Sampai sekarang saya masih heran. Zaman sudah sedemikian majunya tapi
kok masih saja banyak orang dan para guru yang mendewakan PTK atau
Penelitian Tindakan Kelas.
Padahal jenis penelitian ini kan sudah ditemukan sejak puluhan tahun
yang lalu. PTK atau yang bahasa Inggrisnya adalah Clasroom Action
Research ini memang sekarang sedang digandrungi oleh para guru. Karena
PTK menjadi syarat mutlak untuk kenaikan pangkat golongan dari IVA ke
IVB.
Membicarakan soal PTK, jadi teringat dosen saya dulu ketika masih
kuliah. Namanya adalah Dr.H.Y.Padmono, M.Pd. Beliau adalah seorang
doctor spesialis ilmu penelitian. Jadi soal penelitian, beliaulah
pakarnya. Dan saya punya catatan menarik tentang beliau. Dulu sewaktu
masih kuliah, Pak Pad pernah mengharamkan yang namanya PTK kepada para
mahasiswanya. Jadi bagi para mahasiswa yang ingin menjadikan beliau
sebagai dosen pembimbing skripsi, jangan berani-berani membuat skripsi
bergenre PTK. Karena beliau ini memang sangat anti sekali dengan yang
namanya PTK. Dimata beliau PTK tak ubahnya seperti sekumpulan sampah.
Kenapa bisa begitu? Alasanya sangat logis. Karena PTK sudah mendidik
mahasiswa untuk berbuat bohong. Dan mahasiswa yang notabenya adalah
calon guru sangat tak pantas berlaku bohong seperti itu. Kata beliau,
seorang peneliti itu boleh salah asal jangan bohong. Seorang peneliti
harus mempunyai sikap ilmiah. Jujur adalah satu contoh sikap ilmiah. Dan
beliau juga mengungkapkan bahwa peneliti itu berbeda dengan guru. Kalau
peneliti boleh salah asal jangan bohong. Tetapi kalu guru tidak boleh
salah dan juga tidak boleh bohong. Guru kalau mengajarkan pada murid
4×4=17 itu fatal sekali akibatnya.
Lalu adakah hubungan antara PTK dengan kebohongan? Jelas ada. Para
mahasiswa ataupun guru rata-rata beranggapan bahwa yang namanya PTK itu
harus berhasil. Padahal faktanya tidak begitu. PTK boleh saja gagal,
tetapi para mahasiswa ataupun guru sering merasa malu kalau PTK yang dia
lakukan gagal. Sehingga mereka mau tidak mau harus memanipulasi data
hasil penelitian supaya PTKnya bisa disebut berhasil. Contohnya: ada
seorang guru yang ingin meningkatkan hasil belajar matematika di kelas 6
SD tentang materi bangun ruang menggunakan metode Quantum Teaching.
Tapi setelah diadakan tindakan kelas, ternyata hasil belajar siswa itu
tidak naik. Berarti PTKnya gagal. Untuk menutupi kegagalan tersebut agar
terlihat berhasil. Sang guru memanipulasi data. Nilai-nilai siswa
dinaikan semua sehingga terlihat ada kenaikan dan PTKnyapun bisa disebut
berhasil. Disinilah letak kebohongan yang pertama.
Kemudian selain kebohongan yang pertama ternyata masih ada lagi
kebohongan yang kedua. Contohnya adalah jika kasus yang sudah saya
jelaskan di atas sebelumnya ternyata berhasil. Hasil belajar matematika
di kelas 6 materi bangun ruang ternyata meningkat setelah diadakan
tindakan kelas. Dan gurupun mengatakan dalam laporan penelitianya bahwa
metode Quantum Teaching bisa meningkatkan hasil belajar matematika.
Pertanyaan saya adalah apakah benar hasil belajar matematika di kelas 6
meningkat karena siswa diajar menggunakan metode Quantum Teaching?
Jawabanya adalah belum tentu. Karena masih ada variabel lain yang ikut
berpengaruh. Variabel lain itu contohnya adalah guru itu sendiri. Jadi
hasil belajar matematika di kelas 6 meningkat itu bisa saja karena
gurunya yang mengajar berwajah tampan atau cantik. Siswa kalau diajar
sama guru yang tampan atau cantik pasti akan semangat sekali belajarnya.
Jika semangat belajarnya tinggi otomatis hasil belajarnyapun akan ikut
tinggi atau naik. Dan jika guru masih tetap keras kepala tanpa
memperhatikan variabel lain, berarti guru sudah melakukan kehobongan.
Guru yang nekat mengatakan hasil belajar matematika siswa kelas 6 naik
karena metode Quantum Teaching adalah guru pembohong. Hasil belajar
matematika meningkat karena gurunya kok dibilang karena metode Quantum
Teaching. Disitulah letak kebohongan yang kedua.
Perlu kita semua renungkan bahwa PTK itu tidak harus berhasil. Karena
yang diutamakan dalam PTK bukan cuma hasilnya melainkan prosesnya juga.
Dan jenis peneletian juga bukan cuma PTK, tetapi masih banyak jenis
penelitian yang lain. Semoga saja pemerintah yang diwakili oleh
kemendiknas, LPMP, dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten
dan instansi-instansi lainya mau segera membuka mata mengenai masalah
ini. Jangan membatasi guru hanya untuk belajar PTK. Buatlah aturan baru,
misal guru harus membuat penelitian bergenre kuantitatif kalau mau naik
pangkat dari IVA ke IVB. Ini semua bertujuan agar para guru tidak lagi
mendewakan kebohongan.
