ. Sampai ketemu lagi nanti yah? Assalamualaikum”

“Walaikumsalam”

**

Dan akupun langsung meluncur ke rumah Lusi. Aku ajak Lusi jalan-jalan naik motor keliling kota Palembang. Akhirnya sampailah kita berdua di depan sebuah hotel.

“Sayang kenapa berhenti di sini?”

“Enggak kenapa-napa sayang. Aku cuma pingin melihat hotel ini saja. Hotelnya bagus yah? Megah banget. Pasti yang menginap di sini adalah orang-orang besar.

“Eee…. Iyalah sayang. Novotel kan merupakan salah satu hotel terbaik di kota Palembang. Yang menginap di situ rata-rata pejabat dan pengusaha.”

“Kamu pernah menginap di situ gak sayang?”

“Hah ??? Maksudnya apa sayang? Koq nanyanya gitu?”

“Gak ada maksud apa-apa sayang. Aku cuma pingin tanya saja. Soalnya tadi malam aku melihat ada cewe mirip banget kamu, masuk ke dalam hotel itu bersama seorang pria.”

“Hah??? E e e e iya mungkin kebetulan dia mirip sama aku sayang.”

“Udah deh sayang. Aku gak mau kita berdua ribut hanya karena sesuatu yang belum jelas. Sekarang jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi sejelas-jelasnya. Asal kamu tau sayang, tadi malam aku pergi ke Palembang Square untuk mencari sepatu. Dan di sana aku melihat kamu berduaan bergandengan tangan dengan seorang pria. Aku berusaha menelponmu tapi kamu tidak pernah mengangkat. Lalu aku ikuti kalian berdua. Dan ternyata kalian berdua masuk ke dalam hotel ini.
COBA SEKARANG JELASKAN, NGAPAIN AJA KAMU DI DALEM BERSAMA PRIA ITU !!!!!
BUKANKAH TADI MALAM KAMU SEHARUSNYA MENGERJAKAN TUGAS KULIAH DI RUMAH TEMEN KAMU !!!!!
AYO NGOMONG JANGAN DIAM AJA !!!!
APA PERLU AKU MASUK KE DALAM HOTEL ITU DAN MENANYAKANYA KEPADA PETUGAS HOTEL HAH !!!!!
AYO JAWAB !!!!!

” I ya a a sayang aku akan jelaskan yang sebenarnya. Tapi kamu jangan marah yah?. Iya aku memang tadi malam diboking oleh pria itu untuk menemaninya tidur.”

“APAH !!! TEGA KAMU YAH LUSI MEMBOHONGI AKU KAYAK GITU !!! KENAPA KAMU MELAKUKAN SEMUANYA ITU !!! DIMANA OTAK DAN HARGA DIRI KAMU !!!”

“Sayang maafkan aku yah? Aku tak bermaksud membohongimu. Asal kamu tau sayang, aku melakukan semuanya itu bukan tanpa alasan. Aku melakukanya karena aku butuh uang untuk biaya kuliah dan untuk menyekolahkan adiku. Kamu tau kan ayahku sudah meninggal. dan ibuku lumpuh. Aku harus menanggung biaya hidup mereka semua. Kamu harus paham itu !!!!!”