Sering sekali saya mendapatkan pertanyaan dari para sahabat tentang
masalah pernikahan. “Man kamu sudah nikah belum?”, “Man kapan kamu mau
nyebar undangan?”.
Itu adalah beberapa contoh pertanyaan tentang pernikahan yang sering diajukan oleh teman-teman kepada saya. Menanggapi pertanyaan seperti itu saya tetap santai. Itu karena memang saya belum kepikiran untuk menikah. Kalo dilihat dari berbagai variabel, bisa disimpulkan kalau saya memang belum siap untuk menikah.
Walaupun sejujurnya saya juga sering merenung soal pernikahan. Sebenarnya menikah itu enak apa tidak sih. Saya sering menanyakan hal itu kepada teman saya yang sudah menikah. Salah satu teman saya ada yang menjawab “Menikah itu enaknya tidak seberapa, tapi gurihnya itu loh”.
Saya cuma bisa tertawa saat mendengar jawaban seperti itu dari teman saya. Ya mungkin ada benarnya juga yang dikatakan oleh teman saya itu.
Karena masih penasaran soal pernikahan, sayapun berusaha mencari narasumber lain untuk dimintai keterangan. Cukup terkejut saya, karena ada jawaban dari narasumber yang cukup unik dan lain dari jawaban narasumber yang sebelumnya. Walaupun jawaban tersebut cukup menakutkan bagi saya.
“Kamu jangan cepet-cepet nikah man. Menikah itu cuma bikin kere. Mending kamu menikmati masa muda dulu. Urusan nikah itu belakangan”.
Lalu dengan cepat saya langsung mengajukan pertanyaan lanjutan kepada narasumber. “Kok bisa seperti itu? Kenapa menikah bisa menyebabkan kere?
Lalu narasumberpun menjawab “Menikah itu modalnya besar man. Setelah menikah kamu harus menghidupi istri kamu. Beban keuangan akan semakin bertambah jika kita sudah mempunyai anak”.
“Oh iya betul juga yah?” ucapku.
Jawaban dari narasumber terakhir ini sebenernya cukup membuat saya galau. Akhirnya pada suatu hari saya pergi menghadiri acara pernikahan saudara. Di acara pernikahan tersebut nampak seorang uztad sedang berdiri tegak di depan sambil menyampaikan tauziah soal pernikah.
Berikut ini adalah penggalan tauziah yang disampaikan oleh pak uztad:
Saudara-saudaraku yang belum nikah saya doakan semoga bisa cepet menikah. Jangan takut menjadi miskin hanya karena kamu sudah menikah. Orang yang sudah menikah itu rejekinya sudah dijamin oleh Allah SWT. Orang yang sudah menikah pasti rejekinya akan bertambah banyak. Tingkat kemakmuranya akan semakin meningkat. Tidak ada orang yang setelah menikah rejekinya menjadi berkurang dan hidupnya susah. Orang yang rejekinya berkurang dan hidupnya susah setelah menikah, berarti ada yang tidak beres dengan pernikahan orang tersebut.
Begitulah sekilas penggalan tauziah dari pak uztad soal pernikahan. Jawaban dari pak uztad tersebut cukup meneduhkan hati saya. Tetapi walaupun begitu sampai detik ini saya tetap belum mempunyai keberanian untuk menikah.
Itu adalah beberapa contoh pertanyaan tentang pernikahan yang sering diajukan oleh teman-teman kepada saya. Menanggapi pertanyaan seperti itu saya tetap santai. Itu karena memang saya belum kepikiran untuk menikah. Kalo dilihat dari berbagai variabel, bisa disimpulkan kalau saya memang belum siap untuk menikah.
Walaupun sejujurnya saya juga sering merenung soal pernikahan. Sebenarnya menikah itu enak apa tidak sih. Saya sering menanyakan hal itu kepada teman saya yang sudah menikah. Salah satu teman saya ada yang menjawab “Menikah itu enaknya tidak seberapa, tapi gurihnya itu loh”.
Saya cuma bisa tertawa saat mendengar jawaban seperti itu dari teman saya. Ya mungkin ada benarnya juga yang dikatakan oleh teman saya itu.
Karena masih penasaran soal pernikahan, sayapun berusaha mencari narasumber lain untuk dimintai keterangan. Cukup terkejut saya, karena ada jawaban dari narasumber yang cukup unik dan lain dari jawaban narasumber yang sebelumnya. Walaupun jawaban tersebut cukup menakutkan bagi saya.
“Kamu jangan cepet-cepet nikah man. Menikah itu cuma bikin kere. Mending kamu menikmati masa muda dulu. Urusan nikah itu belakangan”.
Lalu dengan cepat saya langsung mengajukan pertanyaan lanjutan kepada narasumber. “Kok bisa seperti itu? Kenapa menikah bisa menyebabkan kere?
Lalu narasumberpun menjawab “Menikah itu modalnya besar man. Setelah menikah kamu harus menghidupi istri kamu. Beban keuangan akan semakin bertambah jika kita sudah mempunyai anak”.
“Oh iya betul juga yah?” ucapku.
Jawaban dari narasumber terakhir ini sebenernya cukup membuat saya galau. Akhirnya pada suatu hari saya pergi menghadiri acara pernikahan saudara. Di acara pernikahan tersebut nampak seorang uztad sedang berdiri tegak di depan sambil menyampaikan tauziah soal pernikah.
Berikut ini adalah penggalan tauziah yang disampaikan oleh pak uztad:
Saudara-saudaraku yang belum nikah saya doakan semoga bisa cepet menikah. Jangan takut menjadi miskin hanya karena kamu sudah menikah. Orang yang sudah menikah itu rejekinya sudah dijamin oleh Allah SWT. Orang yang sudah menikah pasti rejekinya akan bertambah banyak. Tingkat kemakmuranya akan semakin meningkat. Tidak ada orang yang setelah menikah rejekinya menjadi berkurang dan hidupnya susah. Orang yang rejekinya berkurang dan hidupnya susah setelah menikah, berarti ada yang tidak beres dengan pernikahan orang tersebut.
Begitulah sekilas penggalan tauziah dari pak uztad soal pernikahan. Jawaban dari pak uztad tersebut cukup meneduhkan hati saya. Tetapi walaupun begitu sampai detik ini saya tetap belum mempunyai keberanian untuk menikah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tuliskan komentarnya ya sobat? Kritik dan saran dari sobat semuanya akan sangat bermanfaat bagi penulis.