Sabtu, 30 Maret 2013

Air Mata Langit di Bumi Sriwijaya

Langit kali ini meneteskan air matanya di bumi sriwijaya
Bumi para penikmat senja
Apakah kisah rinduku ini sangat mengharukan
Sampai-sampai langitpun tak sanggup menahan derai air matanya

Air mata langit terus menetes
Mengiringi senjaku yang semakin temaram
Tak banyak yang bisa aku lakukan
Selain merenung menikmati aroma tetesan air mata langit

Aku sadar malam akan segera datang
Mencoba menutupi temaram senja yang mengharukan
Tapi aku tak rela jika langit dipaksa tersenyum
Hanya demi keindahan malam yang tegar ditinggalkan bulan

Malam tetaplah malam
Bagiku tetap indah tanpa kehadiran bintang bulan
Dan langit tetaplah langit
Bagiku tetap cerah walaupun air mata bercucuran

Mahkota Rindu Bertuliskan Namamu

Aku belum pernah sekuat ini menahan rindu

Rindu yang sengaja kusimpan untuk seseorang

Namun tak pernah kutahu seseorang tersebut sekarang ada di mana

Mungkin awan telah mengajaknya terbang ke atas sana

Atau jangan-jangan dia telah lenyap terhembus angin siang

Aku mencoba bertanya kabarnya kepada senja yang sedang duduk menemaniku di bawah singgasananya

Hai senja…..

Tahukah engkau di mana dia?

Ia dia, yang namanya selalu ada di dalam ingatanku…..

Ayolah senja jangan diam saja…..

Aku mohon beritahu di mana sekarang dia berada…..

Huuuh……

Senja tetap pada pendirianya

Dia cuma diam, diam dan diam

Terimakasih senja

Jika suatu saat kau bertemu denganya, aku mau menitip sebuah pesan

Katakan padanya, sebuah mahkota rindu bertuliskan namanya masih tersimpan rapih di dalam hatiku

Jika dia ingin mengenakannya, datanglah padaku dan bawa kepingan hatiku

Ketakutanku (Sajak Seorang Penakut Chapter 2)

Aku adalah manusia bukan dewa

Dalam diriku tumbuh subur benih-benih ketakutan yang menyeramkanku

Memberantas mereka tidak segampang membalikan telapak tangan

Aku membutuhkan bantuan nyali dan keberanian

Tapi dimanakah aku bisa bertemu dengan mereka?

Sementara aku bukanlah seorang kesatria

Jiwaku dipenuhi rasa takut atas hal-hal yang belum pernah terjadi

Bahkan tidak pernah benar-benar terjadi

Ketakutan benar-benar membuatku berhenti untuk sementara waktu

Sejenak kusadar, aku tak mungkin berhenti begitu saja di sini
 
Aku harus terus berjalan, berjalan, dan berlari

Aku pasti mampu menaklukanmu ketakutanku

Karena kamu cuma khayalan dan imajinasiku

Sajak Seorang Penakut

Mungkin aku telah berdusta dengan mengatakan bahwa aku adalah seorang kesatria sejati

Walaupun aku hanya menyatakan afirmasi itu kepada diriku sendiri

Sejatinya aku memang cuma seorang penakut

Yang selalu tumbang di setiap medan pertempuran

Mungkin aku selalu terluka, namun aku tidak mati

Sudah saatnya aku membangun sebuah tujuan yang ambisius, bukan sekedar angan-angan

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya

Aku percaya aku bisa

Karena aku lebih dari sekedar yang dapat kulihat

Aku adalah makhluk yang mempunyai jiwa dan semangat

Musuh besarku ada di dalam diriku sendiri

Aku harus memenangkan pertempuran ini

Dan aku harus berpura-pura melakukanya sampai aku benar-benar melakukanya

Tumbang Sebelum Berperang

Terpecah langit ketika aku berteriak

Awan hitam kembali menggumpal di atas telaga biru

Rumput, dedaunan, pohon dan binatang semuanya menertawakanku

Inilah yang dimaksud dengan tumbang sebelum berperang

Mimpiku tak lagi berarti

Karena terbentur tembok kokoh bernama setan

Malaikat tak berani mendekat

Akupun tak mampu melesat

Pedang yang kubawa

Semangat yang menggelora

Dan visi yang luar biasa

Semuanya sia-sia

Satu pergerakan langkah kaki sangat aku butuhkan

Mengingat perjalan masih sangatlah panjang

Mungkin aku akan letih dan tertatih

Tapi tak pantas untuk merintih

Langit masih biru

Matahari masih bersinar

Pertanda harapan yang belum tenggelam

Balada Seorang Guru

Aku tidak pernah memilih hidup di jalan seperti ini

Tapi aku percaya, rencana tuhan pasti lebih indah dari semua yang ada di bumi ini

Aku dilahirkan menjadi seorang pendidik dengan kepribadian yang cukup unik

Jelas ini membuatku bangga dan bersyukur

Tugasku tidaklah mudah

Karena guru tidak boleh salah

Mendidik anak bangsa

Mencetak insan cendekia

Nasib bangsaku ke depan ada di tanganku

Maju atau mundur, ini cuma soal waktu

Setiap guru adalah seniman, ia ahli melihat dan mengetahui di mana bidang yang jadi hasrat muridanya

Setiap murid punya keistimewaan, tugas guru untuk mengenalinya

Aku harus bisa menginspirasi muridku

Bukan cuma menyuruh membaca buku

Membunuh Sepi

Membunuh sepi dalam keheningan jiwa ini

 

Butuh syair dan balada para penghibur hati

 

Aku mewakili jiwa yang tersakiti

 

Tanpa lentera berjalan di lorong gelap malam ini

 

Hari mungkin akan digantikan pagi

 

Sosok bayangan hitam takkan pernah mengingkari

 

Kau yang menguatkan hati

 

Semakin menjauh dari diri ini

 

Langit akan terus menemani

 

Tangisan syahdu sang pencari arti

 

Hidup bukan cuma untuk saat ini

 

Teruslah melangkah menuju matahari pagi

Dulu Sayapun Sering Dihina oleh Para Guru GTT

Sebelumnya saya mau minta maaf, jika ada para pembaca yang merasa risih atau tidak suka dengan judul tulisan saya ini. Tidak ada tendesi apapun, saya cuma sekedar berbagi cerita yang pernah saya alami.

Pengalaman ini saya alami ketika masih duduk di bangku kuliah. Status saya pada waktu itu adalah mahasiswa semester 7. Saya adalah alumni D2 PGSD FKIP UNS Kampus VI Kebumen Angkatan 2009. Setelah lulus D2, saya memutuskan untuk langsung transfer ke S1 di tempat yang sama yaitu di FKIP UNS Kampus VI Kebumen. Saya tidak punya niatan untuk mengabdi menjadi guru GTT (Guru Tidak Tetap). Walaupun sebenarnya saya bisa saja kuliah sambil GTT. Karena perkuliahan di S1 transfer adalah sore hari mulai pukul 14.00 sampai pukul 17.00. Saya mengambil jalan ini karena ingin fokus kuliah dan tidak mau terbebani dengan segala urusan yang ada di SD.

Setelah perkuliahan berjalan saya baru tersadar. Ternyata keputusan saya yang tidak mau menjadi guru GTT justru membuat kuliah semakin sulit. Karena tugas-tugas perkuliahan di S1 khususnya semester 7 itu banyak yang mewajibkan para mahasiswa untuk terjun langsung ke SD. Para dosen sering sekali memberikan tugas tentang makalah dan laporan penelitian di SD. Bagi teman-teman saya yang lain ini bukanlah suatu masalah. Karena mereka rata-rata kuliah sambil GTT. Jadi mereka tidak perlu bingung ketika ada tugas-tugas seperti itu.

Tapi bagi saya ini adalah sebuah kesulitan. Dan hal inilah yang membuat teman-teman kuliah saya yang juga merangkap menjadi guru GTT selalu menghina saya. Mereka menertarwakan saya karena saya tidak punya SD. Mereka menertawakan saya karena saya kebingungan membuat makalah dan mencari SD untuk tempat penelitian. Mereka menghina saya karena saya cuma seorang mahasiswa dan tidak punya pengalaman menjadi guru SD. Sayapun tidak bisa bicara banyak ketika teman-teman saya presentasi di kelas. Saya tidak mengajar. Saya tidak bisa menceritakan pengalaman saya sewaktu mengajar di SD.

“Kamu gak punya SD yah?”

“Kamu bukan guru !!!”

Sampai sekarang kata-kata itu masih membekas di hati saya. Mendengarkan cacian seperti itu saya cuma diam saja. Saya tetap berpositif thinking, mungkin mereka cuma bercanda. Walaupun sebenarnya harga diri saya berontak. Dan saya cuma berkata dalam hati “Suatu saat pasti saya akan menjadi guru dan punya SD”.

Ini juga adalah salah saya sendiri. Setelah saya lulus D2 PGSD pada tahun 2009, sebenarnya ada Seleksi CPNS untuk jalur umum. Saya mengikutinya tapi saya gagal. Sehingga kesempatan emas untuk menjadi guru terbuang sia-sia. Tapi alhamdulilah setahun berikutnya yaitu pada tahun 2010 Seleksi CPNS jalur umum kembali dibuka. Saya yang pada waktu itu masih berstatus sebagai mahasiswa semester 7 program S1 PGSD mengukitnya dengan sangat antusias. Saya mendaftar di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Dan alhamdulilah saya lulus. Perasaan saya pada waktu itu senang sekali. Akhirnya bisa menebus kegagalan tes cpns di tahun 2009.

Dan satu hal yang ingin sekali saya lakukan pada waktu itu adalah membalas ejekan dan hinaan teman-teman mahasiswa atau para guru GTT yang selalu menghina saya. Kebetulan mereka gagal di tes CPNS tahun 2010. Tapi alhamdulilah saya masih bisa berfikir dengan akal sehat. Sehingga saya tetap berusaha untuk rendah hati ketika teman-teman yang suka menghina saya memberikan ucapan selamat kepada saya.

“Rahman selamat yah? Kamu sih enak diterima CPNS. Bisa gajian tiap bulan. Tidak seperti nasibku sebagai guru GTT yang seperti kerja rodi tanpa dibayar.”
Itulah kata temanku yang sebelumnya selalu menghinaku.

Dan sayapun menjawab “Ya sabar yah teman? Saya doakan semoga kamu juga bisa menyusul secepatnya.”

Mencoba Bijak

Mungkin aku merasa frustasi, ketika apa yang aku inginkan tak pernah menjadi nyata
Tapi tunggu dulu, hidup bukan sekedar harta dan tahta
Kata mereka kebahagiaan ada di dalam hati
Aku tak sepenuhnya percaya
Karena aku tak pernah benar-benar bahagia
Otakku benar-benar sudah termonopoli oleh jutaan mimpi level tertinggi
Mimpiku tanpa pergerakan, seperti menulis tanpa pena
Confuciuspun bersabda “Sebuah perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan langkah pertama”
Namun langkah pertama selalu terasa lebih berat dari langkah-langkah berikutnya

Dan aku harus bagaimana?
Berdiam diri di tempat ini
Atau mencoba melangkah melewati batu dan duri
Semua mengandung resiko kawan
Karena hidup adalah pertempuran
Ambilah satu pilihan
Jadikan itu sebagai batu pijakan
Diam mungkin akan membuatmu nyaman
Dan melangkah memberikanmu banyak kemungkinan
Mencoba bijak dalam berbagai situasi
Silahkan tanya pada hati nurani

Dialah Intan

Kembali merenung rasaku saat tak bersamamu
Malam sebagai saksinya, jiwaku kelabu
Aku tak mampu terus begini
Karena dua hati tercipta bukan untuk sendiri
Menjaga mimpi dan menahan rindu
Keduanya sangatlah menyiksaku

Aku akan berlari menjauhi bayanganmu
Sambil berharap kau tak akan mengejarku
Berat langkah membuatku lelah
Aku lelaki tak pantas menyerah
Maafkanku sudah menggoreskan luka
Luka perih yang sangat menyiksa

Nyanyian rindumu tak lagi kudengarkan
Warna mimpimu tak lagi kukenangkan
Dan aku sekarang sudah menemukan
Tempat dimana hatiku titipkan
Dialah Intan
Permata hatiku yang baru kutemukan